Sunday, 23 March 2014

The End Of This Blog

     Dari judulnya, sepertinya gue gak perlu terlalu banyak berbasa-basi. Dan hal tersebut sudah pernah gue sampaikan melalui twitter : gue akan menutup blog ini. No more blog pramugalau. Begitulah intinya. Tapi berhubung gue rada gaptek, maka gue tidak juga bisa menon-aktifkan blog ini. Gue menyerah. Akhirnya keputusan gue berbelok 'hanya' tidak akan menuliskan lagi catatan penerbangan dan keseharian gue di blog ini. Sangat disayangkan memang. Blog ini bahkan belum sempat merayakan ulangtahun pertamanya. Dan juga sangat disayangkan, gue harus kehilangan satu jalan untuk menyalurkan hobi menulis gue ini.
     Gue sedih. Sangat sedih. Blog ini berarti banget buat gue. Blog ini lah yang membuat Maherda merasa gue 'istimewa'. Blog ini memberi gue kesempatan untuk menulis buku (walau masih belum kelar hingga sekarang. Dan blog inilah yang mengenalkan gue kepada sahabat yang baik seperti kalian. :'(
     Tapi bagaimanapun juga, gue sudah memikirkan keputusan ini masak-masak. Jauh lebih matang dari pemikiran gue untuk menikah muda. Ada begitu banyak alasan. Alasan yang mungkin tidak akan kalian mengerti. Alasan yang mungkin akan membuat kalian berpikir 'ah gitu doank' dan pikiran menyepelekan lainnya. Tapi gue sama sekali tidak menyalahkan pikiran itu. Wajar. Kalian tidak merasakannya.Gue yang merasakannya.
     Salah satu alasan dominan adalah privasi gue yang terlalu banyak dihujat orang. Dimana gue punya pemahaman tersendiri tentang hidup gue, tentang rumah tangga gue dan juga keyakinan gue, dan (beberapa) dari kalian tidak menyetujuinya lalu berakhir pada komentar sinis dan pedas yang sangat menyakitkan. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan (ntah lewat twitter, message fb, line ataupunask.fm) tentang privasi gue yang hampir selalu membuat gue mengelus dada. Itu berat. Sekali lagi gue katakan : ketika kehidupan pribadi lo dihujat banyak orang, rasanya berat!
     Alasan kedua adalah (beberapa) dari kalian membuat gue kehilangan esensi dari menjadi blogger. Daripada seorang blogger, gue lebih seperti seorang konsultan atau mungkin semacam motivator. Begitu banyak pertanyaan yang masuk, dan malah terkadang pertanyaannya itu lagi - itu lagi. Gue akhir akhir ini lebih sering menjawab pertanyaan daripada menulis. Dan itu tidak menyenangkan.
     Gue sebenarnya senang berbagi. Gue pernah ada di posisi seorang wannabees. Gue pernah ada di posisi sangat takut gagal, tidak percaya diri dan sebagainya. Jangan ajari gue tentang perasaan itu, gue juga sudah pernah mengalaminya. Tapi percayalah, gue bukan seorang motivator ataupun orang yang menginspirasi. Begitu banyak cerita inspiratif diluar sana, tapi tidak bisa gue gali karena waktu gue habis untuk bekerja, suami, keluarga dan membalas email ataupun message yang masuk. Gue hanya anak kampung, mencoba peruntungan dan ternyata sangat beruntung bisa lolos dalam sekali percobaan. Gue tidak punya pengalaman hebat seperti belasan kali ikut tes, kemudian akhirnya lulus. Percayalah, niat awal gue membuat blog ini hanya untuk menuliskan catatan penerbangan dan juga keseharian gue. Bukan menjadi ajang diskusi tanya jawab dimana kemudian kalian berhak mencampuri urusan pribadi gue.
     Gue menyadari bahwa gue juga punya andil disini. Gue terlalu senang karena punya banyak pembaca yang mencintai blog gue. Gue senang karena tulisan gue diminati. Akhirnya gue berusaha memenuhi permintaan pembaca tanpa mempedulikan fakta bahwa bukan itu yang gue inginkan. So I apologize, deeply in my heart. Gue meminta maaf atas kesalahan gue baik yang disengaja maupun tidak. Gue meminta maaf kalau mungkin isi post blog gue ada yang menyinggung perasaan kalian. Gue minta maaf karena membiarkan kalian mengenal gue terlalu dekat. Gue meminta maaf untuk begitu banyak hal. Satu yang harus diingat, gue akan terus menulis. Mungkin bukan sebagai pramugalau. Mungkin bukan sebagai siapapun. Tapi gue akan selalu menulis.
     Akhir kata : selamat menikmati tulisan terakhir dari seorang pramugalau.

