Sunday, 23 March 2014

The End Of This Blog

     Dari judulnya, sepertinya gue gak perlu terlalu banyak berbasa-basi. Dan hal tersebut sudah pernah gue sampaikan melalui twitter : gue akan menutup blog ini. No more blog pramugalau. Begitulah intinya. Tapi berhubung gue rada gaptek, maka gue tidak juga bisa menon-aktifkan blog ini. Gue menyerah. Akhirnya keputusan gue berbelok 'hanya' tidak akan menuliskan lagi catatan penerbangan dan keseharian gue di blog ini. Sangat disayangkan memang. Blog ini bahkan belum sempat merayakan ulangtahun pertamanya. Dan juga sangat disayangkan, gue harus kehilangan satu jalan untuk menyalurkan hobi menulis gue ini.
     Gue sedih. Sangat sedih. Blog ini berarti banget buat gue. Blog ini lah yang membuat Maherda merasa gue 'istimewa'. Blog ini memberi gue kesempatan untuk menulis buku (walau masih belum kelar hingga sekarang. Dan blog inilah yang mengenalkan gue kepada sahabat yang baik seperti kalian. :'(
     Tapi bagaimanapun juga, gue sudah memikirkan keputusan ini masak-masak. Jauh lebih matang dari pemikiran gue untuk menikah muda. Ada begitu banyak alasan. Alasan yang mungkin tidak akan kalian mengerti. Alasan yang mungkin akan membuat kalian berpikir 'ah gitu doank' dan pikiran menyepelekan lainnya. Tapi gue sama sekali tidak menyalahkan pikiran itu. Wajar. Kalian tidak merasakannya.Gue yang merasakannya.
     Salah satu alasan dominan adalah privasi gue yang terlalu banyak dihujat orang. Dimana gue punya pemahaman tersendiri tentang hidup gue, tentang rumah tangga gue dan juga keyakinan gue, dan (beberapa) dari kalian tidak menyetujuinya lalu berakhir pada komentar sinis dan pedas yang sangat menyakitkan. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan (ntah lewat twitter, message fb, line ataupunask.fm) tentang privasi gue yang hampir selalu membuat gue mengelus dada. Itu berat. Sekali lagi gue katakan : ketika kehidupan pribadi lo dihujat banyak orang, rasanya berat!
     Alasan kedua adalah (beberapa) dari kalian membuat gue kehilangan esensi dari menjadi blogger. Daripada seorang blogger, gue lebih seperti seorang konsultan atau mungkin semacam motivator. Begitu banyak pertanyaan yang masuk, dan malah terkadang pertanyaannya itu lagi - itu lagi. Gue akhir akhir ini lebih sering menjawab pertanyaan daripada menulis. Dan itu tidak menyenangkan.
     Gue sebenarnya senang berbagi. Gue pernah ada di posisi seorang wannabees. Gue pernah ada di posisi sangat takut gagal, tidak percaya diri dan sebagainya. Jangan ajari gue tentang perasaan itu, gue juga sudah pernah mengalaminya. Tapi percayalah, gue bukan seorang motivator ataupun orang yang menginspirasi. Begitu banyak cerita inspiratif diluar sana, tapi tidak bisa gue gali karena waktu gue habis untuk bekerja, suami, keluarga dan membalas email ataupun message yang masuk. Gue hanya anak kampung, mencoba peruntungan dan ternyata sangat beruntung bisa lolos dalam sekali percobaan. Gue tidak punya pengalaman hebat seperti belasan kali ikut tes, kemudian akhirnya lulus. Percayalah, niat awal gue membuat blog ini hanya untuk menuliskan catatan penerbangan dan juga keseharian gue. Bukan menjadi ajang diskusi tanya jawab dimana kemudian kalian berhak mencampuri urusan pribadi gue.
     Gue menyadari bahwa gue juga punya andil disini. Gue terlalu senang karena punya banyak pembaca yang mencintai blog gue. Gue senang karena tulisan gue diminati. Akhirnya gue berusaha memenuhi permintaan pembaca tanpa mempedulikan fakta bahwa bukan itu yang gue inginkan. So I apologize, deeply in my heart. Gue meminta maaf atas kesalahan gue baik yang disengaja maupun tidak. Gue meminta maaf kalau mungkin isi post blog gue ada yang menyinggung perasaan kalian. Gue minta maaf karena membiarkan kalian mengenal gue terlalu dekat. Gue meminta maaf untuk begitu banyak hal. Satu yang harus diingat, gue akan terus menulis. Mungkin bukan sebagai pramugalau. Mungkin bukan sebagai siapapun. Tapi gue akan selalu menulis.
     Akhir kata : selamat menikmati tulisan terakhir dari seorang pramugalau.

