Thursday, 13 November 2014

"Gara-Gara Mbak Sih, Gak Jadi Keluar Kan!"

     Penumpang suka lupa kunci lavatory (istilah toilet di pesawat)? Udah biasa. Agak bingung juga kenapa mereka sampai 'tega' tidak menguncinya, apa karena memang berharap gue membuka pintu itu dengan mudah dan bisa melihat 'aset' pribadi mereka itu? Yah, sepertinya tidak begitu kali ini. Karena jelas-jelas penumpang gue yang salah karena gak kunci pintu lavatory, tapi tetep aja gue jadi pihak yang selalu disalahkan.

Monday, 10 November 2014

Jadi Pramugari Dulu, Nanti Mungkin Bonus Pilot

      Berawal dari status FB, akhirnya saya meneguhkan hati untuk memuatnya sebagai postingan di blog ini.  Mengenai sebuah pertanyaan "apakah harus 'berhubungan' dengan pilot baru bisa jadi pramugari?" yang kerap kali dilontarkan kepada saya. Sebenarnya saya sudah pernah membahas hal serupa, tapi kali ini saya putuskan untuk menjawab dengan gaya -agak- serius untuk memperkecil kemungkinan orang akan menanyakan hal yang sama lagi dan lagi.
     Selama hampir 3 tahun saya bekerja di dua maskapai ini, saya melihat bahwa jumlah pasangan pramugari-pilot lebih sedikit daripada hubungan pramugari-profesi lain ataupun pilot-profesi lain. Yang kita bicarakan adalah hubungan yang 'legal' maupun 'ilegal'. Ini sih sepengamatan saya ya, mungkin kalau orang lain punya hasil pengamatan yang berbeda bisa di share disini. Karena melihat sedikitnya jumlah pramugari yang berpacaran dengan pilot, sangat wajar kalau saya merasa keheranan dengan issue issue diluar sana bahwa untuk menjadi pramugari harus bisa ngegaet pilot dulu. Lah memangnya pilot siapa tho? Yang gaji kita bukan, atasan juga bukan.
     Dari hasil interview saya dengan beberapa dari pramugari yang memilih untuk tidak berpacaran dengan pilot, ada beberapa alasan yang melatarbelakangi keputusan mereka.
1. Pilot schedulenya gak tentu. Kebayang gak bisa weekend-an untuk beberapa bulan karena schedule mereka beda-beda terus. Dan gak kebayang kalau sudah menikah lalu hamil, suami kita tidak bisa mendampingi kita di masa-masa sulit itu karena lagi-lagi schedule yang tidak menentu.
2. Pilot banyak yang gak setia. Argumen ini karena melihat beberapa (beberapa loh, bukan semuanya) pilot sudah beranak-istri tapi masih juga pecicilan kesana-kemari.
3. Pilot adalah jenis pekerjaan high-risk dan itu membuat mereka takut jadi janda muda.Pernyataan ini sih tidak usah repot-repot saya jelaskan lagi.
     Tapi selain 3 alasan menolak untuk berhubungan dengan pilot itu, toh tetap ada beberapa orang yang malah berusaha mati-matian untuk mendapatkan hati sang pilot. Beberapa alasannya :
1. Pilot is ah-mazing, ruang kerjanya aja 36.000 kaki diatas permukaan laut. Kece badhay! Kalau ditanya pacarnya kerja apa, bikin mereka keliatan keren.
2. Gajinya gede. Masa depan gak suram deh (kecuali perusahaannya gulung tikar).
3. Dengan berhasil menaklukkan hatinya, berarti mereka termasuk jajaran wanita hebat. Bayangkan, diantara ratusan gadis cantik yang setiap hari menanyakan "mas mau makan apa?", dia malah memilih kamu. Bangga donk yaa...
     Nah, balik lagi ke topik awal kita tentang "apakah harus 'berhubungan' dengan pilot dulu baru bisa jadi pramugari, sepertinya jawaban saya masih tidak. Tidak. Dan tidak. Entah memiliki pasangan pilot atau pekerjaan apapun, selama kamu merasa bahagia, maka itu adalah rezekimu.
     "Jadi pramugari dulu, nanti mungkin bisa 'berhubungan' dengan pilot. Anggap aja bonus."

Saturday, 18 October 2014

INSECURE

     Masih inget pilot bernama Dhanis yang pernah gue ceritakan di blog ini? Ituloh, copilot ganteng yang mirip banget dengan Maherda tapi versi idaman wanita? Yang waktu itu hampir nikung gue pas jaman alay kami putus-nyambung-putus-nyambung itu? Wah, gak tau. juga? Ya sudahlah gue flashback dulu yaa...
     Jadi di suatu masa dimana kami (gue dan Maherda) baru banget jadian, kami mengalami masa galau yang juga dialami beberapa pasangan ababil lainnya. Karena terlalu banyaknya perbedaan diantara kami, maka gak heran kalo gue dan Maherda bisa putus nyambung berkali-kali. Nah, saat gue dan Maherda sedang dalam posisi rawan itu, gue terlibat penerbangan 4 hari bersama Dhanis. Gue in charge sebagai FA 4 saat itu, yang berarti gue selalu bolak balik service cockpit. Disanalah kemudian perasaan itu tumbuh, jeng jeng! Perhatian Dhanis dan sifat-sifatnya yang romantis, belum lagi ditambah kepintarannya yang diatas rata-rata (gelarnya sama kaya gelarnya Habibie loh) dan juga beberapa kesamaan kami yang membuat kami ngobrol sepanjang malam. Akhirnya gue yang sebelumnya merasa bahwa gak bakal ada cowok lain yang lebih baik dan sabar dari Maherda, setelah penerbangan hari ketiga mengubah pandangan tersebut. Okelah Maherda baiknya kebangetan, sabar dan tabah banget menghadapi segala kemiringan dan manja ala-ala gue, tapi ada orang lain yang mampu membuat gue bahagia, dan dia adalah Dhanis. Maka dimalam ketiga gue mensahkan pemutusan hubungan berpacaran gue dan Maherda yang diterima Mahe dengan nada datar datar saja..
     "Yaudah kalo itu mau kamu."
     Semudah itu kami berpisah. Agak sesek juga sih, secara gue ngarepnya Mahe bakal sakit hati waktu gue bilang ternyata ada cowok lain yang lebih baik dari dia. Ternyata apa yang gue harapkan gak berjalan sesuai kenyataan.
     Gue kira setelah hubungan kami kandas, gue dan Dhanis bisa berbahagia. Nyatanya, di penerbangan terakhir kami menuju Jakarta Dhanis memberitahukan bahwa dirinya sudah menikah dan punya seorang anak. JENG JEEENNGG!!!
     "Ini anak dan istri aku. Kalau memang mau lanjut ya kamu tau kondisi kita..." jelasnya lembut sekali. Gue gak nyangka, cowok sebaik dan sesempurna Dhanis tega melakukan ini kepada gue. Terlebih kepada anak istrinya. Mungkin kalau gue tidak mengalami trauma sebagai anak korban poligami, gue bakal santai aja dengan predikat wanita simpanan yang bakal gue sandang nantinya. Sayangnya gue tau pait-getirnya perselingkuhan itu seperti apa, dan gue gak mau itu terjadi kepada anak dan istrinya. Maka gue memilih untuk mundur teratur. Dhanis menghormati keputusan gue dan memilih untuk tidak banyak berbicara.
      Kami tidak pernah lagi dipertemukan setelahnya. Hingga 1,5 tahun kemudian...
     "Banyak banget reimburst taksinya?" sapa seorang pria di sebelah gue. Saat itu gue sedang mengisi form reimburst taksi untuk penggantian uang gue.
      "Cuma satu kok, ini kertas banyak begini cuma buat jaga-jaga," gue menoleh dan refleks menutup mulut gue agar seruan kaget tidak keluar dari sana. Dhanis berdiri dengan senyum menawannya seperti biasa. Dada gue berdegup lebih cepat, dan saat Dhanis sedang sibuk menulis, gue secepat kilat menyemprotkan parfum ke beberapa bagian di badan gue Belum selesai dikagetkan dengan keberadaan Dhanis di sebelah gue, ada sebuah pandangan tajam yang menusuk gue dari sisi sebelah. My God, gue lupa banget kalo ternyata ada Maherda disana! Dan tentu dia sudah memperhatikan kami dari tadi. Suasana menjadi begitu awkward bagi gue, di satu sisi ada perasaan sedih karena cowok yang gue suka ternyata udah punya istri, dan ia muncul lagi mengingatkan gue betapa penerbangan kami dulu begitu menyenangkan. Di sisi lain, gue pun kini sudah memiliki seorang suami dan gue ditikam rasa bersalah karena masih menyimpan perasaan itu ke Dhanis.
     Gue memutuskan untuk cepat-cepat pergi dan tidak membahas kejadian tadi. Maherda yang biasanya cuek mendadak menawarkan diri untuk membawa koper gue dan menggandeng tangan gue dengan mesra. Di dalam mobil ia berkali-kali mengelus kepala gue dan sesekali mencium kening gue seolah-olah akhirnya setelah sekian lama, ia takut kehilangan gue.
     "Kamu satu-satunya wanita yang bisa survive dengan sifatku yang seperti ini. Jadi wajar aku takut kehilanganan wanita satu-satunya ini hanya karena Dhanis yang sudah beranak istri itu."
     Ah Maherda, seandainya gak ada kejadian seperti ini, apa kamu bakal tetep takut kehilangan aku?