Monday, 17 March 2014

CAPAS : Salah Tusuk Konde

    
     Gue sebenernya rada sebel kalo kebagian rute ngalong. Alasan pertama, gue harus bangun tengah malam dan geret koper ke bandara bareng maling-maling beraksi, sementara gue adalah penderita insom yang baru bisa tidur jam 10 malam ke atas. Alasan kedua, itu merusak siklus hidup normal manusia yang beraktifitas dari pagi hingga sore dan istirahat di malam hari. Rasanya gak enak banget! Tapi, karena mata pencaharian gue memang mengharuskan pramugari-pramugara-(even)pilot available untuk bertugas kapanpun-jam berapapun, maka gue hanya bisa berkata : disyukuri ae wis.
     Nah, kemarin gue baru pulang dari schedule CGK - MDC - CGK 01.45 WIB (lo gak salah baca, itu memang pukul 1 lewat 45 menit pagi BUTA). Sebenernya gue udah beberapa kali menjalankan schedule itu, tapi baru kali ini gue bener-bener emosi. Karena penumpang? Bukan. Karena crew? Bukan. Itu karena gue sendiri : salah tusuk konde!
     Maskapai gue mengharuskan  pramugarinya sanggulan ala french-twist (sanggulan yang paling banyak dipakai di maskapai dalam dan luar negeri). Gue gak terlalu gape bikin sanggulan tanpa hair-spray. Kalau mau rapi, gue harus mengorbankan rambut gue yang indah ini untuk di semprot hair-spray. Tapi terkadang rambut gue memang bisa diajak kerjasama, bisa rapi tanpa menggunakan hair-spray (walaupun setelah belasan kali percobaan). Nah, ntah kenapa, malam itu gue sukses membuat sanggulan yang RAPI banget tanpa hairspray. I'm serious! Sanggulan gue hari itu memang rapi banget, banget dan banget (sayang gue gak sempat berfoto ria sehingga gak punya barang bukti disini). Sample sanggulan yang gue pasang di atas kalah jauh! Pokoknya ini bener-bener rapi dan tinggi, kaya emak-emak pejabat yang mau arisan dan les hulla-hup. Bisa dibayangin ga? Bisa lah, pokoknya gue ngerasa kece banget hari itu.
     Awalnya memang gak berasa, kepala gue masih ngerasa enteng dan mood gue karena ngerasa cakep pun masih bagus. Gue baru berasa uring-uringan setelah service. Mata gue ang berat, ditambah perut keroncongan karena belum sempat makan sebelum berangkat terbang, ditambah kepala gue yang nyut-nyutan dan gue gak tau alasannya kenapa. Selesai service gue mengeluh sama senior gue, dan mereka cuma bilang "mungkin lagi kelaperan doank, Din. Makan gih!"
     Selesai makan, kepala gue masih nyut-nyutan. Ditambah ada anak kecil yang buandeeeel minta ampun gangguan gue di galley. Gue suka banget main sama anak kecil, tapi kali ini ntah kenapa gue jadi sensitif dan emosian (dan gue saat itu masih gak tau alasan kenapa gue jadi emosian). Jadi waktu tuh anak kecil narik narik celemek gue terus, gue nunduk sehingga sejajar dengannya. "Adek, bisa diem gak??" kata gue pelan, nusuk tapi sambil tetep tersenyum. Bukannya ketakutan, tuh bocah malah senyum sumringah dan narik sanggulan gue. Gue pengen teriak, sanggulan yang tumben-tumbenan bagus nan rapi (yang baru terjadi setelah gue jadi pramugari selama 2 tahun) dirusak oleh bocah nakal dengan mudahnya. Gue langsung menjelma menjadi Dewi Durga dan melotot sejadi-jadinya! Meskipun gue gak ngomong sepatah katapun, sepertinya si bocah tau kala pramugari yang dikerjainya sudah angkara murka. Dia langsung lari minta perlindungan ke Ibunya. Gue langsung masuk lavatory (istilah toilet di pesawat) dan melihat betapa hancur dan acak-acakan rambut gue saat itu. Pupus sudah harapan gue buat jadi cabin crew paling kece sampai landing terakhir. Gue mencoba membuat sanggulan ulang, tapi gak berhasil membuatnya sebagus tadi. Maka gue pun pasrah dengan sanggulan apa adanya.
     Setelah mendarat di Manado, gue baru sadar kalau kepala gue gak nyut-nyutan lagi. Gue masih penasaran, kemana rasa nyut-nyutan tadi pergi. Gue langsung berpikir kalo gue mengidap tumor otak atau kelainan tulang kepala atau penyakit-penyakit menyeramkan lainnya.
     "Kalau gue rasa, itu karena lo salah nusuk jepit kondenya deh. Biasanya emang kaya gitu sih. Kalau dicabut juga hilang sakitnya."
     Okeh. Ternyata cuma salah tusuk konde. Baiklah. Itu menjelaskan semuanya. Thanks Mbak Rama..

