Friday, 19 December 2014

Pernah Sakit Hati? Ini Pertanyaan Atau Pernyataan Ya?

‘Lo pernah sakit hati gak sih, Din?’ adalah sebuah pertanyaan yang (anehnya) sering banget ditanyain sama temen-temen gue. Of course I do! Bahkan kalau boleh jujur, gue ‘cukup’ sering sakit hati. Salah satu pengalaman sakit hati yang paling berkesan sepanjang hidup gue adalah saat gue baru beberapa minggu resmi menjadi seorang pramugari.

Sunday, 14 December 2014

Nothing's Gonna Change My Love On You-Glenn Medeiros

“I might have been in love before, but it never felt this strong.”

            Sinar mentari yang begitu terik memaksa masuk melalui sela-sela tirai di kamar hotel yang mereka inapi. Arga mengerjapkan matanya perlahan. Hari itu penerbangan mereka sangat singkat, hanya Jakarta – Surabaya dan langsung menginap di hotel. Ia mengambil telefon kamar dan menekan nomor kamar Allune yang sebenarnya hanya berjarak beberapa kamar disebelahnya. Ia tidak bisa berpisah terlalu lama dengan gadis itu, Allune sukses membuat seorang Arga Malligan kelimpungan layaknya ABG yang sedang merasakan cinta monyetnya.

Monday, 1 December 2014

'Terima Kasih Ibu'

            Berapakah usia anda saat ini? Mungkin rata-rata reader blog saya ini berusia belasan hingga 30 tahun. Dalam 10, 20 atau 30 tahun masa hidup anda, berapa kalikah anda pernah berterimakasih pada Ibu anda atas kesempatan luar biasa untuk hidup selama itu? Percayakah anda jika saya mengatakan bahwa saya belum pernah sekalipun berterimakasih pada Ibu saya? Tidak? Baiklah. Saya akan bercerita suatu kisah tentang bagaimana hal itu bisa terjadi.

Monday, 24 November 2014

EMIRATES RECRUITMENT

     Hallo semua, apa kabar? Maaf kalau postingan kali ini agak baku karena rupanya pembaca blog gue, eh saya bukan hanya wannabe-wannabe muda, ternyata ada Bapak Pilot yang juga setia mengikuti perkembangan blog saya ini. Bukan, we're not talking about Maherda. Tapi seorang Captain ramah yang baru-baru ini terbang bersama saya di rute Balikpapan dan Pekanbaru. Jadi demi memberi penghargaan pada beliau yang sempat-sempatnya membaca blog saya : hari ini saya ngepost buat Kapten.

Thursday, 13 November 2014

"Gara-Gara Mbak Sih, Gak Jadi Keluar Kan!"

     Penumpang suka lupa kunci lavatory (istilah toilet di pesawat)? Udah biasa. Agak bingung juga kenapa mereka sampai 'tega' tidak menguncinya, apa karena memang berharap gue membuka pintu itu dengan mudah dan bisa melihat 'aset' pribadi mereka itu? Yah, sepertinya tidak begitu kali ini. Karena jelas-jelas penumpang gue yang salah karena gak kunci pintu lavatory, tapi tetep aja gue jadi pihak yang selalu disalahkan.

