Renungan Setelah Bercerai



Belakangan ini, duniaku serasa naik roller coaster. Kadang rasanya runtuh hingga hancur berkeping-keping. Kadang seiring begitu banyak doa dan semangat yang menyertai langkah baruku, rasanya damai. Tentram. Hangat.
Banyak dari kalian yang bertanya-tanya, dan aku akan menjawab berusaha menjawabnya senetral mungkin.

Sebagai permulaan, aku menikah di usia yang cukup muda. Saat itu aku baru berusia 21 tahun lebih seminggu. Hanya beda setahun dibanding usia ibuku dulu saat menikah dengan bapak.
Pernikahan kami tidak sempurna, tapi aku bahagia. Aku bahagia karena menikah dengan lelaki pilihanku yang aku kagumi dan aku cintai sepenuh hati. Bisa dibilang, aku belum pernah merasakan cinta sebesar itu hingga membuatku rela melakukan apa saja untuk bisa hidup bersamanya. Termasuk keputusan menikah muda, dan pindah agama. Seiring waktu berlalu, kita melalui banyak hal hingga aku semakin yakin bahwa kami memang ditakdirkan menua bersama.

Hingga kemudian, dipenghujung tahun 2018, kami berseteru. Bukan masalah besar bagiku, tapi rupanya menjadi masalah besar baginya. Di sana aku melihat sosok baru yang tidak aku sadari sebelumnya. Aku sempat 'kabur' ke Bali untuk menenangkan pikiran, dan memutuskan untuk kembali dan berpura-pura masalah kami sudah selesai.

Aku merasa hari demi hari, kami semakin menjauh. Kami bercinta seperlunya dan menyapa seadanya. Berkali-kali aku memperingatkan bahwa api ini mulai padam, tapi pada akhirnya lagi-lagi kami memutuskan mengabaikan masalah yang ada karena kesibukan masing-masing. Di sana aku mulai sadar, kekecewaan ini mematikan cinta. Dan bagaikan kanker, rasa sakit hati dan dendam ini menjalar keseluruh tubuhku, membawa banyaaaaak sekali beban dikemudian hari.

Betul saja. Bom itu meledak saat aku sakit dan harus opname. Aku merenung, lamaaaa sekali. Aku sadar, pemikiranku ini tidak akan masuk akal bagi semua orang. Tapi memang inilah yang aku rasakan. Aku akhirnya sad cintaku mati. Cinta butaku yang membuatku rela melakukan apa saja untuknya, entah sejak kapan ternyata sudah tidak bersarang pada tempatnya lagi.

Aku memutuskan untuk mengakhiri ini sesegera mungkin, mumpung sakit ini masih bisa aku atasi. Mumpung sakit ini tidak berujung saling serang dan menyakiti satu sama lain.

'Apa kamu gak sayang sama rumah tanggamu? Apa kamu gak sayang, karir suamimu yang sudah mapan sekarang?'
Itu adalah hal terakhir yang aku khawatirkan. Aku menikah dengannya agar bisa berbahagia bersama. Jika kami tidak saling membahagiakan, untuk apa rumah tangga ini bertahan? Jika sebelumnya aku selalu berhasil melalui berbagai rintangan bersama karena aku sungguh begitu mencintainya, apa alasanku untuk melakukan hal yang sama sekarang?


'Apa kamu yakin gak akan nyesal? Jadi janda itu berat lho!' 
Aku yakin, bahkan ketika aku menyesali apapun yang terjadi di hidupku, aku akan selalu belajar dari itu.


'Apa kamu gak kasian sama anak-anak?'
Pastinya. Aku sadar, perceraian orangtua sedikit banyak mungkin saja akan mempengaruhi anak-anak kami nantinya. Entah itu pengaruh yang baik sehingga mereka akan jauh lebih matang saat memutuskan untuk menikah atau pengaruh yang buruk, mereka tidak bisa menghargai komitmen pernikahan. Setidaknya, aku berusaha semampuku untuk tetap memberi kehangatan keluarga pada anak-anak. Mahe masih tetap membuka pintu mobil untukku atau merangkul dan mencium keningku di hadapan anak-anak. Secara hati, mungkin kami sudah benar-benar berpisah. Namun selamanya kami akan terikat sebagai orangtua, dan kami tetap menjaganya demikian.


Sebut saja aku melankolis, tapi aku percaya, dasarnya pernikahan itu cinta. Lalu ada bumbu romantisme untuk menjaganya tetap membara. Jika cinta tidak pernah dijaga, bagaimana kamu berharap ia akan bertahan dengan sendirinya?

Di akhir tulisan ini, aku hanya ingin berbagi. Sama sekali aku tidak bermaksud mengajak kalian untuk menyerah begitu saja dengan pernikahan masing-masing. Selagi ada kesempatan, berjuanglah. Selagi ada waktu, dijagalah. Selagi ada satu sama lain, berbahagialah. Namun jika semua jalan sudah kalian tempuh dan kalian sungguh sudah tidak sanggup untuk bertahan, maka relakanlah. Kamu juga berhak bahagia. Jangan sampai dikemudian hari kamu menyalahkan anak-anakmu dan berkata 'ibu bertahan demi kalian!' padahal sepanjang pernikahan yang kalian 'pertahankan' itu, kalian selalu menjadikan anak-anak pelampiasan emosi dan kekesalan. Jangan pernah menjadikan 'demi anak' sebagai tameng dari ketakutanmu menghadapi perpisahan tapi menuntut imbalan dari anak-anak untuk bisa mengembalikan kebahagiaanmu yang telah hilang.