Friday, 17 October 2014

'Saya Tau' yang Nyatanya Gak Tau Apa-Apa

     Setelah gue join di maskapai yang baru, gue emang jarang banget kena semprot penumpang. Bisa dibilang hampir gak pernah. Tapi akhirnya di penerbangan Jakarta - Pekanbaru gue akhirnya kena damprat lagi gara-gara makanan yang gue kasih gak anget.
     "Mbak, kamu gimana sih masaknya? Kok makanan dingin begini kamu kasih penumpangmu, hah?" kaget banget gue tiba-tiba kena amukan kaya begitu.
     "Oh maaf Bapak, ini bukan saya yang masak, tapi pihak katering kami." jelas gue. Iyalah, menurut ngana (kamu-dalam bahasa Manado) aja gue bawa kompor, penci dan temen-temennya ke pesawat. Mana muat di koper gue?
     "Iya saya tau, yang masak bukan kamu. Tapi kan kamu bisa angetin makanannya?" gue jedotin kepala ke trolley. Tadi nuduh gue yang masak, sekarang ngakunya tau kalo bukan gue yang masak.
     "Jadi begini Pak, saya minta maaf sebelumnya, tapi memang kalau penerbangan pendek seperti Pekanbaru, makanannya memang sudah tersedia langsung di tray putih itu," kata gue lagi sambil menunjuk tray putih yang sedang dipegang si Bapak. "Tapi karena penerbangannya pendek, jadi kami tidak perlu menghangatkan makanannya lagi. Semua sudah dipersiapkan katering dari bawah, inflight kami tinggal service ke penumpang. Beda dengan penerbangan 2 jam ke atas. Boks makanan yang diserahkan katering masih frozen jadi kami para flight attendant harus panesin dulu di oven. Jadi kalau makanannya gak panas, Bapak bisa complain sama kita. Tapi karena kejadiannya kaya begini-"
     "Heh kamu jangan ngejawab ya! Saya sudah 10 kali naik pesawat ini dan selalu complain sama pramugarinya tapi gak ada yang ngeyel kayak kamu!"
     "Justru itu Pak," gue menarik nafas panjang. "Sudah 10 kali Bapak complain tapi gak ada perubahan kan? Nah disini saya bukannya bermaksud ngeyel seperti yang Bapak tuduhkan, saya hanya menginformasikan bahwa ini bukan kesalahan kami. Mungkin pramugari lain memilih meminta maaf dan mengaku bahwa ini kesalahan mereka, tapi kenyataannya bukan seperti itu Pak. Kalau Bapak mau, bagaimana kalau Bapak complain langsung ke customer care kami, supaya suatu saat nanti ada perubahan. Kami secara pribadi sudah menyampaikan apa saja complain dari penumpang, namun kalau ternyata dari katering tidak ada perubahan, ya kami bisa apa? Pramugari lain memilih untuk sekedar meminta maaf. Tapi saya ingin penumpang juga tau, bahwa pada kasus ini, jelas bukan kesalahan kami." gue menunggu reaksi dari si penumpang. Gue gak peduli kalau si Bapak bakal lebih marah dan mau report gue ke chief flight attendant gue nantinya. Yang jelas gue sudah mengedukasi penumpang gue, bahwa kadang ada hal-hal yang gak sepantasnya disalahkan ke pramugari. Seperti headrack yang kelewat penuh sehingga penumpang yang datang terakhir tidak mendapat tempat untuk meletakkan bagasi mereka. Apakah itu salah kami? Bukan. Itu kesalahan dari ground staff yang tidak menyortir bagasi yang dibawa ke atas. Atau kadang itu kecurangan beberapa penumpang, sudah tau batasan bagasi yang boleh dibawa ke pesawat hanya satu koper seberat 7 kilo, tapi mereka diam-diam bawa 2-4 bagasi dan semuanya diletakkan di headrack. Nah mereka yang gak kebagian bagasi marah-marah ke siapa? Ya ke pramugarinya. Padahal kan bisa ngomong baik-baik, tapi nyatanya kebanyakan penumpang memilih untuk marah-marah ke pramugari karena berpikiran "pramugari digaji gede kan memang buat dimaki-maki."
     Believe me, kadang-kadang waktu kalian bilang 'saya tau' kenyataannya kalian gak tau apa-apa.

Tuesday, 14 October 2014

Desire To Be Important

    This is my first post about humanity thing that I will often write on my blog. I know you were asking about 'why you just continue blogging now', 'why you ever stop blogging', or 'why you put an English post here' in fact no strangers read on my blog. I'm just practice my English, am I still able to speak English as fluent when I'm in senior high school? Maybe nope, because I loose time and people to practice my English. So I do apologize if I do some mistakes on this post. Just happy reading without asking, guys !
     I do have experience when I always ignored by other kids. When I'm in elementary school, I was pretty smart in all subjects. Especially in English because my Mom was an English teacher. But in the other hand, I had difficulties to get along with other kids. I just use my time to study, and study. Because I was poor, and my parents pay my cost hardly, so I didn't want to waste my chance. I became an introvert and I didn't have much friends on those times.
     But it changed after I met my best friend, Cyndi when I was Junior high school. She's fat but she had a confidence that make her look amazing on her way. She wasn't smart as I am, but she had a bunch of friends. She also had a boyfriend while I have no one looked at me. I desperately want to be like her, but I've no idea how to make conversation with her.
     Then luckily, that opportunity that I wish for finally came. We met on the canteen and she greeted me first.
     "Hey Radinna, would you please take a sit with us?"
     I was shocked because I was invited to join with the most famous girls in our school. Cyndi was not the most pretty one, but she's the leader. She wasn't pretending that she was leading, but I just know that she was the queen bee.Otherwise, I was surprised because she knew my name!
     If you just know John Dewey-an American most famous philosopher, he ever said that the deepest urge in human nature is ‘the desire to be important'. And Cyndi know how to make people important for sure. All people wanted to be important and valuable. But you cant just saying "oh Radinna, you're so much valuable to me!". That's not such easy. You don't do it only by verbal, you do it by giving your attention. You give your time, a chance to have a coffee break together, you remembered their name even their birthday. That's what Cyndi did to me.
     Then after the conversation, we're getting closer and closer. Cyndi taught me what The school didn't taught, how to notice little people. How that kinda' attention of remembering their name can be impacted to other. To me.

