Apapun Alasannya, Tidak Ada Pembenaran Untuk Berselingkuh



Semenjak mengenal Jakarta, bisa dibilang gue cukup dekat dengan yang namanya perselingkuhan dalam rumah tangga. Gue gak mau menyebut bahwa lingkungan kerja gue ‘mendukung’ perselingkuhan karena memang itu ulah oknum yang manfaatin seragam mereka aja, dan gue percaya apapun profesinya, kalau memang bajingan ya bajingan. Begitupun sebaliknya, kalau setia ya setia.
 Meski seringkali profesi pilot/pramugari disebut rentan berselingkuh, nyatanya gue masih banyak nemuin rekan kerja yang rumah tangganya adem ayem tanpa isu perselingkuhan sama sekali. Awalnya gue kira kebanyakan pilot yang memutuskan selingkuh dengan pramugari karena gak tahan godaan sama kecantikan Mbak-Mbak pramugari dalam balutan seragamnya. Ternyata? Enggak juga. Ada pilot yang gue tau banget muka istrinya kaya gimana, dan ternyata jauuuuh lebih cantik dari selingkuhannya.

‘Oh, mungkin karena jarang ketemu istrinya kali. Akhirnya cari pelarian ke pramugari deh.’
Maybe. Tapi harusnya itu bukan jadi pembenaran untuk berselingkuh dong? Karena dengan gaji pilot, (kalau mau) harusnya bisa bayarin tiket PP istri tercinta buat nyusulin mereka di kota tempat lay over-nya. Daripada uangnya buat ngangkangin perempuan lain, bukannya mending panggil istri buat nemenin? Lagipula kalau alasannya karena profesi pilot bikin jarang ketemu istri sehingga kebutuhan biologisnya tidak terpuaskan, harusnya semua pilot (termasuk suami gue) selingkuh dong ya?
Yah mungkin ada beberapa ‘peselingkuh’ yang menjadikan fisik istri atau jarang ketemu istri sebagai alasan untuk membenarkan aksi maksiatnya. Tapi apapun alasannya, selingkuh gak akan pernah menjadi suatu kebenaran apalagi kepantasan. Seringkali gue denger orang berkomentar, ‘ya pantes aja suaminya selingkuh, wong istrinya galak!’
Tabiat pasangan, seburuk apapun itu, tidak bisa diselesaikan dengan berselingkuh. Memangnya setelah kalian selingkuh, tabiat istri bisa berubah seketika? Syukur-syukur kalau si istri sadar dan mau berubah sikap. Kalau jadi sakit hati dan malah bacokin kalian gimana? Bukannya selesai, tapi malah nambah masalah lain kan?
Well, gue memang masih sangat awam dalam pernikahan. Gue baru menikah 3,5 tahun, rasanya gak pantas gue bicara panjang lebar mengenai kehidupan berumah tangga. Tapi sebagai seorang istri dan juga seorang ibu dari anak perempuan, ijinkan gue mengutarakan isi hati seorang istri ke kalian, wahai para suami yang kami muliakan.

Dear para suami…
Manusia tidak pernah sempurna, tidak akan pernah. Apapun kekurangan kami, istri-istri kalian, jangan pernah kalian jadikan alasan untuk berpaling. Hadapi kami dengan kejantanan! Sama seperti kami yang berusaha bertahan hidup bertahun-tahun dengan bau kaki kalian yang baunya naudzubillah lebih busuk dari bangkai tikus. Sama seperti kami yang tetap tersenyum meski belum mencapai orgasme tapi kalian sudah terkapar kelelahan akibat 1 ronde yang bahkan tidak lebih dari 5 menit. Ataupun seperti kami yang tetap menganggap kalian pria terseksi sejagat raya meski perut kalian sudah semakin menggembung seperti badut Ancol. Kami protes, kami mengeluh, tapi setidaknya kami tidak berpaling dari masalah dan mencari kelebihannya di orang lain.
Jangan pernah menganggap tanggung jawab kalian hanya menafkahi kami secara materi. Kami harusnya dicintai, bukan sekedar digaji. Ingat-ingat lagi, bagaimana kalian bersumpah di hadapan penghulu. Jangan berani-beraninya berpikiran ‘yang penting gue yang kasih lo duit’, karena kami ini istrimu, bukan pembantu.
Kalaupun rumah tangga kita sudah tidak bisa diselamatkan lagi akibat kelalaianku sebagai istri, mari kita selesaikan baik-baik. Sudahi semuanya tanpa ada orang ketiga di antara kita. Bagaimana aku tau bahwa gagalnya pernikahan kita memang akibat ego-ku yang begitu besar kalau rumah tangga kita dari awal sudah dibayang-bayangi oleh perempuan lain? Bagaimana aku tau bahwa kamu memang sudah tidak sanggup melanjutkan hari-hari karena tidak tahan denganku kalau ternyata sudah ada perempuan lain yang memuaskan hasratmu? Aku tidak akan memaksa bila kita tidak lagi sejalan. Kita berdua berhak untuk bahagia meski tidak lagi bersama.
Terima kasih untuk kasih sayang dan pengertian kalian selama ini. Kalaupun perpisahan pada akhirnya menjadi satu-satunya jalan, paling tidak jangan mengawalinya dengan mendua. Itu saja.


Disclaimer : By the way, apapun yang gue sebut di atas hanya bayangan dari isi hati istri-istri lainnya, jangan langsung nge-judge ini semua adalah surat terbuka gue khusus ke suami ya. Ngga kok, ini buat semua laki-laki yang lagi galau sama pernikahannya. Lagian gue sama suami ga suka surat-suratan, tapi memang suka buka-bukaan sih. Hahaha.

Comments

  1. Yeey akhirnya Mbak Dinna nge-blog lagi 🙌 Salam kenal Mbak.
    Saya setuju sama Mbak. Saya pernah punya tetangga keluarga pasangan pilot-pramugari dan rumah tangga mereka langgeng tanpa skandal kok. Anak-anaknya juga baik-baik semua.

    ReplyDelete
  2. Bener tidak ada alasan untuk selingkuh

    ReplyDelete
  3. kalo tugas suami sih sbenarnya ada 10 macem
    klo menafkahi secara lahir dan batin lah
    jangin secara lahir aj tp batin nya enggak atau sebalik nya

    nice post..
    tp ya gk semua suami itu seperti itu jg sih mungkin pas nulis artikel pas lagi baper banget yak

    ReplyDelete
  4. say no to selingkuh alias setiap tikungan ada..
    masa pacaran juga nggak boleh main belakang..

    ReplyDelete
  5. Aku juga sering keluar kota mbak, ada cara jitu sebenarnya mengindari selingkuh / main perempuan :

    1. Bawa uang secukupnya, sisanya tinggal ama istri (kalo ada yang penegn dibeli tinggal telpon minta transfer)
    2. Cari hotel yang syariah....heheee
    3. Pasang photo istri ma anak di dompet

    Cara ini terbilang ampuh lho, tapi semua dikembalikan lagi pada niat serta kejujuran masing2 lho heheee...

    ReplyDelete

Post a Comment

Jangan NYEPAM yee!