Berpikir Seperti Anak-Anak



           Sebelum aku multi ngoceh panjang lebar, aku hanya ingin mengingatkan kalian kalau di sini aku menulis bukan sebagai pakar parenting, bukan sebagai psikolog anak, bukan pula sebagai anggota Komisi Perlindungan Anak. Aku menulis sebagai seorang ibu millenial yang sedang berusaha menjadi ibu dari versi yang kuinginkan saat aku masih anak-anak. Tentu saja realitanya sering melenceng dari harapan, tapi ada banyak hal yang bisa tetap aku wujudkan, termasuk pola parenting untuk bisa berkompromi dengan anak.

          Beberapa waktu lalu, aku mendapat pertanyaan tentang alasanku menitipkan anak-anak di Bali. Ada banyak sekali alasan untuk itu, tapi kebanyakan dari alasan-alasan tersebut bersifat private dan beberapa orang akan merasa tidak nyaman jika aku membuka alasan itu di sosial media. Namun aku bisa mengungkapkan beberapa alasan yang mungkin saja bisa menjadi bahan pertimbangan kalian saat kalian menjadi ibu atau selama kalian menjadi seorang ibu.

          Dalam beberapa keputusan parentingku, aku mencoba untuk tidak selalu bersikap egois terhadap anak-anak. Aku berusaha berpikir seperti seorang anak-anak, mencoba kembali menjadi Radinna kecil dan  mempelajari bagaimana pola pikirku sebagai seorang anak. Apa yang kuinginkan saat aku seusia mereka Anak-anak mungkin tidak tahu apa yang sungguh mereka butuhkan, tapi mereka tau apa yang diinginkannya. Sebaliknya, orangtua merasa tau apa yang dibutuhkan anak-anaknya, namun sering abai terhadap keinginan mereka.

            Dengan kondisiku saat ini yang tinggal di ruko sendirian, aku sebenarnya bisa saja mengajak anak-anak dan Alda tetap tinggal bersamaku di sini. Aku tetap bisa mengurus usahaku di lantai 1 dan main bersama anak di lantai 2. Tapi apa yang akan aku beri pada mereka? Berhari-hari dikurung di kamar tanpa merasakan udara segar di luar ruko? Saat ada pilihan lebih baik untuk tinggal di Bali, apa aku harus tetap egois memaksa mereka menemaniku di sini hanya karena aku takut tinggal sendirian dan ga sanggup jauh-jauhan terlalu lama sama anak?

          Di saat berhadapan dengan keputusan-keputusan sulit terhadap anak, aku mencoba memposisikan diriku sebagai anak-anak. Mereka belum bisa menyampaikan apa yang benar-benar mereka inginkan, jadi aku hanya bisa menerka-nerka, saat aku seusia mereka, apa yang lebih aku inginkan? Tinggal bersama ibuku meski tidak bisa bebas bepergian atau tinggal bersama kakek nenekku tapi bisa bebas bermain bersama sepupu-sepupu, berinteraksi dengan anak tetangga dan ada halaman luas untuk belajar naik sepeda? 

            Jika boleh memilih, tentu Radinna kecil akan lebih memilih tinggal bersama ibunya di Bali. Tapi saat aku tidak bisa mendapat segala hal yang aku inginkan, aku harus belajar berkompromi dengan keadaan, begitupun anak-anakku.  Mereka tinggal terpisah dengan sosok terdekatnya dan harus beradaptasi di lingkungan baru, tapi mereka bisa leluasa menghabiskan masa kanak-kanak sebagaimana mestinya. Sementara aku memang bisa fokus mencari uang, tapi aku harus merasakan kesepian dan rasa sedih yang luar biasa setiap kali merindukan mereka. 

           Sejatinya, aku dan anak-anakku sedang belajar bersama-sama. Kami berada di dalam proses menjinakkan ego dan berkompromi terhadap satu sama lain. Hal-hal seperti ini akan bermunculan di sepanjang hidup kami dan mungkin akan semakin complicated kedepannya. Tapi aku berusaha percaya, mereka akan tumbuh sebagai generasi yang lebih baik dariku. Generasi yang mudah beradaptasi, pantang menyerah dan sanggup berkompromi untuk mencari solusi terbaik. 


Tertanda,

Budin yang selalu menyebut Akira dan Gending dalam doanya

Comments

Popular Posts