Friday, 14 March 2014

Ceritaku Untuk Ibu

     2 hari lagi menjelang hari pernikahanku di Jakarta. 2 malam terakhir aku memang menangis, mataku hingga bengkak dibuatnya. Namun ada yang berbeda dari malam kemarin. Karena terlalu lelah dengan kucuran air mata yang memaksa terus jatuh, maka aku tertidur dengan linangan air mata. Dalam mimpiku, aku dibawa kepada kenangan 15 tahun lalu, dimana Radinna kecil masih menggunakan seragam merah-putihnya.
     "Pokoknya Ugek mau buku tulis baru, Buk! Ugek gak semangat nyatet pelajaran di kelas kalo buku tulisnya udah 'elek kayak begini!" kata Radinna kecil dengan ketusnya. Bibirnya mengerucut, tanda sebentar lagi tangisnya akan meledak.
     "Ya sabar, Gek. Ibuk gak ada uang. Tahun ajaran baru gak selalu berarti semuanya harus baru. Justru disana hebatnya anak Ibuk kalo bisa terus berprestasi meski tanpa buku baru. Bukumu yang lama kan masih bagus, halaman belakangnya masih banyak yang kosong," dengan sabar Ibuk berusaha menenangkan Radinna kecil. Aku yang melihatnya emosi sekali! Tega-teganya anak itu berteriak dengan Ibuknya hanya karena menginginkan buku tulis baru!
    "Ibuk emang pelit! PELIT!" pekik Radinna kecil. Ia membuka gordyn terlalu kencang hingga copot dari tiangnya. Ia tak peduli. Ia tampak kesal karena keinginannya tidak terpenuhi. Keinginan yang menurutnya mulia, ingin buku baru agar semangat belajar. Tapi sungguh membuat sesak dada Ibuk yang merasa tak mampu membahagiakan anak-anaknya. Dalam mimpi aku melihat Ibuk menangis. Pilu sekali. Tanpa sadar, aku ikut menitikkan air mata. Alangkah durhaka aku saat itu, Buk. Tega-teganya membuat Ibuk menangis seperti itu.
      Aku terbangun dan menyadari bahwa aku tertidur dalam posisi duduk. Aku membenarkan posisi tidurku dan merenung. "Sebegitu besar kasih sayang orangtuaku, dan aku selalu membuat mereka menangis kecewa. Kini saatnya kubuat mereka bahagia. Akan kubuat masa tua mereka bahagia. Mungkin tidak bergelimang harta, tapi cukup untuk tidak meneteskan air mata."
     Itulah ikrarku.
     Satu bulan berlalu. Aku telah dinikahi pria idamanku. Dan masalah itu datang. Emosi, bosan, muak dan kekecewaan membuatku ingin melayangkan surat pengunduran diri. Aku berusaha mencari pekerjaan lain, sembari menunggu tahun ajaran baru. Lowongan pegawai XXI, BlitzMegaplex, Gramedia hingga penyiar radio habis kutelusuri. Tak peduli dengan gaji yang akan kuterima nantinya, yang penting aku minggat dari perusahaan ini. Emosiku tak tertahan lagi, hingga suatu ketika suara Ibuk ditelfon meredamnya.
     "Tolong dipikir lagi keputusanmu, Gek. Maaf kalo Ibuk bergantung padamu. Anak perempuan, sudah pula dinikahi orang. Tapi memang kamu yang Ibuk andalkan. Kamu yang Ibuk banggakan. Maaf kalo Ibuk menaruh beban ini di pundakmu, Gek."
     Aku menangis dan tak mampu berkata-kata. Sudah lama aku tidak mendengar Ibuk menangis. Dan kini beliau menangis karenaku. Sungguh besar dosaku kepada Ibuk. Sungguh telah kukotori surgaku dengan kesedihannya. Maka cepat-cepat kusimpan surat pengunduran diriku dan kukunci di laci ingatanku yang terdalam, agar tak sampai hati lagi aku untuk melakukannya.
     "Ibuk, semua ini kulakukan bukan semata-mata untuk membalas jasa karena pernah menumpang inap 9 bulan di rahimmu. Aku melakukannya untuk tujuan sederhana : membuatmu bahagia."