Monday, 10 November 2014

Jadi Pramugari Dulu, Nanti Mungkin Bonus Pilot

      Berawal dari status FB, akhirnya saya meneguhkan hati untuk memuatnya sebagai postingan di blog ini.  Mengenai sebuah pertanyaan "apakah harus 'berhubungan' dengan pilot baru bisa jadi pramugari?" yang kerap kali dilontarkan kepada saya. Sebenarnya saya sudah pernah membahas hal serupa, tapi kali ini saya putuskan untuk menjawab dengan gaya -agak- serius untuk memperkecil kemungkinan orang akan menanyakan hal yang sama lagi dan lagi.
     Selama hampir 3 tahun saya bekerja di dua maskapai ini, saya melihat bahwa jumlah pasangan pramugari-pilot lebih sedikit daripada hubungan pramugari-profesi lain ataupun pilot-profesi lain. Yang kita bicarakan adalah hubungan yang 'legal' maupun 'ilegal'. Ini sih sepengamatan saya ya, mungkin kalau orang lain punya hasil pengamatan yang berbeda bisa di share disini. Karena melihat sedikitnya jumlah pramugari yang berpacaran dengan pilot, sangat wajar kalau saya merasa keheranan dengan issue issue diluar sana bahwa untuk menjadi pramugari harus bisa ngegaet pilot dulu. Lah memangnya pilot siapa tho? Yang gaji kita bukan, atasan juga bukan.
     Dari hasil interview saya dengan beberapa dari pramugari yang memilih untuk tidak berpacaran dengan pilot, ada beberapa alasan yang melatarbelakangi keputusan mereka.
1. Pilot schedulenya gak tentu. Kebayang gak bisa weekend-an untuk beberapa bulan karena schedule mereka beda-beda terus. Dan gak kebayang kalau sudah menikah lalu hamil, suami kita tidak bisa mendampingi kita di masa-masa sulit itu karena lagi-lagi schedule yang tidak menentu.
2. Pilot banyak yang gak setia. Argumen ini karena melihat beberapa (beberapa loh, bukan semuanya) pilot sudah beranak-istri tapi masih juga pecicilan kesana-kemari.
3. Pilot adalah jenis pekerjaan high-risk dan itu membuat mereka takut jadi janda muda.Pernyataan ini sih tidak usah repot-repot saya jelaskan lagi.
     Tapi selain 3 alasan menolak untuk berhubungan dengan pilot itu, toh tetap ada beberapa orang yang malah berusaha mati-matian untuk mendapatkan hati sang pilot. Beberapa alasannya :
1. Pilot is ah-mazing, ruang kerjanya aja 36.000 kaki diatas permukaan laut. Kece badhay! Kalau ditanya pacarnya kerja apa, bikin mereka keliatan keren.
2. Gajinya gede. Masa depan gak suram deh (kecuali perusahaannya gulung tikar).
3. Dengan berhasil menaklukkan hatinya, berarti mereka termasuk jajaran wanita hebat. Bayangkan, diantara ratusan gadis cantik yang setiap hari menanyakan "mas mau makan apa?", dia malah memilih kamu. Bangga donk yaa...
     Nah, balik lagi ke topik awal kita tentang "apakah harus 'berhubungan' dengan pilot dulu baru bisa jadi pramugari, sepertinya jawaban saya masih tidak. Tidak. Dan tidak. Entah memiliki pasangan pilot atau pekerjaan apapun, selama kamu merasa bahagia, maka itu adalah rezekimu.
     "Jadi pramugari dulu, nanti mungkin bisa 'berhubungan' dengan pilot. Anggap aja bonus."