JUNIORITAS

     Beberapa hari lalu gue terbang dan menginap untuk pertama kalinya di Surabaya. Ralat, pertama kali setelah gue join di perusahaan yang sekarang. Excited banget karena selain kangen Surabaya, penerbangan itu dilengkapi dengan suami unyu-unyu kesayangan gue yang maha ganteng dan rupawan : Maherda Ekananda. Dan karena kebetulan FA 1 gue Mami-Mami yang baik dan menjadi senior favorit di airlines gue, maka gue dengan senang hati ditempatkan di depan untuk service bisnis dan cockpit.
     Hari pertama rute penerbangan kami Jakarta - Surabaya - Jakarta - Surabaya stop dan langsung menginap disana. Sebenernya kalo gue jadi cabin economy rasanya gak bakal melelahkan. Tapi berhubung gue cabin bisnis dan kebetulan penumpang bisnis gue gak pernah sepi, maka sangat wajar kalo gue selalu pengen terjung payung dari atas sana. Capeknya RUAAARRR BINASAH! Tapi kerja mana sih yang gak capek? Kalo gak mau capek, jangan kerja. Simple. Maka gue menjalankan schedule itu dengan santai dan tanpa adegan gila mau bunuh diri.
      Keesokan harinya, schedule gue Surabaya - Jakarta dan menunggu selama kurang lebih 1jam untuk kemudian lanjut ke Makassar dan kembali lagi ke Jakarta. FYI, rute pendek seperti Surabaya dan Jogja kami hanya memberi boks yang berisi dua kue dan 1 botol mini air mineral. Tapi penerbangan di atas 1 jam kami memberikan layanan full service dengan dua pilihan makanan dan beberapa minuman.
     Nah, cerita JUNIORITAS ini terjadi saat penerbangan dari Jakarta menuju Makassar. Setelah gue kelar service penumbang bisnis gue yang cuma sebiji, gue duduk sambil selonjorin kaki yang rasanya capeeeek banget. Tiba-tiba anak galley belakang ting-tong (istilah kita buat penggunaan interphone alias inter-call) dan ngasih tau kalo salah satu personil mereka tewas bacok diri. Gak deng, salah satu dari mereka ada yang pingsan. Mami J nyuruh gue ngecek keadaan tuh anak, apakah pura-pura doank atau beneran nyaris meninggal.
     "Lo kan bajingan juga tuh, jadi tau lah ya mana sakit boongan mana yang beneran. Kalo dia belom sampe geletakan di lantai, berarti dia sakit boongan.": begitu titah Mami J.
     Gue bergegas ke galley belakang dengan kaki lemas. Pas disamperin tuh anak yang katanya pingsan gak ada di galley.
     "Itu loh, si Srik. Katanya lagi datang bulan. Sekarang dia ngadem di lavatory." kata FA 2 gue, Mbak Mel. Gue manggut-manggut aja. Mau gak mau gue harus narik 1 trolly dan service sendiri gantiin Srik. Mungkin karena gue udah expert binjits service economy class, gue berhasil ngeduluin dua trolley lainnya. Jadi setelah balikin trolley ke galley belakang, gue lanjut bantu service trolley mbak Mel. Dan selama itupun gue gak ngeliat tanda-tanda Srik di galley.
     "Wah, mana tuh anak? Jangan-jangan sakit beneran?" kata gue dalam hati yang mulai panik. Tapi gak berapa lama, setelah gue dan Mbak Mel selesai service, Srik akhirnya datang juga. Gue pelototin dia atas bawah dan atas lagi. Sehat-sehat aja? Pingsan dimananya nih anak?"
     Dan begitu Srik menjejakkan kakinya di galley belakang, aura singa gue langsung keluar.
     "Darimana aja lo Srik? Bukannya kerja malah enak banget ngeden di toilet?" sindir gue. Srik langsung memasang wajah lemas nan nyaris pingsan lagi, tapi gue gak percaya.
     "Iya Mbak, Srik gelap mata Mbak..."
     "Apa? Gelap mata? Lo ngemaling atau gimana gelap mata segala?" gue makin murka.
     "Bukan Mbak, maksud Srik tadi mata Srik gelap gitu trus Srik pingsan di toilet."
     "Eh, gue kasih tau elo ya Srik, gue udah sangat sangat terbiasa ngadepin junior aneh-aneh kaya elo. Mana ada orang pingsan yang sadar kalo dia pingsan? Pilih pilih pula pingsannya di toilet. Lo gak usah boongin gue deh Srik. Kalo lo emang males kerja, harusnya lo turun tadi di Jakarta, kan ada banyak tuh yang lagi nyerep bisa naik buat gantiin tugas elo. Kalo elo kaya begini, elo ngerepotin kita, dan terutama gue! Emang menurut lo gue robot maniak kerja yang gak capek? Lo tau kan service bisnis capeknya kaya gimana? Lo enak dari kemaren tinggal lempar boks doank. Gue full service terus dari kemaren, dan sekarang harus ditambah bantu service economy dibelakang. Bukannya gue itung-itungan kerja, tapi kalo begini, gue bukan cuma bantuin kerjaan anak belakang. Gue NGERJAIN tugas elo ini mah namanya!" oceh gue panjang lebar. Srik menunduk dan memasang tampang untuk belas kasihan gue.
     "Dan disini, gue gak bakal kasihan atau prihatin mau elo lagi berantem sama pacar, sama orangtua, elo lagi sakit atau elo gelap mata, gue gak peduli. Begitu lo pake seragam, lo harus siap terbang apapun keadaan elo. Be proffesional, elo udah dewasa kan? Masak harus dimarahin kaya bocah? Dan jangan karena perusahaan ini lebih baik dan terkenal gak ada senioritas, bukan berarti lo bebas males-malesan dan bikin senior lo kerja dua kali lipat. Lo bisa dikasihanin senior lain, tapi bukan dari gue. Asal lo tau, gue udah ngerasain pahit-pahitnya kerja depan belakang jaman gue masih junior. Dan lo harusnya bersyukur, lo baru seminggu terbang tapi gue masih mau ngerjain tugas elo tadi. Kalo lo diperusahaan gue sebelumnya, boro-boro dibantru, yang ada lo dimasukin trolley trus ditendang ke runway. Jadi lo gak usah aneh-aneh disini. Kerja, dapet gaji, selesai."
     Gue merapikan celemek dan bergegas kembali ke galley depan. Gue harus kembali service penumpang bisnis gue yang mungkin sudah kelar makan.
     "Dan kalo elo emang beneran sakit Srik, next flight lo gak bakal kuat buat service, karena nanti economy full. Jadi kalo lo emang sakit beneran, gue mau liat elo pingsan beneran juga next flight."
     Finally, setelah satu tahun gue gak pernah menampakkan taring gue, akhirnya saat itu gue marah-marah lagi ke junior gue yang baru seminggu terbang. Gue emang sering mendengar bahwa junior sekarang, karena tidak merasakan senioritas seperti kami dulunya, mereka jadi manja dan sama sekali tidak respect dengan senior mereka. Gue sebenernya adalah orang yang anti senioritas bahkan setelah gue punya 100 angkatan dibawah gue. Tapi bukan berarti mereka bisa jadi junioritas dan bikin kami para seniornya keteteran ngerjain tugas mereka.
     Mikirnya simple aja, elo junior, mau elo lebih tua dari gue atau pengalaman kerja lo lebih banyak dari gue, tapi di airlines ini elo baru. Di bidang ini elo baru. Lo harusnya lebih banyak nanya, lebih banyak latihan dengan ngerjain apa yang jadi tugas elo. Kalo gue dikasi 10 orang aja junior kaya Srik, mungkin gue bakal lebih memilih jadi senior yang kaku dan gak mau akrab sama mereka. Daripada saat gue bersikap baik, mereka jadi semena-mena?
     Maigat, jangan sampe 2015 nanti istilah di airlines ini ganti jadi jaman JUNIORITAS.

Sunday, 12 October 2014

Truly, Madly, Deeply – Savage Garden


“I'll be your dream, I'll be your wish, I'll be your fantasy.
 I'll be your hope, I'll be your love, Be everything that you need. I love you more with every breath.”

