Mengenal Istilah Anak Durhaka dan Sejauh Mana Kebebasan Layak Diperjuangkan


            Coba aku inget-inget dulu, pertama kali kenal istilah durhaka itu kalau ga salah usia-usia 5 tahun deh. Waktu itu, Ibuku yang seorang pendongeng hebat lagi cerita tentang Malin Kundang, si anak durhaka asal Padang yang dikutuk ibunya jadi batu. Buat kalian yang lupa atau malah gak tau ceritanya, jadi si Malin Kundang ini diceritakan hidup miskin berduaan doang sama sang ibu. Suatu hari, dia bilang sama ibunya, 

 “Bu, aku mau merantau ke pulau seberang. Siapa tau rejekiku ada di sana dan kita bisa hidup makmur setelahnya.”

            Dengan berat hati, sang ibu melepas Malin pergi dari rumah. Karena dasarnya si Malin ini memang orang rajin dan pekerja keras, ia pun menjadi kaya raya tanpa perlu ikut pesugihan. Long short story, setelah tajir melintir, si Malin malah lupa sama ibunya dan memperistri seorang perempuan. Suatu kali, saat ia bepergian, kapalnya karam di tanah kelahirannya. Ajaibnya, Malin dan sang istri berpapasan dengan ibu tua berpakaian compang-camping seperti sobat misqueen. Ibu Malin yang selama ini gak tau kabar anaknya karena jaman dulu belum ada video call, langsung berlari dengan semangat memeluk Malin.

            Karena risih dengan kondisi sang ibu, Malin langsung berusaha melepaskan diri dan malah membentak ibunya dengan berkata, 

            “Dasar pengemis tidak tahu diri! Berani-beraninya kau memelukku? Aku tidak punya ibu sepertimu!”

            Karena sakit hati mendengar perkataan Malin, Ibu Malin mengutuk sang anak yang durhaka dan mengubah Malin Kundang menjadi batu. Nah sejak saat itu, aku selalu berpikir bahwa aku tidak boleh durhaka pada orangtua. Tapi…. Durhaka itu sebenarnya apa sih?


            Kalau berdasarkan cerita Malin Kundang, bisa dibilang istilah anak durhaka adalah label untuk anak yang tidak mengakui dan menghormati ibunya. Tapi nyatanya, istilah anak durhaka mudah sekali melekat bahkan jika konteksnya tidak sama seperti si Malin dimana anak bagai kacang lupa kulitnya. 


Malin dibesarkan dengan baik oleh seorang ibu tunggal. Meski hidup miskin dan serba kekurangan, ibu Malin menyayanginya dengan segenap hati. Ia bahkan merelakan Malin merantau padahal Malin adalah satu-satunya yang ia miliki di dunia ini. Sang Ibu rela hidup sendiri bahkan hingga sakit-sakitan karena rindu dengan anaknya. Namun saat Malin kembali, bukan hidup makmur yang ia beri kepada orangtuanya, namun justru pengabaian dan penghinaan. Hingga titik ini, aku sangat setuju dengan konsep anak durhaka jika berdasar cerita Malin Kundang.


Namun di era modern saat ini, kita justru menemui banyak sekali orangtua yang dengan mudah melabeli anaknya sebagai anak durhaka hanya karena sang anak ‘tidak menuruti’ keinginan mereka. Pun sebaliknya, ada banyak anak yang memperjuangkan kebebasan mereka dengan dalih ‘open minded person’tapi sebenarnya mereka justru melakukan hal yang mirip seperti yang Malin Kundang lakukan pada ibunya. Ia mengabaikan peran orangtua dan tidak menghormati mereka. 

Aku gak bakal berkomentar banyak soal tulisan Mbak Dea Safira, karena aku gak tau persis relationship antara dia dan orangtuanya. Namun, aku punya prinsip sederhana :

“Jika kau bersyukur dengan hidup yang diberikan oleh orangtuamu, maka kamu wajib berterimakasih dengan cara menghormati mereka.”


Meskipun aku adalah orang yang cukup anti dengan sandwich generation dan orangtua yang menganggap anaknya sebagai investasi masa tua, tapi bukan berarti aku mendukung seorang anak bersikap semena-mena dengan orangtuanya, terlebih jika si anak belum sepenuhnya dewasa dan masih berdiri di bawah naungan orangtua. Pandanganku ini bukan karena aku takut anak-anakku akan durhaka saat mereka besar nanti, sama sekali bukan. Aku memang gak bisa nebak masa depan akan seperti apa, tapi aku selalu berjanji pada diri sendiri dan juga anak-anakku, saat melahirkan mereka ke dunia, mereka tidak berhutang apapun padaku. Mereka akan memperoleh kebebasan mereka, meski itu mungkin akan menyakitiku di kemudian hari. Tapiiiiiiii…. Ada tapinya ya tetep. Tapi HANYA saat mereka sudah dewasa dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Tentu ini termasuk mandiri secara finansial dan juga mampu berdiri di kaki sendiri, gak butuh orangtua lagi sebagai tempat bertumpu. 


So, kalian pasti sudah bisa membayangkan reaksiku saat membaca tulisan Mbak Dea, bukan? Sedih, tentu saja. Sebagai orangtua dan sebagai anak dari orangtuaku, aku merasa sedih sekali membaca tulisan itu. Karena apa yang Mbak Dea tulis bertentangan dengan prinsipku. Tapi siapa lah aku, hanya penonton di hidup mereka. Aku ga berhak menghakimi keputusan orang lain, terlebih yang tidak bersinggungan langsung dengan kehidupanku. Hanya satu hal yang aku yakini, bahwa semua kebebasan, jika dianggap benar dan layak diperjuangkan, maka perjuangkanlah. Namun semua kebebasan itu ada konsekuensinya. Bahkan saat Indonesia merdeka, kita harus tertatih-tatih untuk berdiri sendiri. Maka begitu pula seorang anak yang menginginkan kebebasan dari orangtuanya, mereka sedang berlari di ladang ranjau tanpa tau tanah yang dipijaknya akan meledak atau justru ia akan tiba dengan selamat di tujuan. 


Sebagai orangtua, aku akan berusaha memberi yang terbaik yang bisa kulakukan. Jika kedua gadisku ingin pergi, maka pergilah. Jika mereka melupakanku, maka lupakanlah. Mereka tidak berhutang apapun. Namun jika mereka ingin kembali ke pelukanku, maka mereka harus terima aku ‘cintai’ dengan caraku. Meski Bahasa cintaku mungkin terdengar sebagai ocehan menyebalkan sekalipun, itu adalah ‘bayaran’ dari kebebasan yang lepas dari tangan mereka.

Comments

Popular posts