Saturday, 18 October 2014

INSECURE

     Masih inget pilot bernama Dhanis yang pernah gue ceritakan di blog ini? Ituloh, copilot ganteng yang mirip banget dengan Maherda tapi versi idaman wanita? Yang waktu itu hampir nikung gue pas jaman alay kami putus-nyambung-putus-nyambung itu? Wah, gak tau. juga? Ya sudahlah gue flashback dulu yaa...
     Jadi di suatu masa dimana kami (gue dan Maherda) baru banget jadian, kami mengalami masa galau yang juga dialami beberapa pasangan ababil lainnya. Karena terlalu banyaknya perbedaan diantara kami, maka gak heran kalo gue dan Maherda bisa putus nyambung berkali-kali. Nah, saat gue dan Maherda sedang dalam posisi rawan itu, gue terlibat penerbangan 4 hari bersama Dhanis. Gue in charge sebagai FA 4 saat itu, yang berarti gue selalu bolak balik service cockpit. Disanalah kemudian perasaan itu tumbuh, jeng jeng! Perhatian Dhanis dan sifat-sifatnya yang romantis, belum lagi ditambah kepintarannya yang diatas rata-rata (gelarnya sama kaya gelarnya Habibie loh) dan juga beberapa kesamaan kami yang membuat kami ngobrol sepanjang malam. Akhirnya gue yang sebelumnya merasa bahwa gak bakal ada cowok lain yang lebih baik dan sabar dari Maherda, setelah penerbangan hari ketiga mengubah pandangan tersebut. Okelah Maherda baiknya kebangetan, sabar dan tabah banget menghadapi segala kemiringan dan manja ala-ala gue, tapi ada orang lain yang mampu membuat gue bahagia, dan dia adalah Dhanis. Maka dimalam ketiga gue mensahkan pemutusan hubungan berpacaran gue dan Maherda yang diterima Mahe dengan nada datar datar saja..
     "Yaudah kalo itu mau kamu."
     Semudah itu kami berpisah. Agak sesek juga sih, secara gue ngarepnya Mahe bakal sakit hati waktu gue bilang ternyata ada cowok lain yang lebih baik dari dia. Ternyata apa yang gue harapkan gak berjalan sesuai kenyataan.
     Gue kira setelah hubungan kami kandas, gue dan Dhanis bisa berbahagia. Nyatanya, di penerbangan terakhir kami menuju Jakarta Dhanis memberitahukan bahwa dirinya sudah menikah dan punya seorang anak. JENG JEEENNGG!!!
     "Ini anak dan istri aku. Kalau memang mau lanjut ya kamu tau kondisi kita..." jelasnya lembut sekali. Gue gak nyangka, cowok sebaik dan sesempurna Dhanis tega melakukan ini kepada gue. Terlebih kepada anak istrinya. Mungkin kalau gue tidak mengalami trauma sebagai anak korban poligami, gue bakal santai aja dengan predikat wanita simpanan yang bakal gue sandang nantinya. Sayangnya gue tau pait-getirnya perselingkuhan itu seperti apa, dan gue gak mau itu terjadi kepada anak dan istrinya. Maka gue memilih untuk mundur teratur. Dhanis menghormati keputusan gue dan memilih untuk tidak banyak berbicara.
      Kami tidak pernah lagi dipertemukan setelahnya. Hingga 1,5 tahun kemudian...
     "Banyak banget reimburst taksinya?" sapa seorang pria di sebelah gue. Saat itu gue sedang mengisi form reimburst taksi untuk penggantian uang gue.
      "Cuma satu kok, ini kertas banyak begini cuma buat jaga-jaga," gue menoleh dan refleks menutup mulut gue agar seruan kaget tidak keluar dari sana. Dhanis berdiri dengan senyum menawannya seperti biasa. Dada gue berdegup lebih cepat, dan saat Dhanis sedang sibuk menulis, gue secepat kilat menyemprotkan parfum ke beberapa bagian di badan gue Belum selesai dikagetkan dengan keberadaan Dhanis di sebelah gue, ada sebuah pandangan tajam yang menusuk gue dari sisi sebelah. My God, gue lupa banget kalo ternyata ada Maherda disana! Dan tentu dia sudah memperhatikan kami dari tadi. Suasana menjadi begitu awkward bagi gue, di satu sisi ada perasaan sedih karena cowok yang gue suka ternyata udah punya istri, dan ia muncul lagi mengingatkan gue betapa penerbangan kami dulu begitu menyenangkan. Di sisi lain, gue pun kini sudah memiliki seorang suami dan gue ditikam rasa bersalah karena masih menyimpan perasaan itu ke Dhanis.
     Gue memutuskan untuk cepat-cepat pergi dan tidak membahas kejadian tadi. Maherda yang biasanya cuek mendadak menawarkan diri untuk membawa koper gue dan menggandeng tangan gue dengan mesra. Di dalam mobil ia berkali-kali mengelus kepala gue dan sesekali mencium kening gue seolah-olah akhirnya setelah sekian lama, ia takut kehilangan gue.
     "Kamu satu-satunya wanita yang bisa survive dengan sifatku yang seperti ini. Jadi wajar aku takut kehilanganan wanita satu-satunya ini hanya karena Dhanis yang sudah beranak istri itu."
     Ah Maherda, seandainya gak ada kejadian seperti ini, apa kamu bakal tetep takut kehilangan aku?