            “Margarita, please!” seorang gadis berparas cantik mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Tak lama, gelas dihias seiris buah lemon berpindah tangan dari sang bartender ke tangan kecil nan putih gadis itu. Allune Keylandra, nama lengkap sang gadis, menghabiskan Margarita ke-tujuhnya dengan satu kali teguk. Ia memaksa kaki lemasnya melangkah ke arah dance floor dan kembali menggoyangkan badan dan pinggulnya. Seorang DJ sedang memutar lagu The Sky Full Of Star dari Coldplay. Allune menghentakkan kakinya yang mulai tak beraturan, alcohol sudah mengambil kendali otak dan tubuhnya. Kebahagiaan dan kesedihan seolah menyatu di matanya. Allune terus menggerakkan badannya hingga sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya.
            “Hai, kamu baik-baik saja? Aku rasa kakimu sudah tidak kuat lagi berada di lantai dansa ini.” Allune terpana. Bukan karena mendapati pria yang sedang memeluk pinggangnya luar biasa tampan, tapi wajah pria ini mengingatkannya pada seseorang yang sangat disayanginya. Seseorang yang telah pergi.
            “Kak… Sean?” sebut Allune dengan tatapan tidak percaya. Ada air mata menetes disudut matanya, ungkapan rasa rindu yang tak tertahan. Allune memeluk balik pria di hadapannya erat-erat. Pria itu termangu tak percaya akan apa yang sedang terjadi pada wanita cantik di hadapannya.
            “Kak… Aku… A-aku… minta ma-Hoooeeekkkk!!!!”
***
            “Lo muntah, biar gue perjelas, LO MUNTAH di jas Armani salah satu Captain tergalak di airlines kita dan LO GAK INGET SAMA SEKALI?!” Suara Ishani menggema di rumah Allune yang terbilang mungil itu. Sebuah rumah dua kamar yang kini hanya ditinggali oleh Allune seorang. Allune tidak lupa kejadian itu, mana mungkin bisa? Ia pura-pura lupa untuk terhindar dari masalah yang akan menimpanya. Kenyataannya, Allune tidak melupakan satu detilpun tentang pertemuannya dengan Captain Arga Maligan. Captain baru di Hawk Air, maskapai sama yang menaunginya saat ini. Sudah sekitar sebulan ini Allune mendengar nama Captain satu itu dikumandangkan di crew briefing room. Sebenarnya dia bukanlah Captain yang galak, karena ia belum pernah terdengar memarahi atau bahkan memaki pramugari maupun petugas ground. Captain Arga sepertinya adalah tipikal bujang tua yang dingin terhadap wanita. Itu saja. Namun begitulah orang airlines, mereka selalu suka melebihkan hal negative dari orang-orang yang bersikap antipati kepada mereka.
            “Oh please darlaa… Don’t be such lebay deh! Itu gelas ke… emm, yah kesekian. And I was drunk! Anything can be happened when you’re drunk!” Allune memainkan ujung rambutnya, sebuah kebiasaan jika ia sedang mengeles dari sesuatu. Sayangnya Ishani sudah mengenalnya selama 4 tahun dan ia hapal betul kebiasaan sahabatnya yang satu itu. Ishani merapikan kamar sahabatnya yang terlihat seperti kandang babi baginya sembari mengomel panjang lebar tentang betapa bodohnya Allune yang kembali pada aktifitas ‘malam’ yang sudah 3 bulan sebelumnya ia tinggalkan.
            “Kenapa sih lo balik clubbing lagi? Dan kenapa lo stop therapy lagi di Dokter Bambang?” wajah Allune mulai serius.
            “Gue capek minum obat. Gue capek therapy. Gue mau menikmati hidup gue lagi seperti sebelumnya, kita cuman hidup sekali kan?” pandangan Allune kosong, tak pernah sekosong itu sejak Ishani pertama mengenalnyal.
            Ishani mendesah iba. Ia meninggalkan aktifitas berberesnya dan duduk di samping Allune, berusaha menenangkan Allune seperti biasa.
            “Lunne, gue tau lo capek dan muak sama semua pengobatan itu. Gue ta-“
            “Fuck it! Don’t ever tell me that you know how it feels! In fact, you know nothing about my feeling!” Allune terkejut mendapati suaranya yang meninggi. Ia tidak menyangka bahwa lagi-lagi ia tidak mampu mengontrol emosinya. Allune langsung menepuk bibirnya dan reflex meminta maaf.
            “Shan, maafin gue. Ntahlah, bahkan gue bingung sama perasaan gue sekarang. I just want to back normal. Just like the old me…” Allune menangis dipelukan Ishani. Ia tidak perlu menjaga imagenya dihadapan Ishani. Allune adalah Ishani, dan Ishani adalah Allune. Tidak ada satu pun rahasia diantara mereka.
            “Diri lo yang dulu, itu bukan kehidupan normal. Gonta-ganti cowok kaya kaus kaki. Setiap day off  yang lo punya, Cuma lo pake buat ke bar atau clubbing. Itu bukan hidup normal, Lunne. Tapi saat lo sembuh nanti, lo bakalan dapetin kehidupan normal yang lo mau.”
            Allune termenung. Ia membayangkan pil-pil anti-depresant dan valproic acid yang harus ia minum untuk menenangkan dirinya ketika ia mengalami swing-mood. Ya. Allune adalah penderita bipolar disorder. Ia punya masalah serius dalam mengendalikan moodnya yang bisa berubah-ubah secepat kilat. Saat ia dalam fase manic, dimana ia begitu antusias terhadap sesuatu, ia akan begitu kuat tidak tidur, tidak makan hanya untuk hal yang sedang disukainya itu. Pernah terjadi saat SMA ia aktif di teater, tidak sedikitpun ia lelah saat latihan meskipun itu menghabiskan waktu berhari-hari. Ia menggarap naskahnya berhari-hari tanpa istirahat cukup, namun ia terlihat bugar di dua minggu pertama. Setelah ia melewati fase manic barulah tubuhnya memberi respons. Allune jatuh sakit dan menjadi sangat lemah.
            Pernah pula ia begitu bersemangat dengan aktifitas gymnya. Saking semangatnya, ia menghabiskan 5 jam sehari untuk exercise dan membakar 2000 kalori bahkan lebih tiap harinya. Tubuhnya bertahan di 2-3 minggu awal sebelum akhirnya ia terkapar lemas di tempat tidurnya. Dan saat itulah fase depresi mudah mendera. Allune yang begitu bersemangat akan secara tiba-tiba menjadi pemurung. Pernah suatu kali di penerbangannya, seorang junior menumpahkan buah untuk kelas bisnis. Itu sebenarnya hanya kesalahan kecil, Allune tak harus marah-marah terhadap juniornya. Namun yang terjadi justru sebaliknya, ia mengomel sepanjang take-off dan landing. Namun begitu penerbangan itu usai, Allune murung berhari-hari karena merasa bersalah. Ia sampai harus repot-repot mencari nomor telfon junior itu hanya untuk meminta maaf.
            Allune sebenarnya gadis yang baik. Namun ketidakmampuannya mengendalikan emosi memang membuatnya terkenal sebagai senior yang aneh. Dan Ishani sudah hapal benar tabiat sahabatnya, jadi sekesal apapun ia dibuatnya, tak pernah sekalipun Ishani meninggalkan Allune sendirian. Ishani tahu pasti, Allune akan kesulitan mendapat sahabat pengganti jika ia pergi.
            “Okay, hari ini ayo kita jalan ke Bandung! Kita refreshing sebentar, sebelum elo balik therapy lagi di Dokter Bambang. Promise me?” tawar Ishani. Allune menimbang-nimbang, ia tidak terlalu menyukai wisata alam seperti Ishani. Namun setelah kejadian tadi, ia merasa wajib membuat sahabatnya senang. Lagipula hari ini ia libur dan besok ia punya schedule malam. Hari ini mereka bisa menginap di rumah keluarga Ishani.
            “Whatever you want. Gue mandi dulu, lengket banget!” Allune mengangkat tangannya ke atas. Merenggangkan ototnya yang kaku. Ia membuka baju kausnya. Wait?
            “Shan, lo ganti baju gue?” kali ini Allune bernada serius. Sementara Ishani tertawa terbahak-bahak.
            “Not only you who mas drunk that night. Bedanya gue gak sampai jackpot dan harus dibopong Om-Om ganteng. Tapi yang jelas gue gak begitu perhatiannya sampai mau lepasin dress lo yang berkubang muntahan itu.” Ishani nyengir tanpa dosa. Allune menepuk jidatnya saat menyadari bahwa ia akan menghadapi masalah yang sungguh sangat besar.
            “Kalo bagian yang itu, sumpah gue bener-bener gak inget!”
***
            “Yesterday all my troubles seemed so far away. Now it looks as though they`re here to stay… Oh I believe in yesterday…” The Beatles menyanyi dengan sendu di Ford Fiesta berwarna merah maroon milik Allune. Dirinya adalah penggemar fanatik grup band satu itu. Sungguh aneh memang, gadis berusia 22 tahun penikmat Margarita juga menyukai grup band selawas The Beatles. Itu karena Kak Sean yang menjadi fans berat mereka, dan demi meluapkan kerinduannya terhadap sang Kakak tercinta, Allune pun mulai mengoleksi lagu-lagu The Beatles. Dan mendadak 3 bulan ini lagu-lagu The Beatles selalu menjadi penyanyi gratis di mobilnya sepanjang perjalanan.
            “Ini lagu sendu amat cong? Gak bakal bikin mood elo berubah kan? We are going to have fun today!” protes Ishani untuk kesekian kalinya. Ishani memang sudah seperti psikiater tanpa gelar untuk Allune. Ishani hapal betul kalau lagu mellow dapat mengubah mood sahabatnya dengan cepat. Dan lagu bertempo cepat akan menjaga mood Allune tetap bagus. Itulah mengapa Allune menjadi pelanggan setia tempat-tempat clubbing Ibu Kota sejak usianya 17 tahun. Night club ibarat terapi pribadinya untuk menjaga moodnya tetap gembira jika ia sedang berada di fase depresi. Dan Margarita? Ia adalah sahabat keduanya setelah Ishani. Minuman favorit yang tentu lebih nikmat dibanding menegak pil-pil penenang itu. Margarita membuatnya tenang tanpa perlu tersiksa minum obat-obatan dari Dokter Bambang. Allune berhasil melalui hari-harinya sebagai penderita bipolar selama ini dengan bantuan Margarita. Ia membutuhkan psikiater baru 3 bulan ini. Setelah Margarita tidak lagi ampuh meredakan kesedihan yang mendalam di hatinya.
            Namun ia menemukan obat lain yang lebih ia suka daripada harus menelan pil-pil pemberian dokter itu. Lagu-lagu The Beatles. Memang efeknya tidak sehebat Margarita, namun setidaknya lagu sesendu apapun dari mereka tidak menurunkan mood Allune sedikitpun. Malah terkadang Allune mendendangkannya dengan gembira sehingga moodnya menjadi bagus.