Friday, 14 March 2014

Ceritaku Untuk Ibu

     2 hari lagi menjelang hari pernikahanku di Jakarta. 2 malam terakhir aku memang menangis, mataku hingga bengkak dibuatnya. Namun ada yang berbeda dari malam kemarin. Karena terlalu lelah dengan kucuran air mata yang memaksa terus jatuh, maka aku tertidur dengan linangan air mata. Dalam mimpiku, aku dibawa kepada kenangan 15 tahun lalu, dimana Radinna kecil masih menggunakan seragam merah-putihnya.
     "Pokoknya Ugek mau buku tulis baru, Buk! Ugek gak semangat nyatet pelajaran di kelas kalo buku tulisnya udah 'elek kayak begini!" kata Radinna kecil dengan ketusnya. Bibirnya mengerucut, tanda sebentar lagi tangisnya akan meledak.
     "Ya sabar, Gek. Ibuk gak ada uang. Tahun ajaran baru gak selalu berarti semuanya harus baru. Justru disana hebatnya anak Ibuk kalo bisa terus berprestasi meski tanpa buku baru. Bukumu yang lama kan masih bagus, halaman belakangnya masih banyak yang kosong," dengan sabar Ibuk berusaha menenangkan Radinna kecil. Aku yang melihatnya emosi sekali! Tega-teganya anak itu berteriak dengan Ibuknya hanya karena menginginkan buku tulis baru!
    "Ibuk emang pelit! PELIT!" pekik Radinna kecil. Ia membuka gordyn terlalu kencang hingga copot dari tiangnya. Ia tak peduli. Ia tampak kesal karena keinginannya tidak terpenuhi. Keinginan yang menurutnya mulia, ingin buku baru agar semangat belajar. Tapi sungguh membuat sesak dada Ibuk yang merasa tak mampu membahagiakan anak-anaknya. Dalam mimpi aku melihat Ibuk menangis. Pilu sekali. Tanpa sadar, aku ikut menitikkan air mata. Alangkah durhaka aku saat itu, Buk. Tega-teganya membuat Ibuk menangis seperti itu.
      Aku terbangun dan menyadari bahwa aku tertidur dalam posisi duduk. Aku membenarkan posisi tidurku dan merenung. "Sebegitu besar kasih sayang orangtuaku, dan aku selalu membuat mereka menangis kecewa. Kini saatnya kubuat mereka bahagia. Akan kubuat masa tua mereka bahagia. Mungkin tidak bergelimang harta, tapi cukup untuk tidak meneteskan air mata."
     Itulah ikrarku.
     Satu bulan berlalu. Aku telah dinikahi pria idamanku. Dan masalah itu datang. Emosi, bosan, muak dan kekecewaan membuatku ingin melayangkan surat pengunduran diri. Aku berusaha mencari pekerjaan lain, sembari menunggu tahun ajaran baru. Lowongan pegawai XXI, BlitzMegaplex, Gramedia hingga penyiar radio habis kutelusuri. Tak peduli dengan gaji yang akan kuterima nantinya, yang penting aku minggat dari perusahaan ini. Emosiku tak tertahan lagi, hingga suatu ketika suara Ibuk ditelfon meredamnya.
     "Tolong dipikir lagi keputusanmu, Gek. Maaf kalo Ibuk bergantung padamu. Anak perempuan, sudah pula dinikahi orang. Tapi memang kamu yang Ibuk andalkan. Kamu yang Ibuk banggakan. Maaf kalo Ibuk menaruh beban ini di pundakmu, Gek."
     Aku menangis dan tak mampu berkata-kata. Sudah lama aku tidak mendengar Ibuk menangis. Dan kini beliau menangis karenaku. Sungguh besar dosaku kepada Ibuk. Sungguh telah kukotori surgaku dengan kesedihannya. Maka cepat-cepat kusimpan surat pengunduran diriku dan kukunci di laci ingatanku yang terdalam, agar tak sampai hati lagi aku untuk melakukannya.
     "Ibuk, semua ini kulakukan bukan semata-mata untuk membalas jasa karena pernah menumpang inap 9 bulan di rahimmu. Aku melakukannya untuk tujuan sederhana : membuatmu bahagia."