Thursday, 13 March 2014

CAPAS : Kapal dan Bahtera Rumah Tangga

     Saya heran, dengan orang orang yang suka sekali menganalogikan hubungan rumah tangga dengan kapal. Hubungan suami istri disamakan dengan nahkoda. Guys, it was totally DIFFERENT! Rumah tangga ya rumah tangga, gak bisa kita samakan dengan kapal ataupun pesawat jet sekalipun. Saya baru saja menikah, saya sebenarnya tidak pantas memberi kuliah tentang hubungan rumah tangga. Namun tentu saya berhak mengutarakan pendapat saya jika kalian mempergunjingkan masalah rumah tangga saya, ya kan?
     Bagi saya, kapal itu (yang seringkali dianalogikan sebagai bahtera rumah tangga) adalah sebuah perangkat. Rumah tangga berbeda, ia adalah hubungan suci di mata Tuhan (dimana KITA SEMUA percaya Tuhan itu satu, benar?). Kapal itu benda mati yang bisa dilihat, bisa kita raba. Sementara rumah tangga itu kasat mata, kepercayaan kita akan ikatan itulah yang membuatnya berbeda dari sekedar hubungan persahabatan dan berpacaran, tentu selain fakta bahwa kita juga diikat melalui surat-surat alias dokumen pernikahan. Kapal memiliki satu pemimpin, ia juga memiliki satu co-pemimpin. Kalau rumah tangga diibaratkan kapal, bagaimana jika kapal tersebut memiliki 3 crew? 1 pilot dan 2 co-pilot (which is itu sering terjadi)? Apakah itu berarti rumah tangga juga diperbolehkan? Satu pemimpin (suami) dan dua co-pemimpin (istri)? Begitu? Di islam mungkin memang diperbolehkan, tapi dengan syarat yang panjang. Lalu bagaimana dengan pasangan di agama lain dimana agamanya melarang poligami? Disini saya menilai, kapal, pesawat atau apapun tidak layak dianalogikan sama dengan hubungan rumah tangga.
    Kemudian, saya heran dengan pendapat orang-orang yang mengatakan jika dalam satu rumah tangga terdapat dua keyakinan (pada konteks ini kita berbicara agama), maka bisa dipastikan hubungan rumah tangga tersebut akan bermasalah. Apakah mereka cenayang? Apakah mereka bisa membaca masa depan? Apakah mereka punya kantong ajaib Doraemon? Saya tidak tahu. Namun sekali lagi saya katakan, saya baru saja menikah. Benar, usia pernikahan saya baru seumur jagung. Kami baru berpacaran 1.5 tahun dan menikah sebulan. Tapi itu bukan dasar bagi kalian untuk memberi saya cap bahwa kedepannya hubungan rumah tangga kami akan dirusak karena agama.
     Di ajaran agama Hindu, kami sangat percaya dengan hukum karma. Apa yang anda tanam, itu yang anda tuai. Dan itu bersifat personal. Itulah yang hingga saat ini, saya dan suami pahami. Sebagai sosok yang tidak antipati terhadap agama lain, kami tidak terlalu kesulitan menerima perbedaan diantara kami. Ketika dulu dia berpuasa, maka saya menyiapkan sahur dan sebisa mungkin tidak makan ataupun minum dihadapannya. Meski ia berkali kali berkata "Yang puasa itu saya, dan saya tidak sekedar berpuasa. Saya menahan lapar, emosi dan nafsu. Kalau umat lain jadi tersiksa karena merasa harus menghormati saya, berarti puasa saya tidak afdol". Saya tetap berpuasa 'dihadapannya'. Itu adalah tenggang rasa yang saya tunjukkan kepada pacar saya (saat itu kami belum menikah).
     Ketika saya pulang ke Bali dan bersembahyang, ia turut mengantar saya dan ikut masuk ke dalam Pura. "Ini rumah Tuhan juga kan? Berarti Tuhan saya juga pasti ada disini" itulah yang suami katakan setiap kali mengantar saya ke pura. Ketika saya menyantap daging babi kesukaan saya, ia turut mendampingi, meskipun pada awalnya saya merasa sungkan, namun ia selalu berkata "Kan yang makan daging babi kamu. Saya kan cuma menemani. Masa dosa? Kalau tidak, berarti kamu gak usah sungkan". Dan akhirnya kami pun menyatu, saling mendukung dan menghormati agama masing-masing. Itu saya lakukan selama 1.5 tahun bersama, dan syukurnya belum ada perubahan sikap diantara kami sampai sekarang.
     Kita tidak bisa melihat masa depan. Namun kalaupun nantinya perpisahan itu terjadi, saya yakin itu bukan karena agama. Agama hanya cara yang berbeda. Saya ke pura, dia ke masjid. Saya makan babi, dan ia makan sapi. Berbeda bukan berarti tidak bisa berjalan beriringan. Asal kita sudah menanamkan itu, saya rasa agama tidak akan menghalangi hubungan cinta walau dengan azas perbedaan sekalipun. Toh kita memang berbeda. Dari lahir bahkan kita sudah berbeda-beda. Kenapa harus agama yang memisahkan? Saya yakin, itu hanya sisi egoisme yang kita pelihara dimana kita memaksakan pendapat yang sama terhadap orang lain. Keyakinan itu masing-masing, Bung! Bukan bermaksud sok bijak, apalagi menasihati. Saya hanya berpendapat : jangan campuri urusan orang lain, terlebih dengan cara yang tidak sopan. Jangan paksakan keyakinan orang lain, apalagi jika menggunakan kekerasan.
Terima kasih.