            “Why he had to go I don`t know. He wouldn`t say I said something wrong. Now I long for yesterday…” kali ini suara indah Allune memenuhi mobil. Ia bernyanyi dengan senyum kecut di bibir tipisnya. Pikirannya melayang mundur 3.5 bulan yang lalu. Memutar kembali memori saat pertengkaran pertama antara dirinya dan Sean terjadi di apartemen mereka.
            “Night club? It’s fine! Free sex? It’s not a big deal! But with my ex? ARE YOU CRAZY?” seru Sean pagi itu. Ia tidak mampu menahan emosinya ketika mendapati adik kesayangannya ‘tidur’ dengan mantan pacarnya. Sementara Allune berpura-pura asik dengan game di handphonenya.
            “ALLUNE KEYLANDRA, I’m talking to you!” Sean dengan kasar mengambil handphone adik satu-satunya itu dan membantingnya ke lantai.
            “My God! Itu iPhone 6! I spent my salary for that one!” akhirnya Allune buka bicara. Ia mulai jengah menghadapi Kakaknya yang penyabar mulai meneriakinya.
            “Okay Sean Kalundra, now we’re talking! Kakak mau marah karena aku macarin mantan Kakak?” dengan nada menantang, Allune malah meneriaki balik Kakaknya itu. Sean tak habis pikir kenapa adiknya bisa demikian gila.
            “Bukan! Kakak gak masalah kamu mau pacaran sama siapapun! Tapi lesbian? Are you poisoning or something?
            “Apa masalahnya dengan lesbian? Kakak malu ternyata cewek yang masih kakak puja setengah mati itu ternyata beneran lesbi? Kakak sakit hati karena ternyata mantan kesayangan kakak itu ternyata lebih cinta sama aku? HAH?!” Allune tahu betul jawabannya. Sean masih mencintai Iori, gadis lesbian bengal kenalannya di Skyvenue Club. Namun Kakaknya terlalu lugu untuk menyadari bahwa kekayaannya hanya dimanfaatkan oleh Iori demi kebutuhan ‘obat’nya. Iori tidak membenci lelaki, namun jiwanya untuk perempuan. Dan menurut Allune, inilah cara yang tepat untuk menyadarkan kakaknya. Dengan membuat Kakaknya sakit hati begitu dalam.
            “Sekarang Kakak tahu kan kenapa Iori gak pernah mau diajak ngesex? She hates penis! Dan oh ya, anyway she was a great tongue-player!”
            PLAK!!
            Allune memegangi pipinya yang memerah sebelah. Ia menangis saking perihnya tamparan itu di pipinya. Ia rasa Sean menamparnya sepenuh tenaga. Sean tak kalah kaget, tangannya bergerak reflex terlalu kencang. Namun ego membuatnya enggan untuk meminta maaf. Ia mengambil jaket dan kunci mobilnya. Tanpa berkata apa-apa ia pergi. Sean pergi. Dan tidak lagi kembali.
            TINNN!!! Suara klakson menyadarkan lamunan Allune dan membelokkan kemudi menuju perumahan Setrasari, sebuah rumah mungil namun mewah milik Ayah dan Ibu Ishani menghabiskan masa tua mereka. Romantis sekali! Orangtua Ishani pastinya adalah orangtua idaman setiap anak di dunia. Mereka sangat demokratis dan juga akur bahkan setelah mereka usia 55 tahun. Ishani adalah anak pertama dan satu-satunya anak kandung mereka, namun mereka sangat membebaskan Ishani memilih jalan hidupnya. Mereka tidak melarang Ishani mengejar impiannya menjadi pramugari, meskipun perusahaan kue mereka jauh lebih dari cukup untuk membiayai Ishani untuk sekolah kedokteran. Mereka juga tidak memaksa Ishani untuk melanjutkan usaha kue mereka yang terbilang sukses di Indonesia.
            “Hai sayang-sayangku! Kenapa gak kasih kabar kalau mau pulang? Kita kan bisa siapin pesta penyambutan untuk dua putri cantik ini, yak kan Pa?” sambut Mama Inggit sembari memeluk Ishani dan Allune bergantian. Mama Inggit terlihat cantik sekali meski usianya sudah kepala lima. Rambutnya yang sudah ditumbuhi uban tidak pernah sekalipun ia semir, itu menolak takdir menurutnya. Tubuhnya tidak termasuk ukuran besar untuk Ibu-Ibu yang mungkin sudah sepatutnya menjadi Nenek itu. Berkat kelas-kelas gym yang diikutinya seperti zumba dance dan yoga.  Jika Jennifer Lopez saat berusia 52 disandingkan dengannya pun J-Lo akan kalah jauh dengannya.
            Dan Papa Daru lebih fenomenal lagi, di usianya yang ke-57 ini ia masih tegap dengan badan yang atletis. Ketampananan wajahnya sama sekali tidak berkurang meski kerut-kerut diwajahnya sudah merajalela. Allune selalu menggoda Ishani bahwa dirinya tak akan pernah menolak jika Papa Daru berniat menjadikannya sebagai Istri muda. Dan Ishani akan dengan senang hati menjitak kepala sahabatnya yang tidak waras itu.
            “Wuff wuff!!!” salak seekor anjing Alaskan Malamute besar mengusik pertemuan mereka. Ishani langsung menggendong anjing itu dan menghujaninya dengan ciuman yang bertubi-tubi. Di belakangnya menyusul seorang bocah laki-laki usia 10 tahun yang menggendong anak anjing, ia adalah adik angkat Ishani, Wisnu. Orangtua Ishani memutuskan untuk mengadopsinya 4 tahun lalu setelah Ishani memutuskan untuk menjadi pramugari di Jakarta.
            “Hai Wisnu, kamu makin gendut ya?” sapa Allune sambil mengelus kepala bocah itu. Wisnu nyengir menyadari tubuhnya yang semakin gemuk. Ia memeluk Ishani terlebih dahulu lalu memeluk Allune. “Nih, kamu pasti suka!” Allune menyodorkan sekotak cokelat Ghirardelli yang ia beli di Singapore minggu lalu. Ia sudah menyiapkan oleh-oleh special ini karena tahu persis Wisnu pecinta cokelat.
            “Oh Baby, are you missing me? Mama juga kangen kamu sayang… Kamu udah makan hari ini? Ayo sayang, kita makan dulu!” Ishani membawa Baby, anjing Husky betina kesayangannya masuk ke dalam rumah. Keluarga ini memang pecinta anjing, tidak hanya anjing ras mahal saja yang mereka terima di rumah ini, namun anjing kampung terlantar pun bersedia mereka rawat dan akan mereka serah-terimakan secara gratis ke orang lain setelah anjing-anjing itu gemuk dan sehat. Mama Inggit menggeleng kepalanya.
            “Harusnya ia memberikan ‘bayi’ yang sesungguhnya. Bukan hanya seekor Siberian Husky yang ia namai Baby. Papa harus bicara dengannya, ia harus mulai mencari pasangan.” Bisik Mama Inggit dan Papa Daru menggeleng malas.
            “Ia baru 21 tahun sayang, pernikahan yang terlalu dini itu tidak baik.” Elak Papa Daru. Ia tidak suka memaksakan kehendak pada putri satu-satunya itu, ia penganut paham demokrasi sesungguhnya.
            “Tidak harus menikah sekarang juga kok, Pa. Tapi setidaknya bawa kemari siapa calon mantu kita. Menikahnya ya 3-4 tahun lagi. Kamu setuju sama Mama kan, Lunne? Kamu juga harus cari pacar loh, say… Mama heran sama kalian berdua, cantik-cantik kok gak laku? Mama waktu seumuran kalian gonta ganti pacar sebulan sekali. Papamu apalagi!” Mama Inggit terkekeh sendiri mengenang masa mudanya. Allune tidak menyangkalnya, dengan kecantikan dan ketampanan mereka sekarang, tentu saja berganti pasangan memang semudah itu. Itulah yang membuat mereka baru menikah di usia 30 dan 35. Terlalu menikmati kehidupan bersenang-senang dan melupakan tujuan mulia seperti menikah dan memiliki anak. Sayangnya, kemudahan yang sama terjadi padanya, bukan Ishani. Allune bisa mengganti pasangannya kapanpun ia bosan atau kapanpun ia melihat pria lain yang lebih menyenangkan. Atau bahkan mendua jika kedua pria itu sama-sama masih menyenangkan dan enak dipakai. Ishani kebalikannya. Dirinya tidak mudah jatuh cinta, sekali ia pernah jatuh cinta pada Sean namun pria itu lebih memilih Iori, lesbian gila yang hanya menguras dompetnya. Sungguh disayangkan…
            “Aku punya pacar kok, Ma!” Allune ngeles, ia tidak mau dikatai tidak laku, rasanya seperti menjatuhkan harga diri saja seorang Allune Keylandra dikatai tidak laku seperti itu.
            “Kamu yakin punya pacar? Atau teman lawan jenis untuk bersenang-senang?” skakmat. Allune tidak bisa mengelak. Papa Daru tertawa setelah berhasil membuat bungkam sahabat putrinya itu.
            “Mama yakin banyak pria yang mengincarmu. Tapi memangnya ada yang benar-benar kamu anggap pacar? Coba sini tunjukin ke Mama dulu. Harus ganteng loh ya!” serang Mama Inggit lagi.
            “Ngg… ada makanan apa di dalam Ma? Allune laper berat! Beraaaaat banget, lutut Allune rasanya lemes banget.” Allune mengalihkan topic pembicaraan, dan Mama Inggit dengan bangga memamerkan hasil masakannya.
            “Kebetulan Mama masak ayam betutu dan sop nangka muda, gara-gara kemarin kita habis liburan ke Bali, Mama sekarang keranjingan makan masakan Bali loh! Tapi restoran Bali di sini gak ada yang enak. Jadi Mama putuskan untuk belajar masak sendiri, agak sulit memang. Tapi Mama rasa kalian akan suka.”
            “Ya tentu saja mereka suka, Ma. Kalau tidak, Papa akan suruh mereka tidur diluar bersama Baby malam ini.” Goda Papa Daru yang pura-pura terlihat galak demi membela masakan istrinya. Allune tersenyum bahagia, kebahagiaan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan. Salah, kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan. Dikelilingi oleh orang-orang yang mencinta dengan tulus. Ia tidak pernah merasakannya kecuali dengan Kak Sean. Dan ia telah membuat satu-satunya anggota keluarga yang mencintainya dengan tulus pergi karena kelakuan bodohnya.
            Papa dan Mamanya sudah pisah ranjang sejak Sean berusia 6 tahun. Mereka memutuskan untuk tidak bercerai karena Agama yang dianutnya. Di Katolik, perceraian sangat dilarang, kecuali salah satu dari pasangan itu meninggal. Sekalipun bisa dikabulkan, namun membutuhkan proses dan waktu yang panjang. Maka setelah tahun-tahun awal pernikahan, mereka akhirnya memutuskan untuk menjalani hidup masing-masing dan pisah ranjang di tahun ke-7 pernikahan mereka. Demi Sean, mereka masih tinggal dalam satu rumah, walau pada kenyataannya masing-masing sudah tidur dengan orang lain di luar rumah.