Thursday, 13 March 2014

CAPAS : Kapal dan Bahtera Rumah Tangga

     Saya heran, dengan orang orang yang suka sekali menganalogikan hubungan rumah tangga dengan kapal. Hubungan suami istri disamakan dengan nahkoda. Guys, it was totally DIFFERENT! Rumah tangga ya rumah tangga, gak bisa kita samakan dengan kapal ataupun pesawat jet sekalipun. Saya baru saja menikah, saya sebenarnya tidak pantas memberi kuliah tentang hubungan rumah tangga. Namun tentu saya berhak mengutarakan pendapat saya jika kalian mempergunjingkan masalah rumah tangga saya, ya kan?
     Bagi saya, kapal itu (yang seringkali dianalogikan sebagai bahtera rumah tangga) adalah sebuah perangkat. Rumah tangga berbeda, ia adalah hubungan suci di mata Tuhan (dimana KITA SEMUA percaya Tuhan itu satu, benar?). Kapal itu benda mati yang bisa dilihat, bisa kita raba. Sementara rumah tangga itu kasat mata, kepercayaan kita akan ikatan itulah yang membuatnya berbeda dari sekedar hubungan persahabatan dan berpacaran, tentu selain fakta bahwa kita juga diikat melalui surat-surat alias dokumen pernikahan. Kapal memiliki satu pemimpin, ia juga memiliki satu co-pemimpin. Kalau rumah tangga diibaratkan kapal, bagaimana jika kapal tersebut memiliki 3 crew? 1 pilot dan 2 co-pilot (which is itu sering terjadi)? Apakah itu berarti rumah tangga juga diperbolehkan? Satu pemimpin (suami) dan dua co-pemimpin (istri)? Begitu? Di islam mungkin memang diperbolehkan, tapi dengan syarat yang panjang. Lalu bagaimana dengan pasangan di agama lain dimana agamanya melarang poligami? Disini saya menilai, kapal, pesawat atau apapun tidak layak dianalogikan sama dengan hubungan rumah tangga.
    Kemudian, saya heran dengan pendapat orang-orang yang mengatakan jika dalam satu rumah tangga terdapat dua keyakinan (pada konteks ini kita berbicara agama), maka bisa dipastikan hubungan rumah tangga tersebut akan bermasalah. Apakah mereka cenayang? Apakah mereka bisa membaca masa depan? Apakah mereka punya kantong ajaib Doraemon? Saya tidak tahu. Namun sekali lagi saya katakan, saya baru saja menikah. Benar, usia pernikahan saya baru seumur jagung. Kami baru berpacaran 1.5 tahun dan menikah sebulan. Tapi itu bukan dasar bagi kalian untuk memberi saya cap bahwa kedepannya hubungan rumah tangga kami akan dirusak karena agama.
     Di ajaran agama Hindu, kami sangat percaya dengan hukum karma. Apa yang anda tanam, itu yang anda tuai. Dan itu bersifat personal. Itulah yang hingga saat ini, saya dan suami pahami. Sebagai sosok yang tidak antipati terhadap agama lain, kami tidak terlalu kesulitan menerima perbedaan diantara kami. Ketika dulu dia berpuasa, maka saya menyiapkan sahur dan sebisa mungkin tidak makan ataupun minum dihadapannya. Meski ia berkali kali berkata "Yang puasa itu saya, dan saya tidak sekedar berpuasa. Saya menahan lapar, emosi dan nafsu. Kalau umat lain jadi tersiksa karena merasa harus menghormati saya, berarti puasa saya tidak afdol". Saya tetap berpuasa 'dihadapannya'. Itu adalah tenggang rasa yang saya tunjukkan kepada pacar saya (saat itu kami belum menikah).
     Ketika saya pulang ke Bali dan bersembahyang, ia turut mengantar saya dan ikut masuk ke dalam Pura. "Ini rumah Tuhan juga kan? Berarti Tuhan saya juga pasti ada disini" itulah yang suami katakan setiap kali mengantar saya ke pura. Ketika saya menyantap daging babi kesukaan saya, ia turut mendampingi, meskipun pada awalnya saya merasa sungkan, namun ia selalu berkata "Kan yang makan daging babi kamu. Saya kan cuma menemani. Masa dosa? Kalau tidak, berarti kamu gak usah sungkan". Dan akhirnya kami pun menyatu, saling mendukung dan menghormati agama masing-masing. Itu saya lakukan selama 1.5 tahun bersama, dan syukurnya belum ada perubahan sikap diantara kami sampai sekarang.
     Kita tidak bisa melihat masa depan. Namun kalaupun nantinya perpisahan itu terjadi, saya yakin itu bukan karena agama. Agama hanya cara yang berbeda. Saya ke pura, dia ke masjid. Saya makan babi, dan ia makan sapi. Berbeda bukan berarti tidak bisa berjalan beriringan. Asal kita sudah menanamkan itu, saya rasa agama tidak akan menghalangi hubungan cinta walau dengan azas perbedaan sekalipun. Toh kita memang berbeda. Dari lahir bahkan kita sudah berbeda-beda. Kenapa harus agama yang memisahkan? Saya yakin, itu hanya sisi egoisme yang kita pelihara dimana kita memaksakan pendapat yang sama terhadap orang lain. Keyakinan itu masing-masing, Bung! Bukan bermaksud sok bijak, apalagi menasihati. Saya hanya berpendapat : jangan campuri urusan orang lain, terlebih dengan cara yang tidak sopan. Jangan paksakan keyakinan orang lain, apalagi jika menggunakan kekerasan.
Terima kasih.

