Surat Ketujuh

Saat aku menulis surat ini, aku sungguh ragu apakah aku boleh mengirimnya padamu atau tidak. Aku tau kau pasti membenciku, tidak diragukan lagi. Tapi aku merasa aku harus menjelaskan banyak hal padamu. Aku berhutang itu.
Kamu adalah laki-laki yang baik, Ben. Aku tidak mengatakan ini hanya untuk menyenangkanmu saja, karena kenyataannya kamu memang sebaik yang aku dan kebanyakan orang lain bicarakan.

Kamu tidak sempurna, tentu saja. Aku bisa menerima jika kamu sering lupa dengan janji untuk menjemputku sepulang kerja. Aku juga masih bisa menerima suara gigimu yang beradu setiap kali kamu tidur. Hanya satu hal yang tidak bisa kuterima darimu : kau tidak mencintaiku apa adanya.
Kau hanya mengenalku melalui gambaran yang kau reka-reka sendiri. Kau tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan diriku yang sesungguhnya. Selama dua bulan semuanya hanya berpusat padamu dan ceritamu. Kau mengarahkan aku untuk menjadi wanita yang kau idamkan. Dan tidak sekalipun kau ingin mengenal diriku yang sesungguhnya sangat bersebrangan.
‘Aku senang sekali rambutmu tergerai seperti ini. Tipe wanita idealku memang yang berambut panjang, sedikit ikal di rambut bagian bawah.’ katamu setelah mengajakku ke salon dan mendikte hair stylist untuk menata rambutku sesuai keinginanmu. 
‘Kau terlihat lebih cantik dengan softlens. Kacamata membuatmu seperti kutu buku. Percayalah!’ katamu sembari menyodorkan sepasang softlens berdiameter besar yang sesungguhnya tidak nyaman kugunakan.
‘Celana itu lebih cocok untuk laki-laki. Kecantikanmu lebih terlihat saat kau menggunakan dress.’ katamu setelah melihatku keluar dari ruang ganti, mengenakan dress ketat selutut, dengan potongan leher rendah yang memamerkan belahan dadaku. Jenis pakaian yang tidak pernah dan sesungguhnya tidak ingin aku pakai seumur hidupku.

Kau menghujaniku dengan begitu banyak pujian dan hadiah yang sesungguhnya tidak aku butuhkan. Karena semua itu membebaniku, Ben. Membuatku harus menyesuaikan diri menjadi Nava versi yang kau inginkan.  

Comments