            Hubungan ganjil itu berjalan hingga 10 tahun lamanya. Tidak pernah ada masalah meskipun mereka hidup dalam kebekuan yang mereka ciptakan sendiri. Sean pun tidak mengalami masalah dalam pendidikan dan pergaulannya. Ia tumbuh menjadi remaja tampan yang berprestasi, tidak seperti yang diekspektaksikan orang-orang. Namun petaka itu terjadi saat usia Sean 16 tahun. Mama hamil, dan tentu saja itu bukan hasil perbuatan Papa. Mereka sudah tidak saling sentuh selama 10 tahun, bagaimana mungkin tiba-tiba Mama hamil? Mama selingkuh, itu sudah jelas. Papa sudah mengetahuinya. Namun ia tidak pernah mengetahui, bahwa akhir-akhir ini Mama berselingkuh dengan Adik kandungnya, Daniel.
***
            “Kenapa harus Daniel? Dan kenapa harus sebodoh itu hingga hamil?!” Andrew menaikkan suaranya 1 oktaf. Urat-urat diwajahnya menonjol, menunjukkan betapa murka dirinya saat ini. Bayangan akan betapa malunya ia dikeluarga dan kolega-kolega bisnisnya membuatnya sungguh telah terbakar amarah.
            “Aku mencintaimu, dan kamu tidak. Daniel adalah dirimu dengan versi yang berbeda. Seorang Andrew kedua yang mencintaiku. Dan ini kecelakaan! Aku juga tidak menyangka di usiaku yang kepala empat ini aku masih bisa hamil!”
            “Tolol, sungguh tolol! Gugurkan anak itu, aku tidak sudi ia berada dirumahku! Meskipun ia akan tampak mirip denganku, tidak! Aku tidak akan pernah sudi-catat itu!”
            “Bagaimana bisa? Usianya sudah 12 minggu! Kalau digugurkan itu berbahaya untukku juga!”
            “Persetan, kau lebih baik mati daripada membuatku malu! Kita punya komitmen, Sandra! Kita bebas bersenang-senang, asal jangan pernah membawanya kerumah ini. Kita bebas bersama siapapun, asal tidak saling menyakiti satu sama lain!”
            Sandra menangis. Sungguh sakit hatinya dibuat ketika Andrew lebih mengharapkan kematiannya. Tidak saling menyakiti? BOHONG! Andrew telah lebih dulu menyakitinya ketika 10 tahun yang lalu berkata bahwa ia telah kehilangan cintanya. Cinta untuknya. Andrew telah menyakitinya saat ia tidak pulang kerumah selama dua hari dengan alasan bisnis. Pada kenyataannya, Sandra lah yang tidak pernah menyakiti Andrew. Sandra selalu menjaga agar setiap perselingkuhannya jangan sampai tertangkap Andrew. Sandra bahkan masih menyiapkan seragam kantor, oat meals di pagi hari, dan mengurus Sean dengan baik. Ia bersenang-senang dengan pria lain tanpa sedikitpun melupakan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu yang baik. Ia menikmati seks dengan pria lain, namun tidak sekalipun pernah memberikan cintanya kepada mereka. Cintanya selama ini hanya untuk Andrew, hingga suatu ketika Daniel menyadarkannya bahwa ada seorang Andrew lain yang begitu mencintainya.
            Daniel adalah adik kandung Andrew yang memiliki wajah seperti kembar dengan kakaknya. Usia yang terpaut beda hanya dua tahun menjadikan mereka begitu akrab layaknya sahabat. Mereka terpisah saat Daniel memutuskan untuk menimba ilmu hukum di Perth, meninggalkan Andrew yang lebih mencintai Indonesia. Di masa akhir bangku kuliahnya, Daniel pulang memperkenalkan seorang gadis. Ia adalah Sandra Agatha, teman kampusnya yang sama-sama orang Jakarta. Keluarga besar mereka mengira Daniel dan Sandra memiliki hubungan khusus. Nyatanya Sandra tidak terlalu berminat dengan pria cupu pecinta hukum itu dan mati-matian menegaskan bahwa hubungan mereka sekedar teman baik, tak lebih. Ia justru jatuh cinta pada pandangan pertama pada Andrew, seorang pengusaha muda yang memiliki pandangan nakal dan menelanjanginya di awal perkenalan mereka. Maka Daniel yang malang harus bertepuk sebelah tangan dan merelakan gadis yang sungguh dicintainya ditiduri oleh Andrew, Kakak kandungnya itu. Dan Andrew tanpa merasa berdosa sedikitpun merebut Sandra dari adiknya, menidurinya baru kemudian memacarinya.
            Mereka menikah di masa penjajakan yang sangat cepat. Hanya butuh 7 bulan bagi Andrew untuk mengakhiri masa lajangnya bersama Sandra, gadis cantik dan seksi yang berhasil menjadikan bajingan sepertinya menjadi seorang pujangga cinta. Kemudian menjadi seorang Ayah dari bayi tampan yang mereka namai Sean Kalundra. Walaupun ternyata cinta tidak selamanya bertahan dirumah tangga mereka. Andrew mulai memasuki titik jenuhnya menjadi seorang ayah dan juga suami yang setia. Cintanya goyah dan terus goyah hingga ia tidak pernah peduli walaupun Sandra mulai mengetahui setiap jejak perselingkuhannya. Maka ia memberikan penawaran itu.
            “Aku adalah seorang Kristen yang taat. Aku meminangmu atas restu Tuhan, dan aku tidak akan menceraikanmu. Namun jujur kuakui, cinta telah menghilang dirumah ini. Jadi marilah kita menjadi dewasa. Kita harus bahagia, bukan? Maka biarkan aku menikmati hidupku dan silahkan menikmati hidupmu. Kita bebas bersenang-senang di luar rumah, namun jangan pernah membawa kesenangan itu kesini. Kita bebas, namun tidak saling menyakiti. Kau setuju kan?” Sandra terhenyak mendengar pengakuan itu. Rasanya lebih baik ia berpura-pura tidak mengetahui perselingkuhan Andrew daripada harus mendengar pernyataan langsung ini darinya. Sandra tidak mampu menggerakkan bibirnya. Lidahnya kelu. Ego menahan airmatanya untuk jatuh. Ia seorang pengacara sukses, wanita karir yang berhasil dalam segala hal. Namun ternyata ia gagal dalam rumah tangga. Ia gagal menjaga satu-satunya orang yang sangat dicintainya. Maka Sandra hanya mampu mengangguk sambil memandang suaminya dengan nanar.
            Sandra kembali dari lamunannya. Ia berbalik dan membuka lemari bajunya. Mengeluarkan dua buah koper besar dan memasukkan segala baju dan alat make-up nya. “Aku akan pergi! Maaf telah menyakitimu, tapi asal kau tau. Semua ini tidak akan pernah terjadi jika bukan kau yang memulainya!”
            Andrew tercengang. Ia terkejut dengan kenyataan yang baru saja ia sadari. Wanita yang dulu ia sakiti, ternyata mampu menyakitinya jauh lebih sadis dengan yang pernah ia bayangkan. “Jadi kau balas dendam, huh? Kau berhasil, Sandra! Yang kau lakukan jelas SANGAT menyakitkan!”
            Sandra membuka pintu kamar dan hendak pergi. Ia berhenti sejenak dan berbalik, “tidaklah menyakitkan karena kau sudah lama tidak mencintaiku lagi. Pikirkan lagi siapa yang sebenarnya tersakiti disini. Aku dan Daniel atau hanya dirimu? Seorang pria egois yang tidak pernah mau memikirkan perasaan orang lain.”
            Dalam tangisnya, Sandra menyempatkan diri untuk menjemput Sean di kamarnya. Ia menarik tangan Sean yang tampak depresi setelah mendengar percakapan orangtuanya malam itu. “Sean, kamu ikut Mama kan, nak?”
            Sean tidak mengatakan apa-apa. Ia berjalan keluar kamar dengan menggeret koper Mamanya. Saat itu Sean tidak tahu apakah tindakannya benar. Ia hanya tidak ingin Mamanya menangis lebih lama.
            Saat itulah Sandra dan Sean pergi ke Bandung. Meninggalkan Andrew, dan memutus semua tali silahturahmi diantara mereka. Bahkan mereka tidak ingin repot-repot mengingat bahwa mereka pernah mengenal Andrew. Setelah malam itu, mereka seolah melupakan kehidupan mereka di Jakarta. Mereka pindah ke Bandung dan memulai kehidupan baru disana. Tanpa Andrew.
***
            Allune memperhatikan handphone di tangannya. Ia tampak kesal dengan isi SMS yang baru saja datang ke handphone bututnya itu. Ya sejak iPhonenya remuk dibanting Sean, ia belum mampu membeli handphone baru yang sesuai dengan gayanya. Maka dengan senang hati ia menggunakan handphone monophonic bekas Ishani.
            “Sial! Gue kena revise! Harusnya besok schedule gue ke Surabaya ETD (Estimate Time Departure) 20.20 trus kenapa dirubah jadi schedule subuh begini?” Ishani tertawa.
            “Good news for me! Gue gak harus berebut selimut malem ini sama elo, Lunne! Hahahha…” ledek Ishani.
            “Taik! Elo tetep mau nginep disini? Gue pulang sendiri donk berarti?” membayangkan perjalanan Bandung-Jakarta selama 3 jam akan dihabiskannya sendiri membuatnya muak duluan.
            “Yak elah, manja banget lo cong! Gue kan udah jarang pulang ke Bandung. Gapapa donk, lagian kalo lo gak mau pulang sendiri, lo bisa ajak Tasya ke Jakarta. Dia bakal seneng banget diajak naik mobil.”
            “Oh, please jangan Tasya!” Ishani kembali terkekeh. Tasya yang mereka bicarakan adalah seekor Labrador betina yang punya hobi naik mobil. Papa Daru senang sekali mengajaknya berkeliling dengan mobilnya. Ia akan menyalak kegirangan jika pintu mobil sudah dibuka dan akan mengoceh dengan berisiknya sepanjang jalan. Anjing yang aneh.
            “Besok ETD jam 5 subuh, cong! Nginepnya di Surabaya pun. Trus besok lusanya di Singapore, terus besoknya lagi di Denpasar. Wah ini schedule ngabisin duit namanya!” Allune bingung harus bahagia atau malah menyesal dengan schedule revisinya ini. Sudah cukup lama ia tidak ke Denpasar, kota kesayangannya. Namun membayangkan betapa rutenya ini akan membosankan karena ia sudah kehabisan uang sungguh menyiksanya.
            “Wah Kak Allune ke Singapore lagi? Wisnu mau cokelat lagi ya Kak!” seru Wisnu bersemangat. Ishani menjewer Wisnu pelan.
            “Dia bokek, mau beli cokelat pake apa? Jangankan beliin kamu cokelat, kakak gak yakin dia bisa bayar apapun walau Cuma sepotong burger di sana. Hahahaha…” Ishani tertawa dengan puasnya. Ia memegang perutnya saking tak tahan dengan ledekannya itu.
            “Don’t worry! Mama sudah kirim 500 juta ke rekeningmu, cukup kan?” Mama Inggit tiba-tiba masuk ke dalam kamar mereka dan duduk di tepi tempat tidur. “Kidding, Mama kirim Rp 500.000,- barusan. Kamu harus janji untuk lebih bisa menabung, Lunne.”
            Allune mendesah. Ntah harus dengan apa ia membalas kebaikan keluarga ini. Mama Inggit seringkali mengiriminya uang saku. Tidak banyak memang, namun perhatian seperti ini selalu membuatnya terharu.
            “Mamaaa… Allune kan malu dikirimin duit terus. Allune kan bukan siapa-siapa.”