Friday, 28 February 2014

CAPAS : Salah Fokus

     Masih berbau soal pernikahan, gue lagi kesel nih, gegara punya adik ipar seorang artis, pernikahan gue jadi rada salah fokus. Maksudnya gimana Makk? Maksudnya gini, gue share foto di instagram, kebanyakan temen-temen pada nanyain adik ipar gue itu. Gue share foto di BBM, pada nanyain dia juga. Yang paling parah nih, di album foto pernikahan dan video pernikahan gue, adik ipar gue itu banyak banget disorot karena kecakepannya yang ngebuat fotografer gue tergila-gila.  Ini salah satu kasus yang terjadi dengan fotografer gue.
     "Lah, Om? Perasaan di album ini banyak foto adik ipar gue dah daripada foto Ibu dan Ibu mertua gue?"
     "Iye nih Din, adik ipar lo cakep sih!"
     Lain lagi dengan temen-temen seangkatan gue model si Atma, Rosi, Mela, Rina dan Dita yang bela-belain dateng ke acara sukuran gue di Jakarta.
    "Eh, Din. Panggilin Mbak Disti donk! Mau foto bareng artis!"
     Oh meeennn! Foto sama gue aja belom, udah pada minta foto bareng adik ipar gue. OMAIGOT!
    Susah banget punya adik ipar cakep, kadang jadi berasa dibanding-bandingin.
     "Ipar lo udah punya dua anak aja bodynya bagus gitu, masa lo udah bergelambir gini sih? Fitnes lagi gih!"
     "Disti mah cocok kulitnya gelap, eksotis jatohnya. Lah elo? Jadi butek!"
     "Kok Maherda mau ya sama elo?"
     Yang terakhir, GUE NYERAH.
    Alhasil, setiap kali ada yang nanyain gue, dengan ngotot gue bilang bahwa adik ipar gue bukan artis, biar gak salah fokus lagi. Hahahaha.
Maherda, Radisti dan Kaira. Udah kaya Ibu-Bapak-Anak aja ya?


