Ladies Night With Ozigina

     Udah lama gue gak pernah ngumpul sama sahabat-sahabat gue yaitu Gina, Reza dan Ninda. Gue sibuk dengan aktifitas gue, mereka sibuk dengan padatnya schedule terbang mereka. Tapi bagaimanapun, kami semua tetap keluarga. Lama gak ketemu bisa bikin gue kejang-kejang saking kangennya.
     Well, malam itu gue emang gak bisa kumpul berempat karena perbedaan schedule terbang. Tapi toh gue bisa memaksa Gina untuk keluar bareng gue dan menghabiskan 'girls time' bersama gue. Gina yang usai menjalankan schedule uka-uka CGK - AMQ - CGK yang dimulai dari tengah malam hingga jam 10 pagi, setelah beristirahat langsung menjemput gue dari pondok pesantren ini dan kami pun pergi ke Summarecon Mall Serpon di Tangerang. Mall ini adalah salah satu Mall favorit air crew. Ntah udah berapa awak kabin dari maskapai yang sama gue temui disini.
     Gue dan Gina sengaja berdandan. Kami memutuskan malam itu adalah malam milik kami. Gak ada Maherda, gak ada Argen. Cuma gue dan Gina, dan kami bebas melakukan apa saja seolah kami berdua adalah jomblowati kece yang lagi nyari mangsa di Mall.
     Gue meminjami Gina sebuah dress putih pendek sementara gue memakai dress creamy nyaris selutut dengan potongan V di bagian kerah. Salah satu dress kesayangan gue yang seringkali gue pakai saat 'dating' dengan Maherda.
Ini foto diambilnya maksa. Pacar gue lagi jelek banget!
   Sesampainya di SMS, gue dan Gina memesan tiket XXI terlebih dahulu. Kami memutuskan untuk menonton film Riddick. Agak gak matching sama dresscode memang, tapi ya sudah. Malam ini kami bebas melakukan apa saja, remember?
    Film akan dimulai 30 menit lagi, tapi kelaparan melanda. Antara takut ketinggalan film dan takut kelaparan di tengah asiknya menonton, gue dan Gina akhirnya memutuskan bahwa urusan perut gak bisa dinomor duakan. Kami memesan tenderloin steak favorit kami dengan black pepper sauce ukuran reguler. Sembari menunggu, gue menyalakan sebatang rokok yang gue beli dari SPG-SPG cantik yang berkeliaran disana.
    "Aku mau coba Din!" kata Gina tiba-tiba. Gue bengong.
    "Coba apa?" tanya gue bego. Dia melirik rokok di tangan gue. Hah? Seorang Gina mau coba ngerokok?
    "Habisnya kamu ngerokok! Kalo kamu gak mau berenti ngerokok, aku juga mau ngerokok!" rengeknya. Ia berusaha keras mengambil bungkus rokok yang gue pegang erat-erat.
     "Ahh! Gak ada! Apaan sih lo, AARRRGGHH!!" tiba-tiba Gina gigit kuping gue dan dia berubah jadi zombie-zombie di World War Z. Eh, sorry. Rada ekstreme yah?
     "Siniin rokoknya!!!!!" gue dan Gina terlihat bagaikan pasangan lesbi yang lagi berantem karena aturan gak boleh merokok selama ngedate.  Gue menyerah.
     "Nih, terserah lo deh!" gue menyodorkan rokok itu akhirnya. Gina kaget, gak nyangka gue akan lebih memilih untuk tetap merokok. Gue lebih kaget lagi ketika mengira Gina akhirnya berani menyalakan sebatang rokok.
    "Aku bisa, Din! Uhuuk uhuk uhukk... Akhuu bisaahh.. uhuk preet brrooootttt...."suara yang terakhir gak perlu gue jelasin lah ya?
     "Udah! Lo gak usah maksa deh, ntar keselek rokok baru tau rasa!" dengan patuh ia mematikan rokoknya dan mengembalikan bungkus rokok itu ke gue.
    "Good girl..." di lain sisi, mata gue menangkap serombongan cowok yang gue taksir anak kuliahan yang terus menerus melirik nakal ke arah gue. Hahaha, mereka gak tau mereka lagi naksir tante-tante yang mau merit.
     Gue dan Gina mempraktekkan  ilmu debus yang kami miliki : makan steak extra panas hanya dalam 5 menit! after that, mulut gue jontor nyaingin Omas dan melepuh di sekelilingnya.
Gue jomblo kok, malem ini doank tapi.