            Mama Inggit memegang dagu Allune dan membelai rambut panjang Allune. “Sayang, kamu anak Mama. Kamu senang atau tidak, kamu sudah Mama anggap anak sendiri. Jadi please anggaplah Mama selayaknya Mamamu sendiri.” Allune terharu. Ia langsung memeluk Mama Inggit. Hangat. Ada kehangatan yang memaksa masuk ke dadanya, sebuah perasaan asing yang sangat ia sukai. “Kamu gak mau jalan-jalan dulu di sini sebelum pulang?”
            Allune mendesah pasrah. Sebenarnya ia ingin berada dirumah ini saja lalu kembali pulang ke Jakarta malam nanti. Tapi siapa sih yang bisa menolak Ishani? Jika ia bertanya ‘mau ke PVJ gak ntar sore?’ sungguh itu bukanlah pertanyaan. Karena sekalipun dijawab tidak, toh Ishani akan tetap menyeretnya kesana.
            “Yahh, we’re going to PVJ. Sukurnya deket, kalo diajak ke Lembang mending Allune bunuh diri deh.” Sindir Allune dibarengi Ishani yang kembali tertawa puas. Ishani melirik jam dinding di kamarnya. Jam itu sudah menunjukkan pukul 2 siang tepat. Ia sedikit merapikan riasannya, siapa tau ketemu jodoh disana, batinnya.
            “Yuk cong, biar gak kesorean. Eh bentar, gue panggil si Baby dulu. Dia bisa ngambek kalo Mamanya jalan-jalan tapi gak ajak dia. Babyy!!! Come to Mama, sayang!”Ishani berkeliling mencari anaknya. Syukurnya anjing pintar itu cepat menghampirinya.
            Allune, Ishani dan Wisnu (tidak lupa juga bersama Baby) memasuki Toyota Yariz milik Mama Inggit. Allune tidak terlalu suka jika mobilnya harus dikotori dengan bulu Baby yang suka rontok itu. Mama Inggit melepas kepergian mereka dengan pesan moral yang sungguh konyol,
            “Mama punya pengaman di laci mobil, jangan digunakan kecuali terdesak! Okay? Have fun there!”
            Ishani melambaikan tangan dan menjawab, “easy, Ma! Aku udah pake KB kok!”
            Allune memutar bola matanya, tidak lagi heran dengan lelucon kedua Ibu dan Anak itu. Toyota Yariz yang diberi nama Yara ini melaju pelan meninggalkan kawasan perumahan mewah di Setrasari itu. Paris Van Java, Mall terkenal di kota kembang, Bandung ini berlokasi sangat dekat dari rumah mereka. Namun macetnya jalanan dan susahnya mencari parkir membuat mereka menghabiskan waktu 40 menit hingga bisa berada di dalam Mall.
            “Ada tas baru yang pengen gue beli di outlet Guess, kalian cari tempat buat makan dulu. Nanti gue nyusul! Bye!” Ishani tiba-tiba saja melepaskan diri dari rombongan sesaat setelah mereka berada di depan Caffe Miami Days langganan mereka. Lagi-lagi Allune tidak heran dengan kebiasaan sahabat baiknya itu yang seringkali kalap mata kalau sudah berada di dalam mall mewah begini.
            Allune menggiring Baby dan Wisnu duduk di smoking area Caffe Miami Days agar ia bisa bebas menyalakan rokoknya. Ia memesans seporsi Tenderloin Steak dengan black pepper sauce seperti biasa. Wisnu yang punya hobi makan itu memesan potato wedges, banana ice cream, sirloin steak dan juga ice lemon tea. Bagaimana anak sekecil Wisnu bisa menghabiskan makanan dengan porsi besar itu? Kalian harus liat tubuh gentongnya, itu bahkan muat untuk 3 porsi makanan orang dewasa.
            Allune sedang mengedarkan pandangannya, pria-pria Bandung memang sangat menarik untuk dipandang. Lagipula saat ini ia sedang sendiri, maksudnya tidak sedang terikat status ataupun perasaan dengan siapapun. Dan rasanya menyebalkan sekali, ia menjadi sungguh merasa kesepian. Namun pandangannya terusik saat ia menyadari ada sesosok pria yang sedang mendekatinya. Pria yang saat ini sedang ia hindari. Matanya lurus menatapnya, membuat Allune tidak berkesempatan kabur atau bahkan untuk sekedar pura-pura memalingkan wajah.
            “S-sore…” sapa Allune terbata-bata saat pria itu sudah duduk tepat disampingnya.
            “Hi, Margarita! Kamu punya hutang laundry Jas Armani ya sama saya. Harusnya kamu gak keberatan kalau nanti saya nebeng pulang. Karena besok kita punya schedule terbang bareng.”
            “What?” ekpresi kaget Allune tidak bisa ia sembunyikan lagi. Ia sudah cukup kaget bisa bertemu lagi dengan Captain Arga di Bandung, dan ia mesti dikagetkan dengan kenyataan bahwa Captain Arga merequestnya terbang bersama. 4 hari pula?
            “You’re welcome!” dengan senyum khasnya Arga malah membuat Allune semakin kesal. Sebuah senyum jahil yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun. Sebuah dering telefon menggangu percakapan mereka. Arga berbincang sebentar dengan senyum terkembang di bibirnya, sedetik kemudia ia mematikan telfon dan menatap Allune penuh arti.
            “So, shall we go home? Now.
            Allune makin dibuat terkejut setelah menyadari adanya konspirasi antara Ishani dan pria dihadapannya. Ia rasa hanya Wisnu dan Baby yang tidak tahu apapun disini. Allune berusaha mengelak, ia mencari-cari alasan agar tidak perlu pulang bersama Captain tampan itu.
            “Ishani bentar lagi sampai kok, kamu gak usah khawatir. Dik, ditinggal bentar gapapa kan?” Wisnu dengan patuh mengangguk saat melihat sebatang cokelat Toblerone diletakkan diatas meja.
            “Curang!” dengus Allune pelan. Ia mengecup kening Wisnu dan berpamitan.
            “Bilang sama kak Shani, Kakak gak bakal ngijinin dia main kerumah selama sebulan kedepan! Okay, jangan kemana-mana ya Nu.”
            Dan menit bberikutnya Allune terjebak di dalam Ford Fiestanya bersama Captain tergalak yang sedang menjadi trending topic di Hawk Air. Namun tidak seperti didengungkan, Arga terlihat sangat berbeda. Ia memperlakukan Allune dengan manis- ia bahkan membukakan pintu mobil untuk Allune dan menawarkan diri untuk menyetir yang tentu saja tidak ditolak oleh Allune. Arga sungguh mengingatkannya pada Sean. Sorot matanya, kebiasaan menggosok hidungnya, bahkan wajah tegasnya sangat mirip dengan Sean. Tidak heran saat pertemuan pertama mereka di Skyvenue club membuat Allune merasa seolah ia dipeluk oleh lengan kekar Kakak tirinya itu. Mereka berdua terlihat sangat mirip!
            “Jadi kamu ada urusan apa di Bandung?” Tanya Arga setelah mereka berdiam diri cukup lama.
            “Liburan, Capt. Harusnya sih sampai besok, kalau bukan karena revise sialan ini.” Allune menekankan kalimatnya tepat di kata ‘sialan’.
            “Hahaha, okay. Aku janji bakal bikin penerbangan kita 4 hari ke depan bakal menyenangkan,” Arga terlihat sibuk memilih CD di dashbor mobil, “kamu suka lagu The Beatles ya?”
            Allune termenung. Apakah ia memang menyukai The Beatles?
            “Tidak. Tapi ia menyukainya.” Jari telunjuk Allune mengarah ke sebuah liontin dimana foto dirinya dan Sean dipajang berdampingan. Arga menyipitkan mata, memastikan bahwa pria di foto itu benar bukan dirinya. “Dia Kakakku, Sean. Dia fans beratnya The Beatles, and because I miss him, so I listen to all of their songs. Jujur aja, aku gak terlalu suka sama lagu-lagu mereka. Tapi setiap kali aku setel lagu mereka di mobil, aku ngerasa Kak Sean juga lagi disini dan ikut nyanyi dengan suara sumbangnya itu. Sounds silly, but-
            “No it’s not. It’s sweet actually. Oh ya, aku juga penikmat The Beatles, tapi bukan fans fanatiknya. Aku juga pendengar Savage Garden, The Platters, Elton John dan saudara sejaman mereka. Kamu harus denger lagu-lagu mereka, bagus juga kok. Kadang lagu-lagu The Beatles itu lebih bagus waktu dinyanyiin orang lain.” Arga memberikan sebuah tatapan lembut yang lagi-lagi mengingatkan Allune pada Sean.
            “Stop doing that.” Kata Allune pelan. Ia merasa tenang sekaligus tersiksa dengan tatapan itu. Arga menepikan mobilnya, ia memandang lurus kedua bola mata Allune dan mencium bibir gadis itu. Lembut. Sangat lembut, hingga Allune tak merasa kaget dan tidak kuasa menolak bibir tipis dan basah Arga yang sudah lebih dulu melumatnya.
            “Doing what? This?” Telapak tangan Arga dengan lancang menelusuri buah dada Allune dan dengan gerakan cepat ia berhasil membuka bra wanita dihadapannya. Jenis bra favorit pria dengan mata kancing di bagian depan, sebuah isyarat untuk dibuka secepatnya. Allune mendesah ketika sebuah kehangatan mampir diputingnya yang sudah lebih dulu berdiri meminta lebih. Kenyamanan itu hanya sebentar karena ketika Arga sedang asik mengecup buah dadanya, sebuah dering telfon mengembalikan mereka ke dunia nyata.
            ‘Hey Jude… Don’t be afraid. Sing a sad song and make it better~’
            “Yak hallo… Benar. Okay, thankyou!” Arga mematikan telfonnya dengan kesal. “Yep, thankyou for ruin my day! Scheduling sialan. Jelas-jelas gue yang request schedule ini, kenapa harus dikonfirmasi lagi? Di saat yang tidak tepat pula!” Arga kembali menstater mobil bersiap melajukan mobil. Allune menatapnya lekat-lekat, baru tersadar akan apa yang terjadi beberapa saat lalu. Ia berciuman? Sebuah ciuman yang jauh lebih mengairahkan dibanding pengalaman sex bersama beberapa pria dihidupnya. Namun kenapa ada sedikit perasaan sedih di sudut hatinya? Sebuah pedih yang memaksa airmatanya jatuh.
            ‘Gawat! Swing mood gue kambuh!’ seru Allune dalam hatinya. Ia buru-buru mengobrak-abrik laci mobil, mencari anti-depresant yang bisa meredakan fase depresinya. Percuma, ia sudah menghentikan agenda theraphy bersama Dokter Bambang, obat-obatannya sudah habis dari kapan hari. Ditengah kepanikannya, Arga menggenggam tangan Allune lembut, dan lagi-lagi memberikan tatapan menenangkan yang sebelumnya hanya bisa diberikan oleh Sean.
            “I have a song for you.” Arga memilih lagu di iPodnya dan membiarkan sebuah tembang romantis berkumandang ditengah-tengah mereka.
            “Allune, I’m truly, madly, deeply in love with you.
            Sesuai judul lagu tersebut, Arga menyuarakan isi hatinya. Allune tidak 100% yakin akan jawabannya, tapi toh ia tetap berkata ”me too.”



