REPLIKA

     Ini adalah karya tulis gue dari jaman jebot. Cuma sekedar sharing, gimana tulisan gue kalo bikin yang lebih serius. Bukan sekedar tulisan haha-hihi seperti yang biasa gue post di blog. Here we go....


(Panggung menampilkan siluet sesosok tubuh yang bertangan 3 pasang dan berkepala 3 yang berada dalam satu garis lurus. Tangan itu menari-nari, menggambarkan beberapa keinginan yang ingin diraih. Kepala itu menari-nari, menggambarkan begitu banyak pemikiran yang membebani. Musik menghentak, kemudian lampu seketika padam. Ketika lampu menyala, seorang gadis menyeruak dari dalam siluet yang terbuat dari kertas minyak itu. Merobeknya dengan beringas dan berjalan menuju ke tengah panggung yang di setting seperti di ruang tamu dengan empat kursi dan satu meja.)
Gadis  : “Arrghh!!! (menjambak rambutnya sendiri) Lama-lama aku bisa bunuh diri kalau seperti ini! (duduk di kursi dan menghadap ke arah  penonton)
“Ayahku bilang, ‘nak, kau harus menjadi seorang presiden! Memperbaiki pemerintahan negeri kita yang sudah bobrok!’. Hah? Ayahku itu gila atau sinting? Bagaimana mungkin aku menjadi presiden? Bagaimana mungkin aku memperbaiki sistem kepemerintahan Negara? Lha, wong memperbaiki nilai raport saja aku tak bisa! (tertawa miris)
“Kemudian, Ibuku juga bilang, ‘nak, kau harus menjadi seorang pengacara! Menegakkan hukum negeri kita yang sudah loyo!’. Waduh?! Ibuku ini sarap atau edan? Bagaimana mungkin aku menjadi seorang pengacara? Bagaimana mungkin aku menegakkan hukum yang memang sudah lemah sedari dulu? Lha, wong menegakkan badan saat upacara bendera saja aku tak bisa! (tertawa ngakak)
“Hidupku telah diatur sedemikian rupa, meniru persis apapun keinginan mereka. Mulai dari makanan, hobi, warna favorit, gaya rambut, sampai temanpun mereka pilihkan. Sampai-sampai aku tak kenal, siapa aku sebenarnya. (terdiam sejenak)
“Iya, ya? Sebenarnya siapa aku ini? Ida Ayu Asriani? Ah, itu kan hanya nama. Nyatanya, aku bukanlah aku yang seharusnya. Nyatanya, aku hanyalah tiruan dari apa yang mereka harapkan saja. Aku... Aku hanyalah replika dari apa yang mereka inginkan.
“Aku sangat suka menggambar, tapi setiap kali jemariku ketahuan menyentuh kanvas, Ayah datang merobek kanvas itu menjadi dua bagian dan berteriak, ‘mau jadi apa kau dengan kanvas ini?’. Ingin sekali aku menjawab, ‘tentu saja menjadi pelukis, Yah...'
Namun nyatanya? Aku hanya menggeleng lemah.
“Aku sangat suka menulis, tapi setiap kali jemariku ketahuan menggenggam pena, Ibuku datang mematahkan penaku dan berteriak, ‘mau jadi apa kau dengan pena ini?’. Ingin sekali kujawab, ‘tentu saja menjadi penulis, Bu....'
Namun nyatanya? Aku tetap menggeleng lemah.
 “Aku sudah berusaha. Tapi apa daya? Terlalu banyak cita-cita yang harus kuraih. Terlalu banyak pikiran yang membebaniku. Sehingga pada akhirnya, tak satupun dari keinginan mereka bisa kuwujudkan. (terdiam sejenak) Tunggu… Mereka?”
(Lampu perlahan temaram. Sepasang suami istri memasuki panggung. Gadis tetap duduk di tempatnya tanpa bergerak.)
Ayah   : “Lihat itu, anak perempuanmu itu! Besok mau ujian, bukannya belajar, eh, malah kelayapan, sampai sekarang belum pulang!”
Ibu      : (menuang teh ke cangkir) “Mungkin sedang belajar kelompok, Yah.”
Ayah   : “Belajar kelompok? Untuk apa? Kan buang-buang waktu! Nanti kalau temannya jadi lebih pintar bagaimana? Wah, itu anak harus diberitahu kalau sudah pulang. Kan lebih baik belajar mandiri saja, toh?”
Ibu      : “Putri kita itu kan tidak bodoh, mana mungkin ia mau membagi ilmunya dengan orang lain? Merugikan diri sendiri itu namanya.”
Ayah   : “Semoga saja begitu. Semoga saja dia pintar seperti ayahnya ini.”
Ibu      : (merenggut)
(Seseorang tiba-tiba datang dengan tergesa-gesa masuk ke panggung)
Warga : “Pak RT! Gawat Pak RT!”
Ayah   : “Kenapa kamu, Kus? Ndak usah gawat begitu.”
Warga : “Aduh, Pak RT, tapi ini beneran gawat! Dayu, Pak.”
Ibu      : “Dayu? Kenapa Dayu?”
Warga : “Dayu-“
(Lampu padam. Lampu dari siluet kain menyala. Gadis berdiri dan berjalan ke arah siluet kain dan terlihatlah bayangannya yang bersayap. Ia meraba lengannya, dan yang telihat di siluet adalah bayangan yang sedang meraba sayap.)
Gadis   : “Ternyata semua sudah terlambat.”
(hening beberapa saat. Gadis melihat kearah penonton)
Gadis : "Aku bahkan sudah terlalu terlambat untuk sebuah kesadaran...”

REPLIKA
Oleh : Radinna Wikantari

*buat yg mau comment , silahkan comment . menerima segala kritik , kritik tempe, kritik manis , kritik pedas - manis , kritik singkong.
Hahay*

Komentar

skullplayer mengatakan…
kritik itu buat yg udh mau meninggal ya?
Radinna Nandakita mengatakan…
bukan gtu sih.. waktu itu terinspirasi kasus mahasiswa yg lg belajar disingapore tp berujung bunuh diri krna stres + ditambah lg dimasa itu byk bgt tuntutan org tua gw ang mw gw jd ini lah, jd itu lah.. ini sbnernya kritik buat orgtua dan anak yg ga berani berontak. takutnya setelah mrka sadar bhwa mrka ga mampu + ga suka dgn pilihan orgtuanya, hal itu malah udh sgt terlambat, bahkan untuk sbua kesadaran sxpun

Postingan Populer