Surat Kedelapan

Surat Kedelapan…

Aku merindukanmu. Dari sekian banyak laki-laki yang kukirimi surat hari ini, kamu adalah sosok yang paling kurindukan. Kau menyembuhkan aku dengan hadir bagai seorang malaikat yang sengaja dikirimkan Tuhan setelah segala kemalangan yang ia limpahkan di hidupku. Mengelus kepalaku setiap kali aku merajuk. Memelukku setiap kali aku menangis dan berkata, ‘akan kukerjai senior gilamu itu! Lihat saja!’. Lalu beberapa hari kemudian kudengar Arimbi sakit. Overdosis obat pencahar. Rupanya kau menukar obat diet miliknya dan isi perutnya terkuras habis selama 3 hari berturut-turut.

Belum pernah ada orang yang melindungiku sebegitunya, bahkan setelah kau tahu penyakitku, kau tetap memperlakukan aku sama. Dan jujur saja, aku sangat menikmatinya.  
Ada satu hari yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Hari itu kita baru saja pulang dari rumah sakit. Tanganku gemetar setelah meremas hasil tes fisik yang memporak-porandakan diriku dalam sekejap. Hasil test yang menjawab kenapa tubuhku melemah beberapa tahun belakangan. 
Gerimis hujan menambah sendu di hari itu. Kau melirikku beberapa kali sebelum akhirnya menarik tanganku untuk kau ciumi. Kau berkata, ‘ini bukan akhir segalanya. Kita masih bisa melanjutkan hidup dan jalani seolah hari ini tak pernah ada.’
‘Kau tak perlu berbasa-basi, Arga. Jika kau ingin pergi, sekarang saat yang tepat!’ kataku gusar.
Namun kau semakin mempererat genggamanmu dan dengan nada lembutmu yang biasa, kau menenangkanku. ‘Aku tidak akan pergi, meski kau usir aku sekalipun. Aku sudah membayar sewa seumur hidup untuk menempati hatimu. Jadi seberapapun kerasnya kau ingin pergi, aku tak akan pernah lari. Percayalah, aku tipe laki-laki yang tidak gampang menjual janji. Tapi sekali mengucapkannya, aku tak akan berhenti hingga bisa memberi bukti.’
Mendengar janjimu, aku merona. Aku merasa punya secercah harapan karena aku percaya, ada kau sebagai tempatku bersandar. 
Tapi kondisiku memburuk. Aku tidak lagi sanggup untuk bekerja dan harus terbaring di rumah sakit. Aku bersumpah, saat itu aku ingin sekali bersikap egois dan menahanmu selama mungkin di sisiku. Namun setiap kali melihat kau menyuapiku dengan matamu yang berbinar bahagia, aku tersadar : kau harus tetap begitu. Dan kau tidak akan bisa terus berbahagia jika larut semakin dalam di hidupku. Dalam masalahku. 
Kuputuskan untuk memanggil ayah tiriku dan pindah ke Bandung. Pergi darimu, dengan harapan kau bisa melanjutkan hidupmu tanpaku lagi sebagai beban yang terpaksa kau tanggung. Meski ternyata keputusan itu menghilangkan semangatku untuk hidup. Tapi aku tidak masalah, sama sekali tidak mempermasalahkannya. Membayangkan kau bisa melanjutkan jalanmu, memulai usaha kedai kopi seperti yang kau cita-citakan, menikah dan memiliki begitu banyak anak seperti yang pernah kau tawarkan, semua gambaran itu membuatku bahagia hingga rela menutup mata saat itu juga. 
Arga… Aku sadar aku tidak akan bisa mengusirmu, dan aku percaya kau terlalu baik untuk meninggalkan aku lebih dulu. Namun aku ingin kau bahagia. Dengan surat ini, aku hanya ingin memberitahumu bahwa kau sudah membuktikan janjimu. Kau tidak pernah meninggalkanku. Itu saja cukup.
Cheers! Semoga jika reinkarnasi sungguh benar ada, kita berdua bisa dipertemukan kembali untuk hidup bersama.


Comments