Friday, 17 October 2014

'Saya Tau' yang Nyatanya Gak Tau Apa-Apa

     Setelah gue join di maskapai yang baru, gue emang jarang banget kena semprot penumpang. Bisa dibilang hampir gak pernah. Tapi akhirnya di penerbangan Jakarta - Pekanbaru gue akhirnya kena damprat lagi gara-gara makanan yang gue kasih gak anget.
     "Mbak, kamu gimana sih masaknya? Kok makanan dingin begini kamu kasih penumpangmu, hah?" kaget banget gue tiba-tiba kena amukan kaya begitu.
     "Oh maaf Bapak, ini bukan saya yang masak, tapi pihak katering kami." jelas gue. Iyalah, menurut ngana (kamu-dalam bahasa Manado) aja gue bawa kompor, penci dan temen-temennya ke pesawat. Mana muat di koper gue?
     "Iya saya tau, yang masak bukan kamu. Tapi kan kamu bisa angetin makanannya?" gue jedotin kepala ke trolley. Tadi nuduh gue yang masak, sekarang ngakunya tau kalo bukan gue yang masak.
     "Jadi begini Pak, saya minta maaf sebelumnya, tapi memang kalau penerbangan pendek seperti Pekanbaru, makanannya memang sudah tersedia langsung di tray putih itu," kata gue lagi sambil menunjuk tray putih yang sedang dipegang si Bapak. "Tapi karena penerbangannya pendek, jadi kami tidak perlu menghangatkan makanannya lagi. Semua sudah dipersiapkan katering dari bawah, inflight kami tinggal service ke penumpang. Beda dengan penerbangan 2 jam ke atas. Boks makanan yang diserahkan katering masih frozen jadi kami para flight attendant harus panesin dulu di oven. Jadi kalau makanannya gak panas, Bapak bisa complain sama kita. Tapi karena kejadiannya kaya begini-"
     "Heh kamu jangan ngejawab ya! Saya sudah 10 kali naik pesawat ini dan selalu complain sama pramugarinya tapi gak ada yang ngeyel kayak kamu!"
     "Justru itu Pak," gue menarik nafas panjang. "Sudah 10 kali Bapak complain tapi gak ada perubahan kan? Nah disini saya bukannya bermaksud ngeyel seperti yang Bapak tuduhkan, saya hanya menginformasikan bahwa ini bukan kesalahan kami. Mungkin pramugari lain memilih meminta maaf dan mengaku bahwa ini kesalahan mereka, tapi kenyataannya bukan seperti itu Pak. Kalau Bapak mau, bagaimana kalau Bapak complain langsung ke customer care kami, supaya suatu saat nanti ada perubahan. Kami secara pribadi sudah menyampaikan apa saja complain dari penumpang, namun kalau ternyata dari katering tidak ada perubahan, ya kami bisa apa? Pramugari lain memilih untuk sekedar meminta maaf. Tapi saya ingin penumpang juga tau, bahwa pada kasus ini, jelas bukan kesalahan kami." gue menunggu reaksi dari si penumpang. Gue gak peduli kalau si Bapak bakal lebih marah dan mau report gue ke chief flight attendant gue nantinya. Yang jelas gue sudah mengedukasi penumpang gue, bahwa kadang ada hal-hal yang gak sepantasnya disalahkan ke pramugari. Seperti headrack yang kelewat penuh sehingga penumpang yang datang terakhir tidak mendapat tempat untuk meletakkan bagasi mereka. Apakah itu salah kami? Bukan. Itu kesalahan dari ground staff yang tidak menyortir bagasi yang dibawa ke atas. Atau kadang itu kecurangan beberapa penumpang, sudah tau batasan bagasi yang boleh dibawa ke pesawat hanya satu koper seberat 7 kilo, tapi mereka diam-diam bawa 2-4 bagasi dan semuanya diletakkan di headrack. Nah mereka yang gak kebagian bagasi marah-marah ke siapa? Ya ke pramugarinya. Padahal kan bisa ngomong baik-baik, tapi nyatanya kebanyakan penumpang memilih untuk marah-marah ke pramugari karena berpikiran "pramugari digaji gede kan memang buat dimaki-maki."
     Believe me, kadang-kadang waktu kalian bilang 'saya tau' kenyataannya kalian gak tau apa-apa.

Tuesday, 14 October 2014

Desire To Be Important

    This is my first post about humanity thing that I will often write on my blog. I know you were asking about 'why you just continue blogging now', 'why you ever stop blogging', or 'why you put an English post here' in fact no strangers read on my blog. I'm just practice my English, am I still able to speak English as fluent when I'm in senior high school? Maybe nope, because I loose time and people to practice my English. So I do apologize if I do some mistakes on this post. Just happy reading without asking, guys !
     I do have experience when I always ignored by other kids. When I'm in elementary school, I was pretty smart in all subjects. Especially in English because my Mom was an English teacher. But in the other hand, I had difficulties to get along with other kids. I just use my time to study, and study. Because I was poor, and my parents pay my cost hardly, so I didn't want to waste my chance. I became an introvert and I didn't have much friends on those times.
     But it changed after I met my best friend, Cyndi when I was Junior high school. She's fat but she had a confidence that make her look amazing on her way. She wasn't smart as I am, but she had a bunch of friends. She also had a boyfriend while I have no one looked at me. I desperately want to be like her, but I've no idea how to make conversation with her.
     Then luckily, that opportunity that I wish for finally came. We met on the canteen and she greeted me first.
     "Hey Radinna, would you please take a sit with us?"
     I was shocked because I was invited to join with the most famous girls in our school. Cyndi was not the most pretty one, but she's the leader. She wasn't pretending that she was leading, but I just know that she was the queen bee.Otherwise, I was surprised because she knew my name!
     If you just know John Dewey-an American most famous philosopher, he ever said that the deepest urge in human nature is ‘the desire to be important'. And Cyndi know how to make people important for sure. All people wanted to be important and valuable. But you cant just saying "oh Radinna, you're so much valuable to me!". That's not such easy. You don't do it only by verbal, you do it by giving your attention. You give your time, a chance to have a coffee break together, you remembered their name even their birthday. That's what Cyndi did to me.
     Then after the conversation, we're getting closer and closer. Cyndi taught me what The school didn't taught, how to notice little people. How that kinda' attention of remembering their name can be impacted to other. To me.

