Gue Bangga Jadi Temen Lo, Lia...
Gue punya temen. Dia salah satu inspirasi gue. Baiklah, dalam beberapa hal mungkin dia gak patut ditiru, tapi gue sangat kagum dengan pengabdiannya kepada keluarga. Dan gue sangat suka semangatnya itu, walaupun mungkin ia pernah memakai 'jalur yang salah', tapi ia juga punya banyak kebaikan yang gue percaya, Tuhan (atau mahluk apapun itu, yang sudah menciptakan kita semua) pasti akan membalasnya.
Panggil saja Lia, dia adalah seorang rekan kerja yang cukup dekat dengan gue di maskapai ini. Semasa training, gue tau bahwa ia adalah seorang wanita simpanan. Pacarnya yang nun jauh di Surabaya itu adalah pria paruh baya yang sudah beranak-istri. Ia tidak menutupi hal itu dari gue, padahal menurut gue, itu adalah sebuah aib. Wanita simpanan?
"Gue butuh duit, Din. Dan duit gak jatuh dari langit. Mungkin cara gue salah. Tapi gue bersedia menanggung konsekuensinya nanti. Apapun itu," jawabnya setiap kali gue tanya kenapa ia mau menjadi simpanan. Saat itu dia gak pernah bercerita kemana larinya uang-uang yang diberikan oleh Om Surabayanya itu. Setahun setelah jaman training, gue baru tau kisah mengharukan ini.
Saat itu gue berangkat reserve bareng Lia. Gue mendengar gosip-gosip bahwa ia dekat dengan salah seorang Captain di maskapai yang sama. Gue bermaksud mengkonfirmasi berita itu.
"Bener kok, Din. Dia bisa ngasi gue schedule kemanapun gue mau. Dia bisa ngasi gue jam terbang yang banyak. Gue perlu banyak tambahan duit, Din."
Dan gue dengan sok tahunya malah mengguruinya bahwa itu adalah perbuatan yang salah. Gue dengan kejamnya menyindir Lia perempuan gak bener. Karena apa? Karena gue takut. Gue takut ada Lia-Lia lainnya yang nanti akan menggoda suami gue (amin, maksud gue amin jadi suami, bukan amin digodainnya).
"Seandainya gue lahir di keluarga yang kaya raya, atau paling engga, gue gak terlahir sebagai tulang punggung keluarga, gue juga gak mau ngejalanin hidup sebagai Lia yang lo kenal, Din. Lo kira enak ngangkang di depan Kakek-bau-tanah macam mereka? Masalahnya gue punya adik-adik yang masih sekolah. Ibu gue gak kerja. Bapak gue? Ah, gak usah lah mengharapkan dia. Lo gak tau seberapa melarat hidup gue di Surabaya sana. Mereka gak tau. Orang-orang cuma bisa menghujat karena mereka sombong, merasa hidupnya nyaman, merasa tidak kekurangan. Nah, gue? Seandainya mereka ada di posisi gue, apa mereka bisa bertahan dan lebih tegar dari gue? Lo tau, di setiap doa gue, gue selalu berharap Allah memberikan gue sedikit bantuan. Tapi mungkin gue udah terlalu kotor, sehingga doa gue gak pernah mau didenger."
Gue ngerasa ditampar saat itu juga. Astaga, temen macam apa gue? I mean, gue harusnya ngasi support atau bantuan, atau apapun, yang jelas bukannya sindiran dan hujatan yang malah makin menjatuhkan. Gue tentu tidak membenarkan perbuatan Lia, tapi gue berusaha lebih membuka hati. Itu adalah jalan yang ia pilih. Demi keluarga yang disayanginya. Dan gue bangga memiliki teman setegar dia. Gue bangga jadi temen lo, Lia.
Panggil saja Lia, dia adalah seorang rekan kerja yang cukup dekat dengan gue di maskapai ini. Semasa training, gue tau bahwa ia adalah seorang wanita simpanan. Pacarnya yang nun jauh di Surabaya itu adalah pria paruh baya yang sudah beranak-istri. Ia tidak menutupi hal itu dari gue, padahal menurut gue, itu adalah sebuah aib. Wanita simpanan?
"Gue butuh duit, Din. Dan duit gak jatuh dari langit. Mungkin cara gue salah. Tapi gue bersedia menanggung konsekuensinya nanti. Apapun itu," jawabnya setiap kali gue tanya kenapa ia mau menjadi simpanan. Saat itu dia gak pernah bercerita kemana larinya uang-uang yang diberikan oleh Om Surabayanya itu. Setahun setelah jaman training, gue baru tau kisah mengharukan ini.
Saat itu gue berangkat reserve bareng Lia. Gue mendengar gosip-gosip bahwa ia dekat dengan salah seorang Captain di maskapai yang sama. Gue bermaksud mengkonfirmasi berita itu.
"Bener kok, Din. Dia bisa ngasi gue schedule kemanapun gue mau. Dia bisa ngasi gue jam terbang yang banyak. Gue perlu banyak tambahan duit, Din."
Dan gue dengan sok tahunya malah mengguruinya bahwa itu adalah perbuatan yang salah. Gue dengan kejamnya menyindir Lia perempuan gak bener. Karena apa? Karena gue takut. Gue takut ada Lia-Lia lainnya yang nanti akan menggoda suami gue (amin, maksud gue amin jadi suami, bukan amin digodainnya).
"Seandainya gue lahir di keluarga yang kaya raya, atau paling engga, gue gak terlahir sebagai tulang punggung keluarga, gue juga gak mau ngejalanin hidup sebagai Lia yang lo kenal, Din. Lo kira enak ngangkang di depan Kakek-bau-tanah macam mereka? Masalahnya gue punya adik-adik yang masih sekolah. Ibu gue gak kerja. Bapak gue? Ah, gak usah lah mengharapkan dia. Lo gak tau seberapa melarat hidup gue di Surabaya sana. Mereka gak tau. Orang-orang cuma bisa menghujat karena mereka sombong, merasa hidupnya nyaman, merasa tidak kekurangan. Nah, gue? Seandainya mereka ada di posisi gue, apa mereka bisa bertahan dan lebih tegar dari gue? Lo tau, di setiap doa gue, gue selalu berharap Allah memberikan gue sedikit bantuan. Tapi mungkin gue udah terlalu kotor, sehingga doa gue gak pernah mau didenger."
Gue ngerasa ditampar saat itu juga. Astaga, temen macam apa gue? I mean, gue harusnya ngasi support atau bantuan, atau apapun, yang jelas bukannya sindiran dan hujatan yang malah makin menjatuhkan. Gue tentu tidak membenarkan perbuatan Lia, tapi gue berusaha lebih membuka hati. Itu adalah jalan yang ia pilih. Demi keluarga yang disayanginya. Dan gue bangga memiliki teman setegar dia. Gue bangga jadi temen lo, Lia.
Komentar
"Lo tau, di setiap doa gue, gue selalu berharap Allah memberikan gue sedikit bantuan. Tapi mungkin gue udah terlalu kotor, sehingga doa gue gak pernah mau didenger."
Allah gk melihat lia kotor, dan Allah selalu mendengar doa lia. Allah pasti telah membuat suatu jalan dengan akhir yang indah buat lia nanti, tetep berdoa terus menunggu rencana Allah yg indah itu.
keep smile for FA Lia ^^