Thursday, 26 May 2016

Saya, Jakarta dan Maherda




Nama saya Ketut Radinna Wikantari, gadis manis yang berasal dari sebuah kota kecil di Bali Utara yang bernama Singaraja. Awal karir saya di dunia penerbangan dimulai pada September 2011, saat saya resmi diterima menjadi siswa salah satu sekolah pramugari di Jogjakarta. 4 bulan berikutnya, saya mengikuti proses recruitment pertama saya di Lion air. Saya lolos dengan mudah dan berangkat ke Jakarta untuk memulai proses training yang sesungguhnya.
            Dari masa itu saya sudah dikejutkan dengan beratnya proses training dan mahalnya hidup di kota besar. Saat itu saya belum mampu mencicil hutang di bank yang saya pergunakan untuk membayar biaya sekolah pramugari, namun saya masih harus memberatkan orangtua untuk biaya kos, hidup dan kebutuhan lainnya. Padahal bapak saya hanya seorang supir truk dan ibu saya guru di sebuah SMP swasta. Sejak itu saya berjanji, saya tidak akan mudah menyerah. Bagaimanapun caranya, saya harus sukses di kota besar dan bisa menaikkan taraf hidup keluarga.
            Ternyata, jangankan untuk bisa sukses, untuk bertahan hidup saja biayanya ampun-ampunan. Apalagi saya tidak punya keluarga di Jakarta, hanya ada Paman jauh yang tinggal di Bogor. Terkadang saya iri dengan beberapa teman yang bisa berfoya-foya, padahal bisa dibilang kami berasal dari latar belakang ekonomi yang sama. Saat itulah saya mulai mengenal istilah pergadunan alias melacurkan diri demi uang. Syukurnya, teman saya saat itu hanya punya pelanggan yang sudah beristri sementara saya sangat anti menjadi pengganggu suami orang karena trauma dengan kisah rumah tangga orangtua saya. Akhirnya saya berhasil melalui masa training tanpa ikut arus dunia pergadunan di Jakarta.
            Setelah saya mulai resmi bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, saya menjadi lupa diri. Niat-niat mulia saya untuk membahagiakan orangtua dan keluarga kabur oleh besarnya gaji yang saya dapat tiap bulan. Saya merasa, tekanan kerja dan senioritas yang selama ini saya hadapi membuat saya depresi kalau saya tidak bisa menikmati uang yang saya hasilkan. Mulailah saya bersahabat dengan klub malam di Jakarta. Apalagi saat itu saya beberapa kali bergonta-ganti pacar dan mereka semua seolah memperkuat alasan saya untuk bersenang-senang di jakarta. Mereka mengenalkan saya dengan rokok dan Jack Daniel’s serta materi yang berlimpah. Saking tergila-gilanya, saya lupa keluarga. Saya lupa alasan utama saya saat pertama kali berangkat ke Jogja. Dua bulan bekerja, jangankan menabung, menelfon keluarga saja tidak pernah. Saya sibuk bekerja sekaligus bersenang-senang, lupa bahwa ada keluarga yang selalu mengkhawatirkan saya di rumah.
            Hingga kemudian, pada tanggal 8 Juli 2012 saya menerima kabar mengejutkan dari sepupu saya. Saat itu ia menegur saya melalui BBM, kenapa saya masih santai-santai saja dan menulis status bahagia padahal kakak pertama saya meninggal dunia. Rasanya dunia runtuh seketika. Bli Putu (panggilan untuk kakak pertama saya) adalah kakak kandung yang sudah seperti orangtua saya sendiri. Karena kedua orangtua saya sibuk bekerja, Bli Putu lah yang mengambil alih tugas untuk mengurus saya. Beliau bahkan harus rela untuk masuk sekolah sore agar bisa menjaga saya, bergantian dengan ibu yang harus tugas pagi hingga siang. Ketidakmampuan orangtua untuk membayar jasa pembantu membuat Bli Putu menjadi selayaknya orangtua asuh. Hubungan kakak-adik yang kerap diisi dengan pertengkaran tidak terjadi pada kami. Mungkin beda umur 13 tahun lebih membuat Bli Putu selalu mengalah, selain itu wataknya yang lemah lembut itu selalu memanjakan saya. Membuat bayangan akan sosoknya menjadi begitu sempurna di mata saya. Mendengar kabar Bli Putu meninggal membuat perasaan saya hancur. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain menangis sepanjang malam.
            Keesokan paginya, saya berhasil menghubungi bapak. Saya mengamuk dan bertanya kenapa tidak ada yang memberi tahu saya tentang berita duka itu. Dengan polosnya bapak berkata bahwa ia tidak ingin menggangu saya yang sibuk bekerja. Niatnya beliau ingin mengabarkan berita ini pelan-pelan, menunggu kondisi agak tenang.. Ya, keluarga saya mengira saya begitu sibuk hingga jarang sekali mengangkat telfon dari mereka. Di sana saya merasa ditampar keraaaas sekali. Seketika saya menangis dan memohon ampun meskipun tidak bisa menjelaskan apapun dengan bapak. Saya hanya berkata saya ingin pulang saat itu juga. Tanpa banyak bertanya kemana saja gaji saya selama dua bulan terakhir, bapak langsung mencarikan uang untuk membeli tiket pesawat. Sepanjang perjalaan, saya tidak pernah berhenti mengutuki diri saya sendiri. Betapa tidak tahu dirinya saya, betapa berdosanya saya, betapa memalukannya saya. Saya yang selalu dibangga-banggakan oleh keluarga ternyata bersikap kampungan hingga lupa diri sedemikian rupa.
            Kejadian itu menjadi titik perubahan saya. Saya sadar, saya masih belum stabil. Saya belum cukup dewasa untuk menahan diri dari godaan. Saya butuh sosok yang membimbing saya, menjaga saya dan juga benar-benar tulus mencintai saya. Awalnya saya sempat bertemu seorang pilot yang bekerja di maskapai lain. Dia bukan jenis pria seperti yang saya pacari sebelumnya, bukan seorang party-goers, bukan perokok dan bukan peminum. Kami menjalin hubungan selama sebulan hingga kemudian saya baru mengetahui bahwa ia sudah memiliki istri. Saya mundur teratur, prinsip saya untuk tidak menggangu suami orang masih saya pegang erat. Cinta tidak harus merusak kebahagiaan mereka yang sudah berkeluarga.  
 Kemudian di tanggal 7 September 2012, saya bertemu dengan co-pilot yang bekerja di perusahaan yang sama. Saya tertarik pada pandangan pertama. Matanya yang teduh entah mengapa mengingatkan saya pada Bli Putu. Apalagi setelah melalui proses perkenalan saya tahu mereka berdua seumuran. Rasanya saya seperti menemukan sosok Bli Putu padanya. Oh ya, nama co-pilot itu Maherda Ekananda. 34 tahun, single, tidak merokok, tidak minum alcohol, tidak suka klub malam, berasal dari keluarga baik-baik yang sangat terbuka dengan perbedaan agama. Saat itu saya percaya, Maherda adalah pria yang harus saya perjuangkan. Karena pria baik-baik tidak dijatuhkan Tuhan begitu saja, maka proses perjuangan saya untuk memikat hatinya pun dimulai.
Untuk bisa membuat Maherda jatuh cinta itu bukan perkara mudah. Saya belajar banyak hal dan mengubah banyak kebiasaan buruk saya untuk bisa memantaskan diri dengannya. Syukurnya, 1,5 tahun berhubungan sudah cukup bagi Maherda untuk menyadari usaha saya hingga kemudian ia pun melamar saya untuk menikah. Kami memilih tanggal 10 Februari 2014 sebagai hari pernikahan kami. Pertemuan saya dengan Maherda membawa banyak perubahan positif. Saya bisa menabung, membantu orangtua dan juga mengembangkan hobi menulis saya semasa SMA.
Saya akui, saya sempat lengah. Saya melakukan banyak kesalahan fatal dan terjebak dengan godaan hidup di Jakarta. Kepergian Bli Putu menyadarkan saya akan banyak hal. Dan kedatangan Maherda dikehidupan saya menjadi titik balik kembalinya saya kepada Radinna yang selama ini dibanggakan keluarga.