Friday, 28 February 2014

CAPAS : Salah Fokus

     Masih berbau soal pernikahan, gue lagi kesel nih, gegara punya adik ipar seorang artis, pernikahan gue jadi rada salah fokus. Maksudnya gimana Makk? Maksudnya gini, gue share foto di instagram, kebanyakan temen-temen pada nanyain adik ipar gue itu. Gue share foto di BBM, pada nanyain dia juga. Yang paling parah nih, di album foto pernikahan dan video pernikahan gue, adik ipar gue itu banyak banget disorot karena kecakepannya yang ngebuat fotografer gue tergila-gila.  Ini salah satu kasus yang terjadi dengan fotografer gue.
     "Lah, Om? Perasaan di album ini banyak foto adik ipar gue dah daripada foto Ibu dan Ibu mertua gue?"
     "Iye nih Din, adik ipar lo cakep sih!"
     Lain lagi dengan temen-temen seangkatan gue model si Atma, Rosi, Mela, Rina dan Dita yang bela-belain dateng ke acara sukuran gue di Jakarta.
    "Eh, Din. Panggilin Mbak Disti donk! Mau foto bareng artis!"
     Oh meeennn! Foto sama gue aja belom, udah pada minta foto bareng adik ipar gue. OMAIGOT!
    Susah banget punya adik ipar cakep, kadang jadi berasa dibanding-bandingin.
     "Ipar lo udah punya dua anak aja bodynya bagus gitu, masa lo udah bergelambir gini sih? Fitnes lagi gih!"
     "Disti mah cocok kulitnya gelap, eksotis jatohnya. Lah elo? Jadi butek!"
     "Kok Maherda mau ya sama elo?"
     Yang terakhir, GUE NYERAH.
    Alhasil, setiap kali ada yang nanyain gue, dengan ngotot gue bilang bahwa adik ipar gue bukan artis, biar gak salah fokus lagi. Hahahaha.
Maherda, Radisti dan Kaira. Udah kaya Ibu-Bapak-Anak aja ya?


