Thursday, 14 May 2015

WAWANPARA : Ninda Nabila Amir

WAWANPARA : Ninda Nabila Amir

Hai Ninda Nabila Amir. Selamat datang dan terima kasih sudah menjadi korban WAWANPARA alias WAWANcara PRamugari pramugaRA yang diadakan blog tergalau radinnanandakita.blogspot.com semoga dengan menjadi narasumber blog ini, kamu semakin galau di udara!
PROLOG
Well, there is a bunch of words to describe this amazing person. Ramah, cerdas, karismatik dan tentunya berwajah manis yang membuat siapapun tidak ragu kalau gadis ini seorang pramugari. Kami bertemu saat mengikuti Final Interview Emirates setahun lalu. Lalu berpisah untuk menjalani kehidupan masing-masing.

Sunday, 10 May 2015

Titik Awal Perubahan Radinna Junior

                Kalau ada yang tanya, pernah gak sih jaman junior dulu dimarah senior gitu? Jawabannya : SERING BANGET. Banyak yang bilang muka gue itu muka songong dan nagih diabisin. Tapi ada satu cerita yang bikin gue dendam, sakit hati dan gak akan pernah bisa gue maafkan sampai sekarang.
                Sebut saja namanya Mbak Nuriska, dia dulunya senior gue di perusahaan pertama gue. Saat itu gue baru terbang sekitar 8-9 bulan. Masih junior banget lah, dan sialnya gue ditunjuk menjadi cabin 4 yang artinya gue harus mendapingi dia di galley depan.

Thursday, 30 April 2015

Penting Atau Tidak Sekolah Pramugari Part 2

            Sepertinya penting atau tidak sekolah pramugari itu sangat menarik untuk dibahas kembali. Apalagi setelah merebak berita tentang kekecewaan Esy Cempaka yang merasa tertipu oleh pihak Overseas Zone (Ozone) yang berkantor di Jalan Boulevard Barat, Kelapa Gading-Jakarta Utara. Pihak Ozone menampik tuduhan tersebut dengan alasan bahwa di poster mereka sudah tertera kejelasan bahwa Ozone tidak memberi garansi untuk para kandidat menjadi pramugari/a.

Monday, 27 April 2015

Meet and Greet on Saturday, 2nd May 2015

                Halo pembaca. Sebenarnya ada beberapa tulisan yang ingin sekali gue selesaikan dan publish hari ini. Namun berhubung padatnya jadwal penerbangan di minggu terakhir gue terbang, jadi dengan terpaksa gue memutuskan untuk mengundur jadwal terbit post-post tersebut. Untuk membuat kalian tenang, ada banyak banget cerita yang selama ini gue tulis di note handphone yang belum terjamah untuk dikembangkan. So, please keep patient for that.

Sunday, 19 April 2015

Pramugari dan Bau Badan

                Beberapa pekan lalu gue sempat menghadapi kesulitan dalam menghadapi salah seorang junior gue. Sebut saja namanya Ningsih. Dia ini junior idaman gue banget, kerjanya bagus dan cekatan, inisiatifnya tinggi dan sopan dengan seniornya. Gue sih gak gila-gila banget buat dihormatin junior, Cuma kalau ada junior tengil yang petantang-petenteng padahal baru terbang hitungan bulan, ya sebel juga. Ningsih ini beda. Misalnya saja,

Saturday, 18 April 2015

Alasan Kembali

Bulan demi bulan berlalu. Ibuk mulai terbiasa atau mungkin lebih tepatnya mulai membiasakan diri dengan status baru gue sebagai seorang mualaf. Meskipun demikian, gue tetap mengingat hari raya gue dan mengucapkannya ke keluarga besar. Gue ingin mempertegas bahwa apapun agama yang tertera di KTP gue saat ini, tidak mengubah kepribadian dan bakti gue kepada keluarga. Ketakutan Ibuk kalau gue tidak mau lagi makan bersama atau pulang ke rumah tidak terbukti. Januari lalu gue pulang ke Bali dan ikut menemani Ibuk bersembahyang bersama. Tidak peduli meski itu disalahkan, menurut gue semua tempat ibadah itu rumah Tuhan.
                Dengan kondisi seperti itu, gue mulai merasa tenang. Level stres gue menurun tajam. Karena selama ini jujur saja gue selalu menomor satukan keluarga. Apapun gue lakukan demi membuat mereka bangga dan bahagia. Ketika gue membuat mereka sedih, gue merasa depresi. Rasa bersalah tentu, karena bagaimanapun gue tidak akan mencapai titik ini tanpa doa dan dukungan mereka. Maka dari itu gue sengaja menutup-nutupi status keyakinan gue yang dipertanyakan orang.
                Gue seorang mualaf. Dengan beberapa pengecualian. KTP gue muslim, namun gue terlahir hindu dan mencintai ajaran cinta kasih umat nasrani dan mendambakan hidup damai layaknya seorang Budha. Mungkin kalian masih bertanya-tanya, namun untuk apa kalian masih terus bertanya? Bukankah agama harusnya tabu untuk dipertanyakan? Bukankah cara ibadah adalah hubungan personal antara kita dan Ia yang kita percaya?
                Balik ke topik awal : alasan kembali. Setelah beberapa lama hidup tenang dan mendapat dukungan 100% dari keluarga, gue mulai semangat menulis. Meskipun ada banyak perubahan dari diri gue dulu dan gue yang sekarang. Dulu gue sangat senang meladeni chat di line, email yang masuk ataupun pertanyaan di ask.fm. Kali ini gue lebih tertutup. Gue mengganti ID line, tidak asal menerima invitation friends dari orang asing, tidak mengijinkan anonymus menyumbang komentar di blog ataupun menanyakan hal-hal pribadi di ask.fm. Gak suka? Blokir. Yang gue mau sangat sederhana : menulis dengan tenang. Karena gue berpikir, gue bukanlah Farhat Abbas yang suka mencari masalah. Kenapa harus ada orang yang segitu bencinya dengan gue ataupun tulisan gue? Niat gue hanya berbagi, menghibur dan menyalurkan hobi melalui blog. Apa yang harus dibenci dari itu?