JUNIORITAS

     Beberapa hari lalu gue terbang dan menginap untuk pertama kalinya di Surabaya. Ralat, pertama kali setelah gue join di perusahaan yang sekarang. Excited banget karena selain kangen Surabaya, penerbangan itu dilengkapi dengan suami unyu-unyu kesayangan gue yang maha ganteng dan rupawan : Maherda Ekananda. Dan karena kebetulan FA 1 gue Mami-Mami yang baik dan menjadi senior favorit di airlines gue, maka gue dengan senang hati ditempatkan di depan untuk service bisnis dan cockpit.
     Hari pertama rute penerbangan kami Jakarta - Surabaya - Jakarta - Surabaya stop dan langsung menginap disana. Sebenernya kalo gue jadi cabin economy rasanya gak bakal melelahkan. Tapi berhubung gue cabin bisnis dan kebetulan penumpang bisnis gue gak pernah sepi, maka sangat wajar kalo gue selalu pengen terjung payung dari atas sana. Capeknya RUAAARRR BINASAH! Tapi kerja mana sih yang gak capek? Kalo gak mau capek, jangan kerja. Simple. Maka gue menjalankan schedule itu dengan santai dan tanpa adegan gila mau bunuh diri.
      Keesokan harinya, schedule gue Surabaya - Jakarta dan menunggu selama kurang lebih 1jam untuk kemudian lanjut ke Makassar dan kembali lagi ke Jakarta. FYI, rute pendek seperti Surabaya dan Jogja kami hanya memberi boks yang berisi dua kue dan 1 botol mini air mineral. Tapi penerbangan di atas 1 jam kami memberikan layanan full service dengan dua pilihan makanan dan beberapa minuman.
     Nah, cerita JUNIORITAS ini terjadi saat penerbangan dari Jakarta menuju Makassar. Setelah gue kelar service penumbang bisnis gue yang cuma sebiji, gue duduk sambil selonjorin kaki yang rasanya capeeeek banget. Tiba-tiba anak galley belakang ting-tong (istilah kita buat penggunaan interphone alias inter-call) dan ngasih tau kalo salah satu personil mereka tewas bacok diri. Gak deng, salah satu dari mereka ada yang pingsan. Mami J nyuruh gue ngecek keadaan tuh anak, apakah pura-pura doank atau beneran nyaris meninggal.
     "Lo kan bajingan juga tuh, jadi tau lah ya mana sakit boongan mana yang beneran. Kalo dia belom sampe geletakan di lantai, berarti dia sakit boongan.": begitu titah Mami J.
     Gue bergegas ke galley belakang dengan kaki lemas. Pas disamperin tuh anak yang katanya pingsan gak ada di galley.
     "Itu loh, si Srik. Katanya lagi datang bulan. Sekarang dia ngadem di lavatory." kata FA 2 gue, Mbak Mel. Gue manggut-manggut aja. Mau gak mau gue harus narik 1 trolly dan service sendiri gantiin Srik. Mungkin karena gue udah expert binjits service economy class, gue berhasil ngeduluin dua trolley lainnya. Jadi setelah balikin trolley ke galley belakang, gue lanjut bantu service trolley mbak Mel. Dan selama itupun gue gak ngeliat tanda-tanda Srik di galley.
     "Wah, mana tuh anak? Jangan-jangan sakit beneran?" kata gue dalam hati yang mulai panik. Tapi gak berapa lama, setelah gue dan Mbak Mel selesai service, Srik akhirnya datang juga. Gue pelototin dia atas bawah dan atas lagi. Sehat-sehat aja? Pingsan dimananya nih anak?"
     Dan begitu Srik menjejakkan kakinya di galley belakang, aura singa gue langsung keluar.
     "Darimana aja lo Srik? Bukannya kerja malah enak banget ngeden di toilet?" sindir gue. Srik langsung memasang wajah lemas nan nyaris pingsan lagi, tapi gue gak percaya.
     "Iya Mbak, Srik gelap mata Mbak..."