CAPAS My ID Line Was Dead Active

     Sudah hampir setahun line menemani gue untuk bisa lebih dekat dengan sahabat dan pembaca blog pramugalau ini. Dan berat banget buat gue untuk menyatakan ini : aktivitas line dengan terpaksa harus gue non-aktifkan.  Sebenernya aplikasi tersebut sudah gue uninstall kurang lebih seminggu yang lalu, tapi gue baru bisa mendeklarasikannya disini. Cailahh... Gaya beet dah gue! Hahaha, but seriously, gue bukannya gak punya alasan untuk melakukan itu.
     Jadi beberapa hari sebelumnya, gue sempat dikejutkan oleh sebuah line yang masuk dari seorang pembaca bernama Kania or Sania (gue lupa). Gak ada tornado gak ada topan, gue langsung membaca kalimat "Sombong banget sih!" dari line tersebut. Gue yang dasarnya perasa itupun langsung gak enak hati. Takutnya dia pernah nyapa di jalan, gue gak liat. Kan harus diluruskan. Karena sejauh ingatan gue, gue itu anak baik baik yang gak sombong, rajin menabung dan sayang banget sama suami. Jelas gue gak ridho kalo dibilang sombong begitu saja. Maka,walaupun gue lagi sibuk ngurus undangan buat acara syukuran gue, akhirnya gue memberanikan diri untuk bertanya.
     "Maaf, saya sombong kenapa ya?"
     "Kakak di line gak pernah balas!"
     Gue shock! Gue berasa tersangka perselingkuhan dimana simpenan yang selama ini gue umpetin dari publik nodong gue karena gak pernah balas line-nya. Gue scroll up line dari Kania or Sania itu, tapi gue tidak membaca ada pesan line masuk sebelum tuduhan sombong ini.
    "Well, mungkin pesannya gak masuk atau ada kesalahan di line saya, tapi saya tidak mendapat pesan sebelum ini loh. Tapi saya minta maaf kalo udah bikin kamu ngerasa saya sombong."
     Akhirnya kasus berakhir dengan damai sih, gue ngeladenin line dia yang masuk dan akhirnya nelantarin undangan gue yang belum gue tulis juga 'kepada siapa'-nya. Beberapa hari setelahnya, gue memutuskan untuk bertapa di gunung Kelud. Gue merasa ini bukan hal sepele, dan sebenernya, dikatain sombong via line bukanlah pertama kalinya.
     Gue mengingat kembali tujuan gue membuat blog ini. Gue saat itu hanya ingin berbagi, ingin tulisan gue di baca, ingin menceritakan sisi lain dari profesi gue yang selalu dikaitkan dengan kegelapan dan glamouritas kota Jakarta. Kemudian, karena banyaknya permintaan gue membuat line. Agar pembaca bisa menghubungi gue via line dan bertanya tanya lebih leluasa. Gue tau perasaan seorang FA wannabees yang dilanda kegelisahan akan gagal tes saat perekrutan dan semacamnya. Maka gue berniat untuk memotivasi mereka semua, menebus kesalahan gue pasca tragedi 'Septi di Padang'. Pas gue pikit-pikir, kenapa gue berasa kaya Mario Teguh ya? Berbicara bijaksana, seolah semua masalah itu mudah dan bisa terselesaikan setelah membaca twit emasnya di twitter. Nope, I'm not a kind of that wise woman! Belum lagi gue harus meninggalkan beberapa aktivitas yang gue gemari seperti ngeblog dan foto narsis karena sibuk balas line dari wannabees. Gue juga kehilangan 'waktu emas' gue bersama suami. Lagi di mobil, gue balasin line. Lagi di mall, gue balasin line. Lagi masak pun gue sembari balasin line!!
     Belum lagi kebanyakan line tersebut isinya sama, gak PD dengan diri sendiri, punya masalah kulit, punya gingsul, punya bekas luka, masalah tinggi badan, berat badan... ah, tolong jangan jadikan gue seorang pramugalau, istri sekaligus dokter kecantikan. I've my own life, lagipula gue bukanlah artis yang seringkali disebut di line "aku ngefans loh sama kakak". Oh my, banyak banget sosok yang bisa menjadi idola kalian. Gue? Gue gak pantes bahkan untuk menjadi inspirasi pun TIDAK! Dengan kalian berkata "kakak tuh inspirasi aku" sama aja kalian ngasih tanggung jawab di pundak gue untuk bisa menjadi contoh yang baik dimana itu akan sangat sulit gue lakukan. Gue bukan FA yang punya tingkat kesabaran setinggi monas loh, gue masih suka godain penumpang yang ngeselin. Gue suka ngetroll penumpang yang menghina gue, gue sering bermasalah dengan senior bahkan chief, ah, intinya gue gak pantes kalian tiru.
     Jadi, sekali lagi gue mohon maaf kalau ID line radinnawikantari sudah tidak valid lagi. Seperti niat awal gue ngeblog, gue akan menulis, dan tulisan tersebut akan gue bagi melalui blog. Gue bukan lah seorang motivator handal, atau seperti beberapa pramugari lainnya yang bersikap lembut dan keibuan. Yang gue tau, hingga saat ini gue masih seorang FA tengil setengah waras yang doyan ngegalau. Wasalam.