CAPAS My ID Line Was Dead Active

     Sudah hampir setahun line menemani gue untuk bisa lebih dekat dengan sahabat dan pembaca blog pramugalau ini. Dan berat banget buat gue untuk menyatakan ini : aktivitas line dengan terpaksa harus gue non-aktifkan.  Sebenernya aplikasi tersebut sudah gue uninstall kurang lebih seminggu yang lalu, tapi gue baru bisa mendeklarasikannya disini. Cailahh... Gaya beet dah gue! Hahaha, but seriously, gue bukannya gak punya alasan untuk melakukan itu.
     Jadi beberapa hari sebelumnya, gue sempat dikejutkan oleh sebuah line yang masuk dari seorang pembaca bernama Kania or Sania (gue lupa). Gak ada tornado gak ada topan, gue langsung membaca kalimat "Sombong banget sih!" dari line tersebut. Gue yang dasarnya perasa itupun langsung gak enak hati. Takutnya dia pernah nyapa di jalan, gue gak liat. Kan harus diluruskan. Karena sejauh ingatan gue, gue itu anak baik baik yang gak sombong, rajin menabung dan sayang banget sama suami. Jelas gue gak ridho kalo dibilang sombong begitu saja. Maka,walaupun gue lagi sibuk ngurus undangan buat acara syukuran gue, akhirnya gue memberanikan diri untuk bertanya.
     "Maaf, saya sombong kenapa ya?"
     "Kakak di line gak pernah balas!"
     Gue shock! Gue berasa tersangka perselingkuhan dimana simpenan yang selama ini gue umpetin dari publik nodong gue karena gak pernah balas line-nya. Gue scroll up line dari Kania or Sania itu, tapi gue tidak membaca ada pesan line masuk sebelum tuduhan sombong ini.
    "Well, mungkin pesannya gak masuk atau ada kesalahan di line saya, tapi saya tidak mendapat pesan sebelum ini loh. Tapi saya minta maaf kalo udah bikin kamu ngerasa saya sombong."
     Akhirnya kasus berakhir dengan damai sih, gue ngeladenin line dia yang masuk dan akhirnya nelantarin undangan gue yang belum gue tulis juga 'kepada siapa'-nya. Beberapa hari setelahnya, gue memutuskan untuk bertapa di gunung Kelud. Gue merasa ini bukan hal sepele, dan sebenernya, dikatain sombong via line bukanlah pertama kalinya.
     Gue mengingat kembali tujuan gue membuat blog ini. Gue saat itu hanya ingin berbagi, ingin tulisan gue di baca, ingin menceritakan sisi lain dari profesi gue yang selalu dikaitkan dengan kegelapan dan glamouritas kota Jakarta. Kemudian, karena banyaknya permintaan gue membuat line. Agar pembaca bisa menghubungi gue via line dan bertanya tanya lebih leluasa. Gue tau perasaan seorang FA wannabees yang dilanda kegelisahan akan gagal tes saat perekrutan dan semacamnya. Maka gue berniat untuk memotivasi mereka semua, menebus kesalahan gue pasca tragedi 'Septi di Padang'. Pas gue pikit-pikir, kenapa gue berasa kaya Mario Teguh ya? Berbicara bijaksana, seolah semua masalah itu mudah dan bisa terselesaikan setelah membaca twit emasnya di twitter. Nope, I'm not a kind of that wise woman! Belum lagi gue harus meninggalkan beberapa aktivitas yang gue gemari seperti ngeblog dan foto narsis karena sibuk balas line dari wannabees. Gue juga kehilangan 'waktu emas' gue bersama suami. Lagi di mobil, gue balasin line. Lagi di mall, gue balasin line. Lagi masak pun gue sembari balasin line!!
     Belum lagi kebanyakan line tersebut isinya sama, gak PD dengan diri sendiri, punya masalah kulit, punya gingsul, punya bekas luka, masalah tinggi badan, berat badan... ah, tolong jangan jadikan gue seorang pramugalau, istri sekaligus dokter kecantikan. I've my own life, lagipula gue bukanlah artis yang seringkali disebut di line "aku ngefans loh sama kakak". Oh my, banyak banget sosok yang bisa menjadi idola kalian. Gue? Gue gak pantes bahkan untuk menjadi inspirasi pun TIDAK! Dengan kalian berkata "kakak tuh inspirasi aku" sama aja kalian ngasih tanggung jawab di pundak gue untuk bisa menjadi contoh yang baik dimana itu akan sangat sulit gue lakukan. Gue bukan FA yang punya tingkat kesabaran setinggi monas loh, gue masih suka godain penumpang yang ngeselin. Gue suka ngetroll penumpang yang menghina gue, gue sering bermasalah dengan senior bahkan chief, ah, intinya gue gak pantes kalian tiru.
     Jadi, sekali lagi gue mohon maaf kalau ID line radinnawikantari sudah tidak valid lagi. Seperti niat awal gue ngeblog, gue akan menulis, dan tulisan tersebut akan gue bagi melalui blog. Gue bukan lah seorang motivator handal, atau seperti beberapa pramugari lainnya yang bersikap lembut dan keibuan. Yang gue tau, hingga saat ini gue masih seorang FA tengil setengah waras yang doyan ngegalau. Wasalam.

CAPAS : My Wedding Post



                Finally! I’m married already! Yah, skejul gue di bulan Februari ini memang padat, persis seperti jalanan Ibu Kota Jakarta di hari Jumat yang suka macet gak gerak. Bersyukur banget, baik acara adat di Bali dan syukuran di Jakarta berlangsung lancar, damai dan sentosa tanpa adanya aksi bunuh diri dari mantan gue ataupun suami gue. Wow, sekarang bilangnya udah suami yee. Masih gak bisa dipercaya, cewek tengil ini nikah juga! Sama pilot ganteng nan baik hati (walaupun menunggangi ford ranger merah, bukannya kuda putih seperti impian gue) bernama Maherda Ekananda. Yipie!!!
                Banyak request yang masuk untuk menceritakan perihal pernikahan gue, tapi gue enggan bercerita terlalu banyak. Gak enak bikin kalian iri. Hihihi… Maka biarlah foto-foto alay gue berbicara. Semoga cukup menggambarkan acara pernikahan dan bulan madu gue. Mohon maaf kalau tidak memuaskan, foto selengkapnya bisa dilihat di instagram : radinnanandakita. Dan wedding video gue bisa dilihatdi youtube dengan kata kunci : Maherda & Radinna atau weding ceremony Maherda & Radinna (yang upload agak salah ketik sepertinya dengan kata 'weding' tersebut). Maaf juga kalau sementara ini video tersebut hanya dapat dilihat melalui PC maupun laptop.
     But anyway, I would say a big thanks for our families, friends and so many others who help us for our wedding! Terutama buat Ibuk-Bapak tercinta yang memberi restu putri kecilnya menikah, Ibu mertuaku yang iklas menitipkan putra semata wayang goleknya kepada gue, buat Kak Prinka (Sepupu iparku yang eksotis) atas wedding gownnya yang cantik puol, buat Mbak Disti yang menyumbangkan make up artistnya, buat Mbok Amik (ipar dari kakak pertama gue) yang nyumbangin kain buat suami gue, Mas Nawal dan Bembi (yang lagi jomblo) buat kursus line-dance dan yoga, daaan masih banyak banget orang-orang yang ngedukung pernikahan kami. THANK YOU SO MUCH!!!!
Check it out!
Flight to Bali with Maherda's family using GA xxx (forgot the flight number).
 