                Jadi setelah beberapa bulan vakum, gue memutuskan kembali. Dan gue sangat sangat berharap kalian semua mengerti. Gue menulis bukan untuk dibenci. Gue menulis kembali hanya untuk menyalurkan hobi sekaligus menghibur diri. Terima kasih.  

Wednesday, 15 April 2015

Alasan Berhenti

                
                Di bulan Maret 2014 gue sempat memutuskan untuk berhenti ngeblog. Banyak alasan yang melatarbelakangi keputusan gue itu. Salah satunya yang paling berat mungkin karena gue belum cukup siap menghadapi teror ‘haters’ dimasa itu. Gue baru saja menikah satu bulan sebelumnya, orang-orang menanyakan hal-hal pribadi seperti bagaimana kami menikah, bagaimana kami mendapat restu orangtua, bagaimana rumah tangga kami berjalan dan masih banyak lagi. Dan saat itu gue belum siap untuk berterus terang. Tolong jangan berpikiran negatif, gue hanya menjaga perasaan keluarga dan terutama orangtua gue. Tentu gue sangat ingin berbagi cerita perjuangan kami dulu seperti apa, namun gue rasa kurang bijak jika sesaat setelah gue membuat orangtua berderai airmata lalu gue memuat cerita tentang bagaimana cerita dibaliknya. Jadi gue memilih diam dan membiarkan orang lain berpendapat sesuka hati mereka.

Berjuang Untuk Yang Pantas Diperjuangkan

            



            Malam ini gue baru saja kelar nonton film garapan Hanung Bramantyo yang berjudul Cinta Tapi Beda. Gue sukses dibuat bercucuran air mata, dan temen gue, si Dara Buncit (buat para pemerhati instagram gue pasti tau deh siapa mahluk satu itu) gak kalah heboh. Doi mewek sambil jugling botol smirnoff. 

Tuesday, 14 April 2015

PATA Cuma Sejuta

                Beberapa bulan belakangan ini keuangan gue dan suami agak bermasalah. Jam terbang tidak sebanyak biasanya, padahal gaji kami bergantung dari berapa jam terbang kami selama sebulan. Bisa dibilang masa ini adalah masa dimana kami paling melarat-melaratnya. Pemasukan sedikit, sementara pengeluaran banyak seperti biasa. Cicilan mobilnya Mahe yang nyaris 10 juta sebulan lah, cicilan sekolah pilot Mahe yang 6 juta sebulan lah, cicilan hutang di rumah gue lah, cicilan pegadaian gue lah, bayar pembantu harian kita lah, bayar wifi lah, listrik lah, air lah... Ah, masih banyak!

Thursday, 9 April 2015

Jadi Nebengers di Roda Pesawat Dengan Modal Nekat dan Sembilan Nyawa




Aplikasi Nebengers ternyata menginspirasi seorang pemuda yang terlahir di Jakarta dengan nama Mario Steven Ambarita dan tumbuh besar di Pekanbaru ini untuk ikut ‘nebeng’ di penerbangan maskapai Garuda Indonesia tujuan Pekanbaru-Jakarta hanya untuk pulang ke kampung halaman. Bedanya, aplikasi yang berasal dari komunitas twitter bernama sama tersebut mengandalkan asas kepercayaan, sedangkan pemuda ini hanya bermodalkan nekat dan sembilan nyawa. Bagaimana tidak? Berbeda dengan penumpang pada umumnya yang membeli tiket dan duduk manis di dalam pesawat, pemuda ini berhasil lolos dari security check bandara dan menumpang di….roda pesawat!