CAPAS : My Wedding Post



                Finally! I’m married already! Yah, skejul gue di bulan Februari ini memang padat, persis seperti jalanan Ibu Kota Jakarta di hari Jumat yang suka macet gak gerak. Bersyukur banget, baik acara adat di Bali dan syukuran di Jakarta berlangsung lancar, damai dan sentosa tanpa adanya aksi bunuh diri dari mantan gue ataupun suami gue. Wow, sekarang bilangnya udah suami yee. Masih gak bisa dipercaya, cewek tengil ini nikah juga! Sama pilot ganteng nan baik hati (walaupun menunggangi ford ranger merah, bukannya kuda putih seperti impian gue) bernama Maherda Ekananda. Yipie!!!
                Banyak request yang masuk untuk menceritakan perihal pernikahan gue, tapi gue enggan bercerita terlalu banyak. Gak enak bikin kalian iri. Hihihi… Maka biarlah foto-foto alay gue berbicara. Semoga cukup menggambarkan acara pernikahan dan bulan madu gue. Mohon maaf kalau tidak memuaskan, foto selengkapnya bisa dilihat di instagram : radinnanandakita. Dan wedding video gue bisa dilihatdi youtube dengan kata kunci : Maherda & Radinna atau weding ceremony Maherda & Radinna (yang upload agak salah ketik sepertinya dengan kata 'weding' tersebut). Maaf juga kalau sementara ini video tersebut hanya dapat dilihat melalui PC maupun laptop.
     But anyway, I would say a big thanks for our families, friends and so many others who help us for our wedding! Terutama buat Ibuk-Bapak tercinta yang memberi restu putri kecilnya menikah, Ibu mertuaku yang iklas menitipkan putra semata wayang goleknya kepada gue, buat Kak Prinka (Sepupu iparku yang eksotis) atas wedding gownnya yang cantik puol, buat Mbak Disti yang menyumbangkan make up artistnya, buat Mbok Amik (ipar dari kakak pertama gue) yang nyumbangin kain buat suami gue, Mas Nawal dan Bembi (yang lagi jomblo) buat kursus line-dance dan yoga, daaan masih banyak banget orang-orang yang ngedukung pernikahan kami. THANK YOU SO MUCH!!!!
Check it out!
Flight to Bali with Maherda's family using GA xxx (forgot the flight number).
 
He knows my favourite! Gifts from my uncle.

Balinese bride. Make up by : Bli Dewa Wijana.
Prosesi adat Bali.
We were dancing there.
With families and friends. Thanks for coming!
Wedding album.

Wedding bedroom, gift from Kak Prinka and Mas Riza at hotel The Lovina.
At Tanjung Benoa Bali. Try almost all the kind of watersport.

At Kuta Beach. Try for catching the sunset.

In front of Hard Rock Hotel, alaynisasi.
Feels like song of Beautiful In White was made for me.
My beloved husband.
Bersama Ibuk dan Bapak gue yang kueeeceee abis!
Calon Kakak ipar yang kecantikannya mau nyaingin gue.
Temen bikin film pendek bareng : DANIEL!