     "Apa? Gelap mata? Lo ngemaling atau gimana gelap mata segala?" gue makin murka.
     "Bukan Mbak, maksud Srik tadi mata Srik gelap gitu trus Srik pingsan di toilet."
     "Eh, gue kasih tau elo ya Srik, gue udah sangat sangat terbiasa ngadepin junior aneh-aneh kaya elo. Mana ada orang pingsan yang sadar kalo dia pingsan? Pilih pilih pula pingsannya di toilet. Lo gak usah boongin gue deh Srik. Kalo lo emang males kerja, harusnya lo turun tadi di Jakarta, kan ada banyak tuh yang lagi nyerep bisa naik buat gantiin tugas elo. Kalo elo kaya begini, elo ngerepotin kita, dan terutama gue! Emang menurut lo gue robot maniak kerja yang gak capek? Lo tau kan service bisnis capeknya kaya gimana? Lo enak dari kemaren tinggal lempar boks doank. Gue full service terus dari kemaren, dan sekarang harus ditambah bantu service economy dibelakang. Bukannya gue itung-itungan kerja, tapi kalo begini, gue bukan cuma bantuin kerjaan anak belakang. Gue NGERJAIN tugas elo ini mah namanya!" oceh gue panjang lebar. Srik menunduk dan memasang tampang untuk belas kasihan gue.
     "Dan disini, gue gak bakal kasihan atau prihatin mau elo lagi berantem sama pacar, sama orangtua, elo lagi sakit atau elo gelap mata, gue gak peduli. Begitu lo pake seragam, lo harus siap terbang apapun keadaan elo. Be proffesional, elo udah dewasa kan? Masak harus dimarahin kaya bocah? Dan jangan karena perusahaan ini lebih baik dan terkenal gak ada senioritas, bukan berarti lo bebas males-malesan dan bikin senior lo kerja dua kali lipat. Lo bisa dikasihanin senior lain, tapi bukan dari gue. Asal lo tau, gue udah ngerasain pahit-pahitnya kerja depan belakang jaman gue masih junior. Dan lo harusnya bersyukur, lo baru seminggu terbang tapi gue masih mau ngerjain tugas elo tadi. Kalo lo diperusahaan gue sebelumnya, boro-boro dibantru, yang ada lo dimasukin trolley trus ditendang ke runway. Jadi lo gak usah aneh-aneh disini. Kerja, dapet gaji, selesai."
     Gue merapikan celemek dan bergegas kembali ke galley depan. Gue harus kembali service penumpang bisnis gue yang mungkin sudah kelar makan.
     "Dan kalo elo emang beneran sakit Srik, next flight lo gak bakal kuat buat service, karena nanti economy full. Jadi kalo lo emang sakit beneran, gue mau liat elo pingsan beneran juga next flight."
     Finally, setelah satu tahun gue gak pernah menampakkan taring gue, akhirnya saat itu gue marah-marah lagi ke junior gue yang baru seminggu terbang. Gue emang sering mendengar bahwa junior sekarang, karena tidak merasakan senioritas seperti kami dulunya, mereka jadi manja dan sama sekali tidak respect dengan senior mereka. Gue sebenernya adalah orang yang anti senioritas bahkan setelah gue punya 100 angkatan dibawah gue. Tapi bukan berarti mereka bisa jadi junioritas dan bikin kami para seniornya keteteran ngerjain tugas mereka.
     Mikirnya simple aja, elo junior, mau elo lebih tua dari gue atau pengalaman kerja lo lebih banyak dari gue, tapi di airlines ini elo baru. Di bidang ini elo baru. Lo harusnya lebih banyak nanya, lebih banyak latihan dengan ngerjain apa yang jadi tugas elo. Kalo gue dikasi 10 orang aja junior kaya Srik, mungkin gue bakal lebih memilih jadi senior yang kaku dan gak mau akrab sama mereka. Daripada saat gue bersikap baik, mereka jadi semena-mena?
     Maigat, jangan sampe 2015 nanti istilah di airlines ini ganti jadi jaman JUNIORITAS.