Tuesday, 5 April 2016

Breakout



              


               I know, gue udah gak update blog ini cukup lama, ehe, cukup lama sampai para pembaca gue udah pada kabur semua. Hahaha… Banyak yang penasaran dengan alasannya. Apalagi beberapa dari kalian pasti penasaran dengan kelanjutan cerita Pilot Disaster yang ngegantung di part 2. Kali ini gue hadir (kembali) bukan untuk melanjutkan cerita tersebut, melainkan bercerita tentang kejadian-kejadian selama gue menghilang.

Wednesday, 18 November 2015

Pilot Disaster 2



            Di airlines kami ada peraturan tidak tertulis buat menghargai dan menghormati senior dalam hal apapun termasuk urusan pacar-berpacaran. Jangan nekat ngerebut gebetan senior, macarin mantannya senior, apalagi jadi selingkuhan pacarnya senior. Dalam hal ini, gue melakukan kesalahan paling fatal nomor dua : ngerebut gebetan senior. Sebagai junior yang baik dan budiman, tentu gue mau cari aman dong? Sebisa mungkin jangan sampai Mbak Iris tau kalau ternyata gue udah macarin cowok idamannya.
***
            Saat layover atau menginap di daerah, kami yang bertujuh ini mendapat jatah 5 kamar. 2 kamar masing-masing 1 untuk pilot dan kopilot. Dan 3 kamar untuk 5 pramugari. Harusnya sih 1 kamar khusus untuk FA 1, tapi jarang ada FA 1 yang mau/berani tidur sendiri. Jadi biasanya sih FA 1 tidur dengan FA 4 yang tugas bareng di galley depan. Bagi gue, seenak apapun seniornya, selama jadi junior masih lebih mending tidur sendiri. Serius! Gue lebih takut tidur sama senior daripada tidur sendirian ditemenin tuyul.