Ini dia Gina, sahabat sekaligus junior gue. Cantik ya?
    Seusai film Riddick, kami buru-buru pulang karena keesokan paginya gue punya schedule terbang. Karena berangkat menggunakan taksi, pulangnya so pasti kita naik taksi donk? Ada niat naik angkot sih, tapi ga ada angkot ngetem di Mall sih, jadi ya gue memutuskan untuk antri taksi di lobby Mall. Ternyata eh ternyata, antrian taksinya panjang bener. Mana taksi yang datang lama banget. Kaki gue yang pake high heels ini mulai ngerasa kesemutan.
    "Kalo kaya gini ceritanya gue bisa keguguran Gin! Bisa setengah jam lagi kita nungguin! Udah, kita cari taksi di luar aja!" usul gue yang mulai berkelijangan kaya ulet bulu. Setengah berlari kami berdua ke luar kawasan Mall menuju jalan raya. Kami mengantri di pinggir jalan.
     "Din, kita pake baju mini gini, berdiri di tengah jalan pula, kok kayaknya gimanaaa gitu!" kata Gina yang keliatan gak enak ati.
     "Udeeehh, daripada nunggu taksi gak jelas di dalem. Lu inget kan seberapa panjang antriannya? Kalo disini semenit juga udah dapet kok!"
      1 menit berlalu. 2 menit berlalu. 5 menit berlalu.
      "Din, kayaknya taksi gak lewat di depan kita deh. Pasti mereka masuk ke dalam Mall dulu kan? Taksi kosong adanya di seberang jalan. Gimana donk? Kita ke dalem aja yuk!"
     "Ahh! Gak ada! Ya udah, ayo kita nyebrang!" usul gue sembari menarik tangan Gina menyebrangi jalan raya. Kita ngetem di pembatas jalan sebentar. Tanaman pembatasnya cukup tinggi untuk dilewati kami yang menggunakan mini dress.
      "Udah, cuek aja! Toh ga ada yang kenal kita disini. Paling jelek disangka cewek mabok. Ayok Gin," gue dengan cuek mengangkat rok gue tinggi-tinggi dan melewati tanaman pembatas itu. Gina pasrah mengikuti gue dari belakang. Kami kembali menyebrang ke sisi lainnya untuk mencari taksi. Sesuai perkiraan, kami mendapat taksi dengan cepat.
      "Ah, selalu ada momen seru kalo sama kamu Din..." ujar Gina. Gue termenung. Rasanya udah lama banget gue gak merasakan hal ini. Gue terlalu asyik sama Maherda hingga melupakan sahabat-sahabat gue. Padahal kadang momen gue dan Maherda juga gak terlalu menyenangkan. Karena gue yang hyper active harus melewatkan waktu dengan Om-Om India dingin yang kadang emosinya gak bisa ditebak. Berbeda ketika gue menghabiskan waktu sama mereka. Gue bisa gila, gue bisa jadi diri gue, gue bisa bebas melakukan apa aja. Ntahlah, tiba-tiba aja gue merasa gak rela melepas masa muda gue.Melepas masa-masa kebebasan gue yang tentu akan berbeda ketika gue menikah nantinya. Heloo, I'm twennies! Ini adalah masa kejayaan gue yang seharusnya gue pake untuk bersenang-senang. Bukan ribet memikirkan pernikahan dini karena gue ingin cepat berkeluarga. Ah, malam itu Gina sukses membuat gue galau.

Komentar

Kevin Anggara mengatakan…
Setelah sekian lama, baru baca lagi ceritanya. Gila, makan steak cuman 5 menit :|
Radinna Nandakita mengatakan…
hebat kan kamiiii :))
Ah om kepin sibuk! ga pernah mampir lagi. hhaaha

Postingan Populer