Friday, 7 February 2014

Apologize



            Pertama, I should do apologize. Kenapa? Karena postingan gue bakalan sering ngaco nantinya. Gue sedang dalam masa transisi dimana gue berusaha keras merangkai kalimat dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, serius, penuh majas dengan tingkat implisitas yang cukup tinggi. Ya, gue sedang menggarap novel (kali ini benar-benar novel serius) yang mudah-mudahan bakal jadi buku kedua gue (mengingat buku pertama belum brojol sampai sekarang). FYI, sangat sulit bagi gue yang sudah akrab dengan bahasa teatrikal untuk bersahabat dengan naskah komedi yang ringan dan bersifat menghibur. Ketika gue (cukup) berhasil melakukannya, gue tertantang untuk membuat sebuah novel (salah satu kekurangan gue adalah : gue kesulitan menulis novel). Mungkin akan lebih mudah jika gue membuat novel komedi seperti Lontang Lantung karangan Roy Saputra. Tapi gue menantang diri gue untuk membuat sesuatu yang lebih serius. Sebuah novel yang membuat pembacanya mengandalkan daya imajinasi masing-masing dengan plot cerita yang menggantung. Sebuah novel yang berlatar salah satu tradisi di Bali yang masih dipertahankan hingga sekarang. Sebuah novel yang akan mengingatkan gue bahwa gue pernah menjadi penulis naskah teater. Yah, begitulah idenya. Doakan saja.

Sunday, 2 February 2014

Sebuah Awal



            Itu adalah sebuah apartemen mewah, bahkan sangat mewah di kota Jakarta. Pilihan warna untuk wallpapernya pun mencerminkan bahwa sang pemilik unit ingin menonjolkan kesan glamour dirinya.  Bisa dilihat pula dari furniture di dalamnya. TV layar datar keluaran terbaru sedang menampilkan adegan  FTV tentang indahnya romansa anak SMA, sungguh kontras dengan adegan sang pemilik unit dan wanitanya.
            “Aku tidak akan pernah menggugurkannya!” sedetik kemudian suara tangis pecah dari bibir mungil seorang wanita muda berusia 21 tahun. “Aku tidak akan pernah menggugurkannya… Kau harus bertanggung jawab, kita harus segera menikah!” Pria dihadapannya menggeram.
            “Bodoh! Kau bersikap humanis, padahal tau itu akan merugikan kita! Bodoh, tolol!” bentak pria itu kasar. Matanya mendelik tajam, tak tampak sedikitpun cinta disana. “Tak kusangka aku pernah memberi cinta pada gadis setolol kau! Gugurkan, Mirah!”
           “TIDAK! Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah menjadi pembunuh sepertimu!” bentak sang gadis kasar. Perlu keberanian besar bagi gadis itu untuk membentak pria dihadapannya.
            “Hahaha… sudahlah Mirah, jangan pura-pura menjadi Ibu peri didepanku. Aku tau persis dirimu sebenarnya, AKU TAU PERSIS! Aku bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih ini-itu dibanding kau, jadi jangan pernah bermimpi ataupun berharap aku akan mengemis cintamu. Kenyataannya adalah, kau yang mengemis padaku!”
            Mirah terhenyak. Ia sudah mati kutu dan terpojok. Apa yang dikatakan Ali benar. Ia sangat bergantung dengan Ali. Harapannya untuk mengikat Ali dengan keberadaan janinnya yang berusia dua bulan telah pupus. Sebesar apapun usahanya, Ali tidak akan pernah mau menikahinya.
            “Aku yang tak menyangka…” Mirah menggantung kalimatnya. Baru saja Ali ingin menyemburkan berbagai sumpah serapah dan kata-kata kasar, tapi ia dikejutkan dengan kalimat berikutnya. “…aku lebih mencintai seorang pembunuh.” Ali tersenyum lega sementara Mirah memaksakan senyumnya. “Ah, syukurlah. Kau ternyata tidak sebodoh wanita-wanitaku sebelumnya. Besok kuantar kau ke bidan langgananku. Ia sudah pernah menangani gadis-gadis ceroboh sepertimu.”