Akhir kata.... Aku tidak pernah tau, apa lagi yang menantiku di waktu yang akan datang, mungkin saja seperti yang banyak diprediksi orang, aku akan menyesal karena menua sendirian. Tapi mungkin saja aku akan jauh lebih bahagia karena lepas dari segala beban rumah tangga yang selama ini membelengguku. 
Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
With all the love,
BUDIN

Comments

Dewi Lastari said…
Aku lagi gak bisa tidur kak, dan lihat kakak share ini di ig. Dan aku kemari untuk membaca ini semua. Apapun pilihan kak dinna, itu adalah keputusaan yg terbaik yg kak dinna buat untuk saat ini, ke depannya entah itu akan baik/buruk biar waktu yg menjawab. Aku sangat setuju syarat terpenting pernikahan itu adalah cinta, terdengar klise memang tp hidup dipenuhi cinta itu sangat menyenangkan. Aku hidup di keluarga yg kedua ortuku sudah tdk memiliki kehangatan cinta lagi, dan itu sangat menyesakkan��. Aku jg kerap mendengar keluh kesah sahabat yg tidak bahagia akan pernikahan mereka yg kehilangan cinta. Jadi semenjak itu aku lbh berhati-hati memutuskan
untuk menikah, aku akan menikah ketika aku dan dia sudah siap dalam hal apapun. Aku mulai sering berdiskusi dgn pasanganku ( kebetulan dia kasusnya sama kaya aku ) jadi kami bercita-cita jika suatu hari nanti ketika kami akan menikah, kami akan menjadi versi yg lbh baik dr kedua orang tua kami. Kami ingin gairah cinta kami tidak surut tapi terus bertahan hingga menua nanti. Dan seperti yg kak dina pernah bilang, aku gak pengen jd orangtua yg bergantung / menuntut anak2nya. Doakan ya kak semoga aku bisa jd versi terbaik yg aku mau, dan ku doakan kakak akan menemukan kebahagiaan lahir dan batin kakak. Semangat kak dinna ❤.
Dewi Lastari said…
Aku lagi gak bisa tidur kak, dan lihat kakak share ini di ig. Dan aku kemari untuk membaca ini semua. Apapun pilihan kak dinna, itu adalah keputusaan yg terbaik yg kak dinna buat untuk saat ini, ke depannya entah itu akan baik/buruk biar waktu yg menjawab. Aku sangat setuju syarat terpenting pernikahan itu adalah cinta, terdengar klise memang tp hidup dipenuhi cinta itu sangat menyenangkan. Aku hidup di keluarga yg kedua ortuku sudah tdk memiliki kehangatan cinta lagi, dan itu sangat menyesakkan��. Aku jg kerap mendengar keluh kesah sahabat yg tidak bahagia akan pernikahan mereka yg kehilangan cinta. Jadi semenjak itu aku lbh berhati-hati memutuskan
untuk menikah, aku akan menikah ketika aku dan dia sudah siap dalam hal apapun. Aku mulai sering berdiskusi dgn pasanganku ( kebetulan dia kasusnya sama kaya aku ) jadi kami bercita-cita jika suatu hari nanti ketika kami akan menikah, kami akan menjadi versi yg lbh baik dr kedua orang tua kami. Kami ingin gairah cinta kami tidak surut tapi terus bertahan hingga menua nanti. Dan seperti yg kak dina pernah bilang, aku gak pengen jd orangtua yg bergantung / menuntut anak2nya. Doakan ya kak semoga aku bisa jd versi terbaik yg aku mau, dan ku doakan kakak akan menemukan kebahagiaan lahir dan batin kakak. Semangat kak dinna ❤.
Anonymous said…
Hai Kak Dinna, aku adalah seseorang yang sangat mengagumi kakak. Aku tahu kakak dari tulisan-tulisan kakak karena saat itu aku pengen banget jadi FA. Aku ikutin semua tulisan dan kehidupan kakak di Ig. Tanpa sengaja aku merasa dekat kak Dinna. Dan papun keputusan kak Dinna semoga itu menjadi jalan terbaik. Semangat terus kak Dinna, masih banyak mimpi yang harus kak Dinna wujudkan.
Anonymous said…
Hai kak Nanda aku dari dlu pengagum tulisan kk aplg dari mulai kk cerita saat jadi FA dan menikah aku baca dan aku vakum dr tulisan kk bbrpa tahun. Hari ini ku teringat tulisan kk yg dlu sering aku baca. Dan saat membuka blog aku melihat tulisan ini aku kaget dan sedih. Aku ngga bs membayangkan diposisi kk itu gmn. Apapun keputusan kk semoga kk tetap bahagia ya kak :))

Popular Posts