He knows my favourite! Gifts from my uncle.

Balinese bride. Make up by : Bli Dewa Wijana.
Prosesi adat Bali.
We were dancing there.
With families and friends. Thanks for coming!
Wedding album.

Wedding bedroom, gift from Kak Prinka and Mas Riza at hotel The Lovina.
At Tanjung Benoa Bali. Try almost all the kind of watersport.

At Kuta Beach. Try for catching the sunset.

In front of Hard Rock Hotel, alaynisasi.
Feels like song of Beautiful In White was made for me.
My beloved husband.
Bersama Ibuk dan Bapak gue yang kueeeceee abis!
Calon Kakak ipar yang kecantikannya mau nyaingin gue.
Temen bikin film pendek bareng : DANIEL!

Wednesday, 12 February 2014

CAPAS : Mbak Steak Ayam



            Gue paling benci membawa penumpang OKB alias Orang Kaya Baru. Ntahlah, mungkin sebenarnya mereka orang kaya di kampungnya atau hanya orang biasa di Kota yang mau berpura-pura kaya. Yang jelas gue seringkali mengelus dada untuk OKB seperti mereka.
            Hari itu penerbangan dari Cengkareng – Balikpapan – Cengkareng – Pekanbaru – Cengkareng. Sebuah schedule mematikan, 4 landing yang dijamin bikin capek badan. Maka di leg terakhir, penerbangan dari Pekanbaru menuju Jakarta, gue bertemu dengan penumpang yang (jika gue cukup tega) ingin sekali gue turunkan dari penerbangan itu. Ia seorang cewek yang mungkin usianya sepantaran gue dengan tanktop putih dibalut blazer motif macan dan celana pendek robek-robek dan sepatu hak tinggi 7cm berwarna keemasan. Oh my, itu adalah bencana fashion terburuk yang pernah gue liat! Bukan karena gue tidak menyukai motif macan, gue sangat membenci caranya memadukan pakaian. Tapi seburuk apapun selera fashionnya, ia tetap penumpang gue. Penumpang dengan blazer tutul macan. Haha. Ups.
           “Selamat malam,” gue tersenyum tiga jari. Ia melirik gue sekilas dan memutar bola matanya. Gue bingung, MAKSUDNYAH?!! Gue gak habis pikir kenapa ada penumpang yang memutar bola matanya dan melihat gue dengan sinis setelah gue menyapa mereka dengan ramah. Dosa apa lagi gueeeee!!!!!
            Gue tidak membiarkan cewek dengan blazer tutul macan itu menghancurkan mood kerja gue saat itu. Gue udah cukup letih dengan 3 leg terakhir, gue gak ingin kehilangan semangat cari duit hanya karena dijutekin satu penumpang.
            “Mbak, maaf. Ini aku duduk dimana ya?” seorang penumpang menunjukkan boarding pass dengan muka kebingungan. Ada dua kemungkinan penumpang pria yang melakukan ini. Satu, mereka baru pertama kali naik pesawat sehingga mengesampingkan rasa malu bertanya karena takut tersesat dipesawat. Dua, mereka sedang mencoba peruntungan menggoda pramugari secakep gue dengan dalih menanyakan nomor tempat duduk. Awalnya nomor tempat duduk, kemudian nomor hp atau pin BB. Uhuk!
            “Biar saya tunjukkan,” gue mengambil boarding passnya dan mundur 4 baris ke belakang. Ia duduk di nomor 16B Gue melirik penumpang yang duduk nomor 16C, si bencana fashion duduk manis disana.
            “Silahkan Mas, tempat duduknya ditengah. Karena Mas duduk di dekat jendela darurat, saya mohon kerjasamanya untuk tidak meletakkan bagasi di bawah kursi atau memangku bagasi anda, karena akan menjadi obstacle saat keadaan darurat nantinya,” gue menjelaskan sambil berusaha menahan nafas. Ada bau parfum menyengat menusuk hidung gue. Snif snif… ternyata si cewek blazer tutul itu menyemprotkan parfum ntah-apalah-itu dengan semangat ’45. Mungkin ia mengira gue nyamuk dan berusaha mengusir gue dengan parfum ABATE.
            SIngkat cerita, tibalah saatnya service. Gue kebagian service ditengah, itu artinya gue akan service penumpang dari nomor kursi 15-23. Biar gue perjelas, berarti gue harus memberi service si cewek blazer tutul tadi. Oh my…
            “Permisi, boleh saya buka mejanya? Pilihan menunya nasi ayam dan nasi daging. Mau yang mana?” tawar gue pada deretan penumpang nomor 16A-16B-16C.
            “Saya nasi ayam dan air mineral,” jawab penumpang 16A.
            “Saya nasi ayam sama orange juice, gak pake es,” jawab penumpang 16B (si Mas-Mas kebingungan tadi).
            Gue menunggu si blazer macan menjawab, tapi ia terlihat asik dengan handphonenya. Kepalanya bergerak-gerak menikmati music di headsetnya.
            “Mbak? Permisi? Mau makan apa?”
            Oh, I’m chicken steak!” jawabnya singkat sambil memasang kembali headsetnya. Oh, bule toh. Lucunya itu muka ga ada bule-bulenya, pemirsah! Okeh, jadi (kalo gue gak salah ngartiin) elo steak ayam? Elo adalah steak ayam? Good, panggilan baru!
            Excuse me, we don’t have chicken steak as menu,” gue menahan nafas. Dia pikir ini restoran bintang lima?! “We only have steam rice with beef or steam rice with chicken. Which one do you like, Miss?”
            “Hah? Pardon?” ia membuka kembali headsetnya. Grrr, gue gemes banget! Penerbangan Pekanbaru- Jakarta itu pendek, dan gue harus dipersulit dengan penumpang sok bule seperti ini.
            We only have chicken or beef, both of them aren’t steak. Which one do you like?”
            “Chicken!” jawabnya masih dengan jutek. Sebelum ia memakai headsetnya kembali, gue langsung memotong dengan menanyakan pesanan minumannya.
            And what do you want for drink?”
            “Milk!”
            “I’m sorry, we don’t have any milk yet. Do you want another choice? We have orange and apple juices, pepsi, mineral water, and for hot drinks we have tea and coffee.”
            “Ok, juice orange.”
            Gue ingin sekali tertawa keras-keras. Juice orange? Jus jeruk kan maksudnya? Oh c’mon a five years kid knows that is orange juice! Not juice orange!
            “With ice?” tanya gue masih dalam usaha menahan tawa.
            “Ya, ice two.”
            Apapula maksud Mbak Steak Ayam ini sekarang? Oh my, ia tidak hanya punya selera fashion yang buruk, grammar bahasa Inggrisnya hancur lebur! Gue meletakan pesanannya di atas meja. Ia tidak mengucapkan terima kasih seperti penumpang lainnya. Maka gue berinisiatif menggodanya.
            “You are welcome. Bon appetite.”
            “What?” katanya.
            “I’m sorry? I hear you say thank you, and my job is to answer it by ‘you are welcome’. Am I wrong? Oh, you ask me about those words, ‘bon appetite’, rite? It’s like ‘enjoy your meal’ in English. Or like ‘selamat menikmati’ in Indonesia,” jawab gue panjang lebar. Ia terlihat kesal.
            “Saya gak jadi makan, ambil aja nih makanannya. Gak enak!”
            Oh Miss, you haven’t try it. It might not a five star airlines, with chicken steak included as menu, but it’s good enough to eat,” jawab gue masih dengan bahasa Inggris.
            “Apaan sih, lo ngomong apa? Ambil nih, gue gak mau!”
            As you wish, Miss. With my pleasure, I’ll take it back. Thank you for flying with Batik air, anyway.”
            Gue mengambil tray makanannya dengan senyum tiga jari yang gak hilang-hilang daritai. Mungkin, sebenarnya itu adalah senyum 4 jari, gue gak sempat mengukurnya. Gue terlalu senang saat itu.
           