Wednesday, 29 January 2014

RE-MUVEE : American Hustle



                 
          Gue bisa menemukan begitu banyak bintang besar beradu dalam satu film apik sehingga tidak berlebihan rasanya gue menyebut American Hustle sebagai film dengan deretan pemain paling ekplosif di awal tahun ini. Dan akhirnya, gue punya waktu untuk menontonnya bersama sahabat lama gue, Cyndi Carolina yang sedang berlibur ke Jakarta di XXI Kota Kasablanka 24 Januari silam. Oke, back to reviewing.
                Dengan jaminan sutradara ternama, David O. Russel, pantas saja begitu release, film ini mendapat begitu banyak kritik positif dan mulai menuai berbagai penghargaan dari insan perfilman, salah satunya di ajang Golden Globe untuk kategori Best Musical and Comedy. Gue sejujurnya bukan penggemar berat David O. Russel, tapi gue mengagumi kepiawaiannya dalam mengarahkan pemain dan memberi twis segar dan cerdas di setiap filmnya.  Ia juga mendapatkan keempat jempol gue dalam memilih sendiri pemainnya, dimana film American Hustle ini bisa gue sebut penggabungan kedua film hebat David sebelumnya, yaitu Christian Bale dan Amy Adams di film The Fighter (tahun 2010) dan Bradley Cooper, Jennifer Lawrence dan Robert de Niro di film Silver Linings Books.  Kalian pasti bertanya ‘Robert de Niro? Seriously? Diantara para pemain muda itu?’. Then I’m sorry to say, YES! He still show us his shine even as a cameo. Yes, he DID!!! Ia hanya tampil sedikit di penghujung film sebagai kepala mafia, tapi  ia tetap memukau dan gue selalu berandai-andai memiliki ayah mertua sepertinya. Oh damn!
                Film ini diadaptasi oleh proyek rahasia FBI bernama ABSCAM (Arab Scam) di era akhir 70-an dan awal 80-an. Jangan heran jika menemukan soundtrack bernuansa jadul, karena tata artisti dan latar lagu telah dlih sedemikian apiknya untuk mewaki era tahun di film ini. Sebegitu profesianalnya seorang David O. Russell yang selalu memikirkan hal sekecil apapun di setiap filmya. Tidak hanya dirinya, untuk menunjukkan bahwa ia mampu lebih professional dari film sebelumnya, The Dark Knight, Bale bahkan, menanggalkan badan kekarnya di film ini karena ia berperan sebagai seorang penipu ulung berkedok pengusaha laundry, Irving Rosenfeld. Bale bahkan rela menggemukkan badannya demi cap ‘penghayatan peran’ (and yea, I’m still shock with his distended!). Bale berpartner dengan Amy Adams yang memerankan Sydney Presley, seorang gadis stripper yang kemudian berganti identitas menjadi Lady Edith Greensly. Mereka berdua tidak hanya bekerja sama dalam bidag tipu-menipu, namun juga menjalin romansa penuh nafsu dalam kesehariannya. Sydney berhasil memerankan seorang gadis cerdas, menawan, liar sekaligus penuh cinta hingga menyingkirkan kenyataan bahwa Irving memiliki istri dan tidak akan pernah bisa menceraikan istrinya, Rosalyn Rosenfeld.
                Tidak hanya itu, aksi tipu-tipu Irving dan Sydney ditangkap oleh Richi DiMasoyang diperankan oleh Bradley Cooper, seorang agen FBI yang ambisius dan menyeret mereka ke sebuah kasus jebakan kepada para koruptor dan mafia. And here we go, disinilah kita bisa melihat acting Jeremy Renner sebagai seorang walikota baik hati dan menyayangi rakyatnya, Carmen Polito. Jangan under estimate hanya karena Jeremy tidak menggondol nominasi seperti rekan-rekannya, bukan berarti ia tidak memainkan perannya dengan baik. Dengan jambul khas tahun 70an, ia berhasil menjelma menjadi sosok yang berwibawa, humanis dan menarik. Ia menjadi satu-satunya orang nrmal diantara 4 orang brengsek lainnya di film ini. Bahkan, gue bisa melihat bahwa perannya menjadi salah satu pokok permasalahan disini : dimana seorang pemimpin begitu mencintai rakyatnya, hingga menghalalkan berbagai cara untuk memajukan negerinya. Maybe that was one of their reason to change the title from American Bullshit to American Hustle.
                Bagaimana akhir dari film ini? Sorry, I just do my job to reviewing, not to story telling. Last word I should say, this one is AWESOME!!!