 -to be continued

Sunday, 23 March 2014

The End Of This Blog

     Dari judulnya, sepertinya gue gak perlu terlalu banyak berbasa-basi. Dan hal tersebut sudah pernah gue sampaikan melalui twitter : gue akan menutup blog ini. No more blog pramugalau. Begitulah intinya. Tapi berhubung gue rada gaptek, maka gue tidak juga bisa menon-aktifkan blog ini. Gue menyerah. Akhirnya keputusan gue berbelok 'hanya' tidak akan menuliskan lagi catatan penerbangan dan keseharian gue di blog ini. Sangat disayangkan memang. Blog ini bahkan belum sempat merayakan ulangtahun pertamanya. Dan juga sangat disayangkan, gue harus kehilangan satu jalan untuk menyalurkan hobi menulis gue ini.
     Gue sedih. Sangat sedih. Blog ini berarti banget buat gue. Blog ini lah yang membuat Maherda merasa gue 'istimewa'. Blog ini memberi gue kesempatan untuk menulis buku (walau masih belum kelar hingga sekarang. Dan blog inilah yang mengenalkan gue kepada sahabat yang baik seperti kalian. :'(
     Tapi bagaimanapun juga, gue sudah memikirkan keputusan ini masak-masak. Jauh lebih matang dari pemikiran gue untuk menikah muda. Ada begitu banyak alasan. Alasan yang mungkin tidak akan kalian mengerti. Alasan yang mungkin akan membuat kalian berpikir 'ah gitu doank' dan pikiran menyepelekan lainnya. Tapi gue sama sekali tidak menyalahkan pikiran itu. Wajar. Kalian tidak merasakannya.Gue yang merasakannya.
     Salah satu alasan dominan adalah privasi gue yang terlalu banyak dihujat orang. Dimana gue punya pemahaman tersendiri tentang hidup gue, tentang rumah tangga gue dan juga keyakinan gue, dan (beberapa) dari kalian tidak menyetujuinya lalu berakhir pada komentar sinis dan pedas yang sangat menyakitkan. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan (ntah lewat twitter, message fb, line ataupunask.fm) tentang privasi gue yang hampir selalu membuat gue mengelus dada. Itu berat. Sekali lagi gue katakan : ketika kehidupan pribadi lo dihujat banyak orang, rasanya berat!
     Alasan kedua adalah (beberapa) dari kalian membuat gue kehilangan esensi dari menjadi blogger. Daripada seorang blogger, gue lebih seperti seorang konsultan atau mungkin semacam motivator. Begitu banyak pertanyaan yang masuk, dan malah terkadang pertanyaannya itu lagi - itu lagi. Gue akhir akhir ini lebih sering menjawab pertanyaan daripada menulis. Dan itu tidak menyenangkan.
     Gue sebenarnya senang berbagi. Gue pernah ada di posisi seorang wannabees. Gue pernah ada di posisi sangat takut gagal, tidak percaya diri dan sebagainya. Jangan ajari gue tentang perasaan itu, gue juga sudah pernah mengalaminya. Tapi percayalah, gue bukan seorang motivator ataupun orang yang menginspirasi. Begitu banyak cerita inspiratif diluar sana, tapi tidak bisa gue gali karena waktu gue habis untuk bekerja, suami, keluarga dan membalas email ataupun message yang masuk. Gue hanya anak kampung, mencoba peruntungan dan ternyata sangat beruntung bisa lolos dalam sekali percobaan. Gue tidak punya pengalaman hebat seperti belasan kali ikut tes, kemudian akhirnya lulus. Percayalah, niat awal gue membuat blog ini hanya untuk menuliskan catatan penerbangan dan juga keseharian gue. Bukan menjadi ajang diskusi tanya jawab dimana kemudian kalian berhak mencampuri urusan pribadi gue.
     Gue menyadari bahwa gue juga punya andil disini. Gue terlalu senang karena punya banyak pembaca yang mencintai blog gue. Gue senang karena tulisan gue diminati. Akhirnya gue berusaha memenuhi permintaan pembaca tanpa mempedulikan fakta bahwa bukan itu yang gue inginkan. So I apologize, deeply in my heart. Gue meminta maaf atas kesalahan gue baik yang disengaja maupun tidak. Gue meminta maaf kalau mungkin isi post blog gue ada yang menyinggung perasaan kalian. Gue minta maaf karena membiarkan kalian mengenal gue terlalu dekat. Gue meminta maaf untuk begitu banyak hal. Satu yang harus diingat, gue akan terus menulis. Mungkin bukan sebagai pramugalau. Mungkin bukan sebagai siapapun. Tapi gue akan selalu menulis.
     Akhir kata : selamat menikmati tulisan terakhir dari seorang pramugalau.

Friday, 14 March 2014

Ceritaku Untuk Ibu

     2 hari lagi menjelang hari pernikahanku di Jakarta. 2 malam terakhir aku memang menangis, mataku hingga bengkak dibuatnya. Namun ada yang berbeda dari malam kemarin. Karena terlalu lelah dengan kucuran air mata yang memaksa terus jatuh, maka aku tertidur dengan linangan air mata. Dalam mimpiku, aku dibawa kepada kenangan 15 tahun lalu, dimana Radinna kecil masih menggunakan seragam merah-putihnya.
     "Pokoknya Ugek mau buku tulis baru, Buk! Ugek gak semangat nyatet pelajaran di kelas kalo buku tulisnya udah 'elek kayak begini!" kata Radinna kecil dengan ketusnya. Bibirnya mengerucut, tanda sebentar lagi tangisnya akan meledak.
     "Ya sabar, Gek. Ibuk gak ada uang. Tahun ajaran baru gak selalu berarti semuanya harus baru. Justru disana hebatnya anak Ibuk kalo bisa terus berprestasi meski tanpa buku baru. Bukumu yang lama kan masih bagus, halaman belakangnya masih banyak yang kosong," dengan sabar Ibuk berusaha menenangkan Radinna kecil. Aku yang melihatnya emosi sekali! Tega-teganya anak itu berteriak dengan Ibuknya hanya karena menginginkan buku tulis baru!
    "Ibuk emang pelit! PELIT!" pekik Radinna kecil. Ia membuka gordyn terlalu kencang hingga copot dari tiangnya. Ia tak peduli. Ia tampak kesal karena keinginannya tidak terpenuhi. Keinginan yang menurutnya mulia, ingin buku baru agar semangat belajar. Tapi sungguh membuat sesak dada Ibuk yang merasa tak mampu membahagiakan anak-anaknya. Dalam mimpi aku melihat Ibuk menangis. Pilu sekali. Tanpa sadar, aku ikut menitikkan air mata. Alangkah durhaka aku saat itu, Buk. Tega-teganya membuat Ibuk menangis seperti itu.
      Aku terbangun dan menyadari bahwa aku tertidur dalam posisi duduk. Aku membenarkan posisi tidurku dan merenung. "Sebegitu besar kasih sayang orangtuaku, dan aku selalu membuat mereka menangis kecewa. Kini saatnya kubuat mereka bahagia. Akan kubuat masa tua mereka bahagia. Mungkin tidak bergelimang harta, tapi cukup untuk tidak meneteskan air mata."
     Itulah ikrarku.
     Satu bulan berlalu. Aku telah dinikahi pria idamanku. Dan masalah itu datang. Emosi, bosan, muak dan kekecewaan membuatku ingin melayangkan surat pengunduran diri. Aku berusaha mencari pekerjaan lain, sembari menunggu tahun ajaran baru. Lowongan pegawai XXI, BlitzMegaplex, Gramedia hingga penyiar radio habis kutelusuri. Tak peduli dengan gaji yang akan kuterima nantinya, yang penting aku minggat dari perusahaan ini. Emosiku tak tertahan lagi, hingga suatu ketika suara Ibuk ditelfon meredamnya.
     "Tolong dipikir lagi keputusanmu, Gek. Maaf kalo Ibuk bergantung padamu. Anak perempuan, sudah pula dinikahi orang. Tapi memang kamu yang Ibuk andalkan. Kamu yang Ibuk banggakan. Maaf kalo Ibuk menaruh beban ini di pundakmu, Gek."
     Aku menangis dan tak mampu berkata-kata. Sudah lama aku tidak mendengar Ibuk menangis. Dan kini beliau menangis karenaku. Sungguh besar dosaku kepada Ibuk. Sungguh telah kukotori surgaku dengan kesedihannya. Maka cepat-cepat kusimpan surat pengunduran diriku dan kukunci di laci ingatanku yang terdalam, agar tak sampai hati lagi aku untuk melakukannya.
     "Ibuk, semua ini kulakukan bukan semata-mata untuk membalas jasa karena pernah menumpang inap 9 bulan di rahimmu. Aku melakukannya untuk tujuan sederhana : membuatmu bahagia."