Friday, 7 February 2014

Apologize



            Pertama, I should do apologize. Kenapa? Karena postingan gue bakalan sering ngaco nantinya. Gue sedang dalam masa transisi dimana gue berusaha keras merangkai kalimat dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, serius, penuh majas dengan tingkat implisitas yang cukup tinggi. Ya, gue sedang menggarap novel (kali ini benar-benar novel serius) yang mudah-mudahan bakal jadi buku kedua gue (mengingat buku pertama belum brojol sampai sekarang). FYI, sangat sulit bagi gue yang sudah akrab dengan bahasa teatrikal untuk bersahabat dengan naskah komedi yang ringan dan bersifat menghibur. Ketika gue (cukup) berhasil melakukannya, gue tertantang untuk membuat sebuah novel (salah satu kekurangan gue adalah : gue kesulitan menulis novel). Mungkin akan lebih mudah jika gue membuat novel komedi seperti Lontang Lantung karangan Roy Saputra. Tapi gue menantang diri gue untuk membuat sesuatu yang lebih serius. Sebuah novel yang membuat pembacanya mengandalkan daya imajinasi masing-masing dengan plot cerita yang menggantung. Sebuah novel yang berlatar salah satu tradisi di Bali yang masih dipertahankan hingga sekarang. Sebuah novel yang akan mengingatkan gue bahwa gue pernah menjadi penulis naskah teater. Yah, begitulah idenya. Doakan saja.