Friday, 9 October 2015

Pilot Disaster



                Jadi junior itu bisa dibilang fase paling tidak menyenangkan dalam karir sebagai pramugari. Tapi gue punya kondisi yang lebih tidak mengenakkan. Udah junior, pacaran sama pilot, pilotnya yang ditaksir senior, seniornya lumayan jebot pula. Dan yang bikin serem, kami berdua TERBANG BARENG!

Friday, 2 October 2015

Edisi Sakit Hati



Edisi Sakit Hati

            ‘Lo pernah sakit hati gak sih, Din?’ adalah sebuah pertanyaan yang (anehnya) sering banget ditanyain sama temen-temen gue. Of course I do! Bahkan kalau boleh jujur, gue ‘cukup’ sering sakit hati. Salah satu pengalaman sakit hati yang paling berkesan sepanjang hidup gue adalah saat gue baru beberapa minggu resmi menjadi seorang pramugari.

Wednesday, 23 September 2015

Anak Training Itu Cari Lulus, Bukan Cari Jodoh



                Waktu awal-awal menikah dengan pangeran India saya yang tercinta itu, saya mengalami kejadian lucu yang sekaligus menyebalkan. Yang bikin gemes bukan suami saya, melainkan junior yang lagi flight training di penerbangan saya. Kebetulan saat itu saya kedapetan schedule bareng sama si Abang. Jadilah saya kerja sekaligus honeymoon-an. Sebuah kesempatan yang langka banget dan pengennya sih saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tapi keberadaan para dedek-dedek gemesh ini menghancurkan semua rencana saya.

Wednesday, 9 September 2015

Persiapan Sebelum Merantau Ke Jakarta



               
SUMBER GAMBAR : DI SINI
             Beberapa hari yang lalu saya menerima line dari calon pramugari bernama Vara. Dia jauh-jauh datang dari Samarinda khusus untuk melamar kerja menjadi pramugari. Nekat? Iya. Awalnya sih saya salut dengan perjuangannya, tapi kalau kalian bertanya, apakah dulu saya senekat Vara, jawabannya TIDAK. Namun jika saya diberi kesempatan merantau ke Jakarta, saya akan mempersiapkan tidak dengan hanya modal nekat.
                Kalau saya menjadi Vara, dan saya yakin banyak sekali yang ingin senekat dirinya, saya akan mempersiapkan hal-hal berikut sebelum saya merantau ke Jakarta.

Tuesday, 8 September 2015

Warming Up Post



              

            Halo semua, apa kareba? Hari ini saya hadir setelah sekian hari, ralat, sekian bulan absen dari dunia blogging. Banyak yang mengira saya tidak menulis karena saya sudah tidak lagi bekerja sebagai pramugari. Ada juga yang menebak karena saya kekurangan bahan tulisan. Keduanya tidak ada yang benar. Well, benar saya sudah tidak lagi bisa disebut pramugari, karena saya memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak kerja saya di perusahaan sebelumnya, tapi itu bukan alasan saya untuk keadaan blog saya yang kosong melompong selama 4 bulan terakhir. Dan syukurnya, buku catatan saya masih punya stock puluhan kerangka tulisan mengenai pengalaman terbang saya selama 3 tahun terakhir yang belum sempat saya kembangkan.

Monday, 1 June 2015

Ketika Pramugari Depresi dan Ingin Menyerah

              
Sumber : disini
              Beberapa hari lalu ada seorang junior yang minta waktu untuk curhat. Dia punya sedikit masalah  sebagai pramugari. Intinya ia ingin resign dan kembali ke kampung halamannya. Padahal sebelum menjadi pramugari, ia meninggalkan bangku kuliahnya yang sebenarnya tinggal beberapa semester lagi. Gue sudah bisa melihat bahwa ia masih sangat labil dalam mengambil keputusan. Tapi gue tidak serta-merta memarahinya. Kalau saja ia adik gue, tentu gue akan memperlakukannya berbeda. Bisa dibilang gue sangat keras dan gue ingin adik-adik atau keponakan gue mencontoh gue. Mengerti komitmen dan tangguh menghadapi dunia yang sesungguhnya.

Thursday, 28 May 2015

WELCOME TO THE WORLD : DEKOHMACE.COM

      
     Halo kalian semua! I'm back from vacation! Setelah 9 hari berlibur bersama suami, hari ini gue mulai menyentuh laptop kembali. Hari ini gue ingin memperkenalkan blog baru gue yaitu dekohmace.com. Ini adalah blog baru yang gue, Yein Narayana, Dharmawan dan Ajiva buat sebagai wadah media bacaan baru bagi anak muda maupun orang tua yang berjiwa muda. Kami memiliki visi dengan berkomitmen untuk memuat konten-konten berkualitas yang memotivasi, menghibur dan tentu memperkaya pengetahuan umum kalian semua. Lalu misi kami adalah memaksa kalian secara halus untuk rajin membaca. Untuk itulah kami bekerja keras di depan laptop kami masing-masing, menyatukan tangan agar kalian menjadi pembaca setia kami.